Aktivis Mesti Tahu Manajemen Bencana di Indonesia

0
96

Aktivis Mesti Tahu Manajemen Bencana di Indonesia

Bogor – Karena letak geografisnya Indonesia menjadi negara paling rawan bencana di dunia, karena itulah harus dilakukan pencegahan dan penanganan bencana melalui sebuah manajemen bencana, tujuannya untuk mengurangi risiko yang terjadi ketika bencana hadir lagi.

Pada Sabtu (27/07) 75 aktivis penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) Angkatan 9 dari 22 kampus ternama di Indonesia mengikuti sesi “Manajemen Bencana” bersama Benny, Direktur Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa di IZI Hotel, Bogor, Jawa Barat.

DMC Dompet Dhuafa merupakan program kebencanaan Divisi Relief Dompet Dhuafa sebagai garda terdepan pengelolaan kebencanaan, baik dalam maupun luar negeri. Benny yang telah malang melintang bersama tim DMC di berbagai lokasi bencana menyampaikan jika tak ada wilayah di Indonesia yang aman, hanya saja hal tersebut bisa diminimalisasi dengan sosialisasi manajemen bencana.

“Tidak ada wilayah yang aman di Indonesia, tapi kita bisa belajar bagaimana cara menaggulangi bencana melalui penanganan yang benar,” ujar Benny.

Manajemen bencana menurut Benny dilakukan untuk mengurangi kerugian dan risiko yang mungkin terjadi dan mempercepat proses pemulihan pasca bencana.

“Masalah yang kami hadapi banyak misalnya ketika adanya bencana dan ingin mengintervensi bantuan. Akan tetapi kami tidak tahu kondisi lapangan, bahasa dan budaya lokal, dan alur birokasi di wilayah bencana. Sehingga intervensi bantuan terkadang terlambat tersalurkan,” terangnya.

Memastikan manajemen bencana berjalan baik dapat dilihat dari seberapa besar masyarakat mampu mengikuti arahan yang diberikan. Seorang petugas, tambah Benny, harus memetakan terlebih dahulu kultur, kebiasaan warga setempat, dan risiko agar penyampaian sosialisasi dapat terinternalisasi dengan baik.

“Kebencanaan berbicara tentang efektivitas, respon cepat menjadi kunci utama dalam menangani bencana. Saya yakin aktivis seperti kalian bisa tumbuh dengan respon cepat dan bisa memaksimalkan potensi manajemen bencana di wilayah masing-masing sehingga bisa mengajak masyarakat lokal untuk ikut aktif membantu mensosialisasikan manajemen bencana,” tutup Benny.

Komentar via Facebook
BAGIKAN