Aku Tak Rela Ramadanku Rusak Tanpa Ibrah

0
197

Aku Tak Rela Ramadanku Rusak Tanpa Ibrah

Oleh: Khusnul Khalifah

“Memang benar ya jika kita diberi ujian itu artinya Allah masih memperhatikan kita?” Begitu kira-kira pertanyaan seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Kemarin, tepat di hari ke-8 Ramadan, saya mengalami hal yang luar biasa membuat dongkol dan sempat menangis. Bagaimana tidak, saya kebetulan sedang tidak shaum, sehingga saya tidak bisa mengambil menu berbuka, karena jelas itu bukan hak saya. Tepat 3 hari, saya belum makan nasi, entah karena sedang tidak ingin makan, atau memang sedang berhemat.

Di saat bersamaan, Qadaarullah, saya sedang kehabisan uang saat itu, sehingga saya belum sempat dan tidak bisa untuk mengisi bahan bakar motor saya yang sudah hampir habis, mungkin jika dinyalakan beberapa saat, motor itu akan mati di tengah jalan.

Kemarin, adalah hari yang cukup padat. dibutuhkan mobilitas yang cukup tinggi, karena saya kuliah hingga 3 sesi, dan sesi siang, harus saya isi dengan wawancara pekerjaan yang baru saja saya propose. Dua sesi pertama sudah terlewati, pukul 07.00 hingga pukul 12.00 kuliah, kemudian dengan hati berdebar saya jalan menuju parkiran dan berdoa agar motor saya bisa sampai hingga tempat saya wawancara kerja. Singkat cerita, sampailah saya di tempat wawancara.

Sungguh, beberapa hari terakhir saya ‘kepikiran’ tentang nasib saya untuk bertahan di sini. Hingga suatu siang, saya melewati sebuah butik yang baru saja dibangun di daerah Jalan Kaliurang, dan sedang membutuhkan karyawati. Praktis saya langsung mencoba menyimpan nomor butik tersebut untuk melamar pekerjaan, lalu saya pulang ke asrama. Saat tiba di asrama, tanpa basa basi, saya langsung menghubungi dan mencoba bertanya “siang mbak, perkenalkan saya Khusnul. Saya seorang mahasiswa, apakah saya bisa mendaftar?” tak lama kemudian nomor yang menjadi contact person sekaligus owner itu menjawab “boleh mbak, silakan kirim CV ke sini”. Jujur, saya sangat bahagia kala itu, saya langsung kirimkan CV saya, lalu satu hari kemudian, saya mendapatkan balasan “mbak, bisa datang untuk interview hari Kamis besok? Pukul 1 siang. Nanti kerjanya sistem shift, bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah”. Alhamdulilaah, dalam hati saya. Akhirnya Allah menjawab keresahan saya. Tibalah hari itu tiba, saya sampai di tempat.

“Permisi, saya diundang untuk melakukan interview hari ini, dengan siapa saya harus bertemu?” kemudian munculah pemilik butik ini, kemudian ia berkata “Mbak Khusnul bukan? Duduk mbak. Biar saya jelaskan dulu ya sistem kerjanya, nanti sistem kerja shift, mbak Khusnul bisa memilih sift malam atau pagi, boleh disesuaikan dengan jadwal kuliah. Bila penjualan mencapai target, maka akan ada bonus tambahan secara individu. Kedua, selama mbak bekerja di sini, mbak tidak diperkenankan menggunakan jilbab, tapi nanti setelah selesai kerja, jilbab boleh dipasang kembali, bagaimana mbak?”. Mencelos hati saya waktu itu, saya sudah berharap cukup besar untuk diterima untuk bekerja, tetapi, syarat itu membuat hati ini tanpa condong, mengatakan tidak ingin untuk melanjutkan, saya tidak ingin menggadaikan aqidah dan keyakinan yang saya jalani. Kemudian saya keluar dengan hati cukup hancur, menerima kenyataan bahwa saya tidak jadi berkeja, dan pertanyaan apakah muslim tidak menjadi pilihan terbaik., dan saya menyalakan motor untuk kemudian pergi menuju asrama.

Tak bisa dipungkiri, kejadian tadi meninggalkan bekas mendalam di hati saya. Belum sempat saya ber-muhasabah, saya harus segera bergegas pergi ke kampus untuk kuliah, sesi terakhir. Singkat cerita, selesailah urusan saya hari itu di kampus ataupun di luar kampus. Lagi, saya harus berdoa agar motor saya tetap nyala hingga saya sampai ke asrama. Di tengah perjalanan, saya ingat, salah satu teman saya menawarkan untuk mengisikan bensin setelah saya mengeluh kehabisan bensin. Kemudian saya menepi untuk chat teman saya itu. “jadi nggak? Saya tunggu ya” ditunggu hampir 30 menit, ia tak merespon, hingga akhirnya saya telpon dan ia menjawab “saya masih di sini, mau menunggu?” jelas saya jawab tidak, mengingat kediamannya 20 hingga 25 menit perjalanan menuju tempat saya menunggu. Pertimbangan lain karena ia juga punya hak untuk melaksanakan Salat Isya dan Tarawih tepat waktu, bila ia memenuhi janjinya, maka akan buyar amalan yaumiahnya saat itu. Dengan hati yang masih hancur, ditambah dengan kehabisan bensin dengan keadaan cukup lapar, membuat emosi saya sudah sampai diambang batas. Selama perlajan, saya hanya bisa menangis, dan terus menangis; meratapi nasib saya beberapa hari ini.

Sesampainya di asrama saya melanjutkan tangisan hingga berhenti, dan saat itu adalah waktu yang tepat untuk ber-muhasabah. Ternyata, Allah berikan peristiwa demi peristiwa untuk manusia ambil hikmahnya. Ia hanya ingin menunjukkan kasih-Nya. Jika kita tidak bisa melakukan sesuatu, maka kita harus memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan keadaan. Jika kita masih tetap bersedih, mungkin kita terlalu merasa. Merasa paling kesulitan, paling tidak beruntung, paling sendiri dan tiada berkawan, serta rasa paling lainnya. Kita hanya perlu memaafkan dan mengikhlaskan, mungkin pekerjaan yang kamu harapkan segera datang sebagai solusi, tidak berkah untukmu kelak. Kita perlu belajar bersyukur dengan semua keadaan, sekalipun dalam keadaan terburuk, tidak bisa makan, kehabisan bahan bakar, atau hal-hal lainnya.

Adalah sebuah ibrah, ketika kita sadar, ternyata hal yang kita lalui ini tidak sebanding dengan orang-orang di luar sana, yang bahkan harus memilih antara tidak makan, atau tidak bersekolah; lapar dan harus melapangkan hatinya untuk menahan itu; atau mereka berjalan ditengah teriknya matahari, dan mereka harus tetap bersyukur atas itu. Kita, masih bisa memiliki pilhan terbaik, tinggal ditempat layak, memiliki banyak relasi utnuk dimjintai pertolongan, sedang mereka tidak. Hidup ini Allah ciptakan seimbang, seimbang dalam keadaan yang sama, kesulitan atau kebahagiaan, hanya bagaimana kita memaknai amanah yang berbeda ini. dan kita layak mensyukuri itu, karena tiap-tiap angin yang berhembus, hujan yang turun, Allah hadirkan untuk diambil hikmahnya, termasuk peristiwa dalam hidup ini. Ramadan itu menjadi syariat, jalan, bagaimana kita bersabar dan bersyukur atas suatu hal. Bukan tanpa alasan Allah mengatakan bahwa shaum adalah ibadah untuk Allah, karena ia utama.

Ketika Allah cabut satu kenikmatan, Allah hadirkan kekuatan lain dalam diri kita. Akselerasi yang sesungguhnya, adalah muhasabah diri atas pesan yang Alah titipkan untuk kita pelajari.

Semoga tetap tertanam dan diperbarui iman ini oleh-Nya, setiap hari. Agar menjadi manusia yang penuh syukur dan sabar, menjadi mercusuar dan tetap tawadhu. Wallahua’lam bisshawab.

 

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Komentar via Facebook
BAGIKAN