Agus Salim

0
588

Oleh: Masandi Rachman Rosyid, Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis (BAKTI NUSA) Nusantara 7

Agus Salim. Nama salah seorang bapak bangsa yang bagi orang-orang dengan minat sejarah rendah, bisa jadi beliau kurang dikenal. Pernah dengar namanya? Mungkin iya. Apakah tahu keistimewaan dan jasanya bagi bangsa? Belum tentu. Ibarat kera yang mengenal singa, si raja rimba, belum tentu mengenal hiu, tuan seluruh lautan. Agus Salim dikenal oleh mereka yang serius belajar politik, diplomasi, dan perkembangan Islam di tanah air.

Kecerdasan dan kejeniusan The Grand Old Man sudah tidak diragukan di berbagai kondisi. Dalam konteks politik dan diplomasi, Agus Salim membuktikan kepiawaiannya berdiplomasi tatkala menggalang simpati dan pengakuan de jure negara-negara Arab atas kemerdekaan negara Indonesia. Kemampuannya menguasai lebih dari sembilan bahasa ia gunakan tatkala berdiri membela pendirian dan kedudukan bangsa Indonesia di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1947 di Lake Success, New York. Salim jelas berjasa besar atas bertahannya Republik Indonesia di fase-fase kritis lima tahun pertama pasca kemerdekaan.

Salim yang tak hanya sukses membawa Indonesia meraih pengakuan di tingkat dunia, namun juga mempersiapkan orang yang dapat menggantikannya di masa depan. Dalam konteks sosial-politik, kiprahnya di Sarekat Islam dengan segala lika-likunya menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Tersebut Muhammad Roem dan Muhammad Natsir sebagai dua nama pendahulu bangsa yang lahir dari binaan Salim. Dalam konteks keislaman, Buya Hamka menjalankan wejangan Salim tentang menghabiskan waktu di Indonesia agar lebih memahami kontek dakwah atau masyarakat setempat.

Salim menjadi tempat bertanya bagi para pemuda tentang teknik mengelola organisasi hingga pandangan sosial politik. Ia dikenal memberi dorongan, bukan menunjukkan jalan. Salim dikenal berwawasan luas namun teguh memegang nilai dan syariat Islam dalam mengurai beragam jenis permasalahan. “Jika kami sudah tidak menemukan jalan terang, kami tau harus kemana: Haji Agus Salim” ujar Natsir.

Meski dikenal sebagai salah satu bapak bangsa, cinta dan loyalitas Salim sejatinya jatuh pada ideologi dan jalan hidup Islam. Cinta ini tumbuh tatkala Salim muda, 22 tahun, menjadi penghubung jamaah haji dan Konsulat Belanda yang kemudian bertemu Syaikh Ahmad Khatib, ulama asal Minangkabau di Mekah. Salim muda yang dibekali pendidikan ala Eropa terpikat dengan penjelasan moderat dan rasional Syaikh Khatib tentang Islam. Lima tahun berguru di Tanah Haram membentuk Salim menjadi pemuda yang cerdas, berakhlak santun, dan berpendirian teguh terhadap Islam. Tak heran, ia kelak berhasil menengahi diskusi ‘gebrak meja’ BPUPKI tentang gagasan Indonesia sebagai negara Islam dengan tetap memastikan syariat dan nilai Islam dilindungi negara.

Indonesia patut bersyukur pernah memiliki Agus Salim. Seorang yang terlibat aktif, rela berkorban, dan berkhidmat memperjuangkan kedaulatan bangsa hingga penghujung usianya.

Komentar via Facebook
BAGIKAN