Ujian Kepemimpinan Pemimpin

171

Oleh: Nabila Nurul Chasanati / Bakti Nusa 6 UNS

Ketidakmampuan kita sebagai warga Negara yang tidak bisa mengelola negerinya sendiri seolah menjadi bahasan yang sering diulang-ulang mengenai kebobrokan kepemimpinan yang dijalankan setiap periode pemerintahan yang menjalankan negeri ini. Kita hanya bisa mengelus dada. Melimpahnya hasil bumi, kecerdasan intelektual manusianya dibawa pergi ke negeri orang. Nilainya jauh lebih mahal daripada dijual di negeri sendiri. Sehingga komitmen manusia negeri ini hanya  berorientasi pada market. Secara tidak sadar menggerus nilai idealisme kebangsaan. Nilai-nilai itu seakan luntur bagaimana perjuangan bangsa ini yang dibawa oleh pahlawannya oleh tingkah laku manusia modern yang tidak bisa mengelolanya.

Ruh kepemimpinan seolah menjadi jembatan manis dan harapan masyarakat kecil kebanyakan untuk mengharapkan sebuah kepemimpinan yang didambakan. Tipe kepemimpinan kharismatik sudah menjadi dambaan kebanyakan masyarakat kita. Sejak negeri ini merdeka harapan selalu disambut oleh pemimpin baru yang akan memimpin. Tetapi selama berjalannya waktu tidak ada yang merasa puas bagaimana kepemimpinan yang sejak awal didukung penuh itu menjaga performanya agar tetap baik (terus). Tidak mungkin hal itu terjadi.

‘Setiap orang yang terlahir di dunia ini adalah pemimpin’. Kalimat ini akan mengatakan bahwa setiap diri sebenarnya mampu mengaktulisasikan dirinya menjadi dambaan pemimpin yang diharapkan masyarakat. Mampu memimpin dirinya sendiri, setidaknya pada tataran itu. Sehingga sangat kompleks bagaimana mendeskripsikan sebuah kepemimpinan ideal. Karena hakikatnya, manusia yang terlahir adalah pemimpin. Secara tidak langsung, kemampuan yang dimiliki manusia inilah yang secara kodrat diterima dan terkadang tidak. Pro kontra dalam kehidupan selalu saja terjadi.

Menurut Maxwell sebuah kepemimpinan berhubungan erat dengan pengaruh. Saat Presiden Joko Widodo dengan kuasanya melakukan perombakan kabinet itu sama saja ingin menunjukkan pengaruhnya terhadap kepemimpinan yang dipimpinnya. Kinerja yang dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan sungguh mengagetkan banyak pihak. Wajah pendidikan yang dahulunya terasa masih terjadi perpeloncoan sehingga mencoreng institusi ini berubah menjadi lebih humanis dan ramah terhadap pelajar.

Meladeni permintaan masyarakat yang menganggap keputusan Presiden itu, di satu sisi pro dan di sisi yang lain kontra tidak akan ada akhirnya. Kehendak manusia yang selalu saja diliputi kepentingan, entah dalam diri sendiri atau kelompok membawa segala sesuatunya tidak adil di mata mereka. Serba dilematis. Masyarakat seolah dipertontonkan dengan dua pendapat yang kontradiksi. Penggiringan kedua opini yang berbeda itulah yang membuat sebagian masyarakat lagi merasa jengah. Sehingga sebagian masyarakat yang masih ‘waras’ karena ketidakberpihakan salah satu opsinya hanya mengatakan ‘biar kerja dulu’ baru setelah itu dikomentari kenapa menteri itu dicopot dan diganti. Kerja adalah hasil yang tampak dan bisa kita nilai, layak atau tidak. Sama halnya dengan penggantian pos-pos menteri yang dilakukan Presiden.

Esai-esai lain sudah banyak membahas mengenai pesimisme kita mendapatkan kepemimpinan yang ideal. Se-ideal-idealnya sebuah kepemimpinan harus dibuktikan kinerjanya. Penantian sebuah pemimpin adalah pemimpin yang mengenyampingkan keserakahan. Mampu mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang sudah lama kurang terealisasikan. Hakikatnya semua pemimpin bersatu padu untuk membangun sinergisitas dalam mengelola negeri ini. Tidak salah opini yang terkadang mendeskriditkan pemimpin-pemimpin baru yang belum kerja apa-apa sudah kena semprot pendapat di sana-sini. Tidak bijak jika kita melakukan hal tersebut.

Permasalahan yang datang kemudian, saat ditunjuknya Arandra Tahar mengisi pos menteri SDM yang hanya menjabat 20 hari kerja sungguh menjadi ujian kepemimpinan pemimpin. Meladeni lambe turah tidak akan akhirnya bagaimana keputusan yang diambil oleh Panglima tertinggi negeri ini harus mengambil keputusan tersebut. Sorotan utama adalah bagaimana pemimpin menjaga performanya dalam menghadapi sorotan media mengenai keputusannya itu. Embanan amanah yang belum berakhir yang harus dipikul oleh pemimpin, menjadi doa kita bersama. Seharusnya. Menjaga performa kepemimpinan yang ideal.

Lambe turah masyarakat ini jangan sampai di titik dimana sampai mendekte suatu keputusan. Oke, bolehlah hal itu terjadi. Karena kita era demokrasi. Tetapi jangan sampai pemerintah tidak punya wibawanya. Itu saja.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE