Titian Kemandirian

810

Oleh: Aji Prastiono, Teknik Mesin Undip 2005

Saya tidak akan pernah lupa momen itu. Ya, pada suatu siang tahun 2005, saya tiba di Semarang seorang diri. Kampus Universitas Diponegoro (Undip) adalah tujuanku. Saya hendak melakukan daftar ulang calon mahasiswa kampus bergengsi di Semarang itu. Alhamdulillah, beberapa bulan sebelumnya saya lolos Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) jurusan Teknik Mesin, Undip.

Saya sangat bersyukur. Bagaimana tidak, apa yang saya cita-citakan dulu terwujud: kuliah di Teknik Mesin. Alasan saya untuk bercita-cita kuliah di teknik mesin sebenarnya sederhana. Anak paman di kampung adalah lulusan di Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah sepupu saya itu bekerja, ia mapan dan bisa membahagiakan orang tua. Itu memecut saya untuk bisa melakukan hal yang serupa dengan kuliah di Teknik Mesin.

Cita-cita itu menggebu sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya bertekad untuk memperbaiki derajat keluarga. Meskipun saya berasal dari keluarga petani, bapak dan ibu petani, tetapi saya tidak miskin cita-cita. Saya rawat impian itu hingga akhirnya terwujud.

Saya memang termasuk orang yang ngeyel. Saya berusaha sebisa mungkin untuk mewujudkan mimpi untuk kuliah, meskipun orang tua tidak bisa membiayai. Orang tua bahkan terang-terangan bilang bahwa mereka tidak mampu untuk membiayai saya kuliah. Hal ini lantaran harta orang tua berupa sawah telah dijual untuk membiayai kakak pertama kuliah, sehingga saya yang anak ketiga dari lima bersaudara ini tidak kebagiaan.

Tidak ada lagi harta tersisa. Namun, saya tidak berkecil hati. Saya tetap mencari jalan. Bersyukur, bibiku berbaik hati meminjamkan uang sebesar Rp 3,5 juta untuk biaya awal masuk. Biaya untuk mengamankan agar saya resmi menjadi mahasiswa Teknik Mesin Undip. Setelah itu, saya berusaha untuk mencari beasiswa sebagaimana saat saya duduk di bangku SMA, sehingga tidak membebani orang tua.

Dengan berbekal uang pinjaman dari bibi itulah saya berangkat ke Undip seorang diri. Hanya tas gendong lah yang menemani saya. Tas tersebut selain berisi uang, juga semua dokumen yang menjadi persyaratan daftar ulang. Tapi beberapa saat sebelum tiba di lokasi pendaftaran, kejadian luar biasa menimpa, tas beserta semua dokumen persyaratan yang ada di dalamnya raib.

Saat hendak ke bagian administrasi, panggilan salat zuhur tiba. Saya mendatangi masjid di sekitar kampus, untuk melaksanakan kewajiban. Karena saat itu masjid penuh, diisi calon pendaftar ulang yang lain, saya menempati saf terakhir. Tas pun saya simpan di belakang. Inilah barangkali keteledoran saya. Selesai salat, tas pun lenyap entah ke mana. Yang tersisa hanya pakaian yang menemel di badan dan uang Rp 20 ribu untuk ongkos.

Siapa tidak panik bila tas yang berisi uang untuk mendaftar ulang dan seluruh dokumen persyaratan untuk masuk kuliah hilang? Sebagai seoarang manusia, rasa panik pasti ada. Meskipun begitu, saya mencoba untuk tidak terlalu reaktif. Saya mendingingkan kepala dan mencoba berpikir positif.

Saya mendatangi bagian informasi untuk melaporkan apa yang telah terjadi. Ternyata saya tidak sendiri. Ada banyak calon mahasiswa Undip yang akan melakukan daftar ulang kehilangan barang-barangnya. Akhirnya, saya diarahkan ke bagian administrasi. Yang saya pentingkan waktu itu adalah apakah saya masih bisa masuk Undip. Itu saja yang ingin saya tanyakan dan perjuangkan. Secara bukti dokumen, tidak ada yang dapat menunjukkan bahwa saya adalah calon mahasiswa Undip. Alhamdulillah, pihak Undip menyatakan saya masih bisa masuk dan akan membantu administrasinya setelah mendapat penjelasan dari saya. Saya mendapat kompensasi.

Tas Hilang, Terbitlah Etos

Cara Allah sayang kepada hamba-Nya memang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Hal yang pahit sekalipun di mata kita, bisa jadi adalah hal termanis untuk kita. Begitupun dengan pengalaman saya saat hendak mendaftar ulang ke Undip. Cara Allah sayang kepada saya adalah dengan membuat tas saya dicuri orang.

Kondisi saya yang kehilangan barang berharga diketahui oleh rekan-rekan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip. Mereka adalah bagian advokasi yang bertugas membantu calon adik-adiknya di kampus agar tidak mengalami kesulitan. Kepada mereka saya menceritakan apa yang baru saja saya alami.

Selain itu, saya pun bercerita bahwa saya tengah mencari beasiswa di kampus karena kondisi ekonomi orang tua yang tidak mendukung. Dari sanalah saya mendapatkan informasi mengenai Beastudi Etos Dompet Dhuafa. Saya disarankan untuk ikut seleksi, karena selain mendapat beasiswa kami juga mendapat program pembinaan.

Saya segera menggali segala informasi berkenaan dengan Beastudi Etos. Dengan melihat syarat-syaratnya, saya merasa yakin bisa terpilih. Saya mengirim syarat-syarat administarif untuk mengikuti seleksi. Sebenarnya, saya termasuk teat mendaftar Etos. Namun, lagi-lagi beruntung, saya masih diberi kesempatan.

Konsekuensinya, setelah lolos selekasi administrasi saya harus mengunjungi pewawancara (koordinator Etos Semarang) langsung ke rumahnya untuk wawancara. Saya harus melawati jalanan sepi tepi hutan, berjalan kaki di siang hari yang panas menyengat. Alhamdulillah dengan segala perjuangan yang kulalui, saya lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa dari Etos. Kehilangan tas ada hikmahnya, Allah mengabulkan doa saya waktu SMA, yakni kuliah tanpa membebani orang tua.

Masa Pembentukan Karakter

Menjadi Etoser (penerima beasiswa Etos) selama kurang lebih 3 tahun adalah masa-masa yang luar biasa. Saya mendapatkan banyak pelajaran dan nilai-nilai yang menjadi bekal dalam menjalani hidup pascakampus. Paling tidak, ada tiga pelajaran hidup saya dapatkan selama masa pembinaan di asrama Etos, yakni prestasi, kepemimpinan, dan entrepreneurship.

Tahun pertama menjadi penghuni asrama Etos kami diarahkan untuk mendapatkan prestasi yang baik dalam bidang akademik. Bagaimanapun, kami adalah orang-orang terpilih. Kami dibiayai dari dana zakat ummat yang diamanahkan kepada Dompet Dhuafa. Kami harus dapat membuktikan bahwa kami bukan orang yang tidak salah dipilih. Salah satu indikator yang utama adalah dengan memberikan hasil terbaik pada bidang akademik kami. Nilai akademik kami di tahun pertama ini menjadi sorotan utama.

Berbagai pengayaan diadakan guna mewujudkan prestasi akademik. Kami pun sering diajak bertemu dengan dosen, mahasiswa prestatif, tokoh-tokoh lainnya untuk mendapatkan motivasi. Pembimbing asrama kami tak bosan memotivasi untuk berprestasi sebagai wujud syukur kami menjadi penerima beasiswa Etos. Syukur tidak sebatas mengucapkan kata “Alhamdulillah”, lebih dari itu diiringi dengan memaksimalkan potensi dan amanah yang telah diberikan.

Masuk tahun kedua di Etos adalah masuk masa-masa aktualisasi diri dan kepemimpinan. Setelah urusan nilai akademik sudah selesai dan tidak ada masalah dengan itu, maka aktualisasi diri adalah fokus masa pembinaan di tahun kedua. Dan memang, selain hard skill, soft skill juga harus diasah. Bahkan, soft skill dinilai lebih memiliki poin lebih dibanding hard skill. Dengan soft skill, kami bisa belajar banyak hal yang tidak bisa didapat dengan hanya kuliah semata. Kami bisa belajar tentang kepemimpinan, kerja sama, toleransi, tanggung jawab, empati. Aktif di berbagai aktivitas nonakademik di kampus adalah salah satu perwujudannya.

Saya pun tergolong aktif di berbagai lembaga baik intra maupun ekstra kampus. Saya tercatat aktif di lembaga Rohani Islam (Rohis) Jurusan Teknik Mesin. Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Bada Eksekutif Mahasiswa Fakultas juga tidak luput untuk menjadi wadah aktualisasi diri.

Tahun terakhir di asrama Etos adalah masa untuk kami menjadi seorang yang mandiri. Kami tidak boleh pasif dengan hanya menerima beasiswa semata. Kemandirian harus bisa kami laksanakan, bahkan sejak masih kuliah. Tidak heran bila tahun ketiga bahasan utama di asrama Etos adalah soal entrepreneurship. Bahasan kewirausahaan ini merupakan bahasan yang dekat dengan pribadi saya karena sejak kecil sudah terbiasa dengan berdagang.

Untuk mewujudkan semangat kewirausahaan tersebut, saya berdagang buku. Alhamdulillah meski kecil-kecilan, tetapi penghasilan dari berdagang buku ini dapat membantu. Sebagaimana umumnya mahasiswa lain dalam mencari tambahan rezeki, membuka jasa les privat saya lakoni. Bahkan, saya membuka sendiri usaha bimbingan belajar sendiri.

Kami para Etoser sadar betul. Etos merupakan sebuah jembatan untuk meniti kemandirian. Ya, kami yang merupakan anak dhuafa. Etos menjadi sebuah jembatan bagi kami untuk menuju jalan kesuksesan dan kemandirian. Etos membimbing kami agar keluar dari status mustahik (penerima zakat) menuju muzaki (pemberi zakat). Inilah yang menjadi semangat kami untuk memberikan yang terbaik dalam masa-masa pembentukan karakter ini untuk menjadi bekal di masa mendatang. Nilai-nilai yang saya dapat selama masa pembinaan Etos amat membekas sebagai karakter diri.

Dream Come True

Nikmat yang manakah yang hendak saya dustakan? Kini, mimpi itu terwujud. Bila dulu saya melihat sepupu lulusan Teknik Mesin pulang ke kampung, orang tuanya begitu senang dan bangga anaknya telah mapan. Ia bahkan bisa membantu membiayai orang tua. Alhamdulillah, hal tersebut kini saya alami dan rasakan. Dream come true.

Saya kini bekerja di PT. Showa Indonesia Mfg, sebuah perusahaan yang merupakan bagian dari ASTRA Company. Di perusahaan yang berkantor pusat bisnis Cikarang tersebut, saya bekerja sebagai engineer/ supervisor in Process Engineering Departement.

Pertama kali masuk PT. Showa pada tahun 2010 saya ditempatkan di Human Resource Development (HRD). Di HRD saya fokus menangani pelatihan (training), tetapi lebih ke ranah teknik. Sebelum saya masuk, Showa memang sering melakukan training karena basic-nya perusahaan adalah mengembangkan karyawan dari nol supaya menjadi pemimpin. Saya direkrut untuk mengembangkan training center. Dari mulai materinya, fasilitasnya, semuanya. Saya memang masuk HRD, tetapi secara job, lebih ke engineering, sesuai dengan pendidikan.

Setelah berkecimpung di HRD selama 1,5 tahun, saya pun ditarik ke bagian utama pekerjaan di perusahaan tersebut, yakni engineering. Kerjaan saya melingkupi modif mesin, process, new model, dan sebagainya.

Alhamdulillah di perusahaan saya ini lingkungan amat mendukung. Para petingginya juga tergolong religius. Saat saya wawancara kerja, perusahaan bahkan meminta saya untuk mengurus Dewan Kemakmuran Masjd (DKM) di masjid perusahaan. Hal ini karena mereka melihat riwayat aktivitas saya waktu di Semarang mengurus masjid. Jadi, seluruh aktivitas keagamaan di perusahaan saya yang tangani. Perusahaan pun amat mendukung aktivitas keagamaan ini. Dana yang dialokasikan pun tidak sedikit, Rp 100 juta lebih per tahun.

Jalan masih panjang. Di usia yang masih muda ini, masih banyak mimpi yang harus saya kejar dan wujudkan. Saya pun masih memiliki impian untuk membuka usaha agar dapat membuka lapangan pekerjaan bagi yang lain. Impian tersebut pun kini mulai saya rintis bersama istri. Dengan semangat dan nilai-nilai yang saya dapatkan dari Etos, asa tersebut insya Allah dapat saya genggam sebagaimana asa saya menjadi seorang lulusan Teknik Mesin.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE