Aktivis Kudu Bisa Mengelola Kemiskinan

0
71

Aktivis Kudu Bisa Mengelola Kemiskinan

Bogor“Kita perlu keluar untuk melihat suasana yang berbeda. Di Indonesia banyak anak muda yang bingung harus berbuat apa karena tidak punya preferensi akibat terbatasnya akses untuk sesuatu yang konkret, kemiskinan misalnya,” buka Bambang, Direktur Program DD, dalam perhelatan Strategic Leadership Training (SLT) 2019 yang diadakan di IZI Hotel, Bogor, pada Jumat (26/07).

Menurut Bambang aktivis memiliki kekuatan untuk mengubah bangsa karena disinyalir memiliki mindset serta visi misi kuat dalam hidup, sebab zaman ini semakin banyak tantangan yang akan para aktivis hadapi di negara ini.

“Membaca kemiskinan berarti kita harus mencari referensi sebanyak-banyaknya dan mengasah kemampuan dalam menganalisis masalah agar bisa mendapatkan solusi terbaik untuk mengatasi kemiskinan,” kata Bambang. “Sebagai aktivis dan generasi penerus bangsa kalian tak boleh enggan berjejaring dan turun lapangan langsung ke masyarakat dan bertemu tokoh di sana. Jangan terjebak di kehidupan kota yang homogen,” tegasnya dihadapan 75 aktivis penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) dari 22 kampus ternama di Indonesia.

Bambang memaparkan jika komposisi penduduk miskin tidak bekerja di Indonesia didominasi oleh kelompok produktif usia 15-59 tahun. Hal ini menandakan kalau kesejahteraan itu tidak inklusif, kemajuan sektor industri dan jasa modern kota tidak banyak menciptakan tambahan lapangan kerja bagi kelompok miskin.

Miskin di Indonesia sendiri dibagi ke dalam tiga kelompok. Pertama, miskin menyerah, kelompok yang harus dibantu sesegera mungkin, Kedua, miskin berpotensi, kelompok yang berisikan anak muda tidak punya biaya untuk meneruskan sekolah. Ketiga, berpotensi miskin, kelompok masyarakat yang tidak punya ketrampilan.

“Jika ingin mengelola kemiskinan, kita mesti cek terlebih dahulu level kemiskinan mana yang ingin kita naikkan kapasitas kemampuannya dan cara apa yang kita gunakan untuk memberdayakan mereka,” terang Bambang.

Bambang berharap para aktivis dapat menguatkan komitmen agar selalu produktif dan fokus pada investasi kompetensi. Tak lupa Bambang mengingatkan jika para aktivis harus memiliki mimpi tinggi karena mereka wajib merancang masa depan bangsa dan lingkungan sekitarnya

“Kemiskinan selalu ada di sekitar kita. Pertanyaannya, akan ada di mana kita dalam mengelola kemiskinan tersebut?” tutup Bambang. (AR).

Komentar via Facebook
BAGIKAN