Arem Arem dan Makna Aktivis

0
182

Arem arem?, Mungkin bagi kalian orang yang bukan berasal dari solo atau jawa tengah agak asing dengan kata ini, arem arem adalah panganan tradisional yang terbuat dari nasi yang kemudian dibentuk menjadi silinder, diisi dengan isian hati ayam atau daging ayam yang cenderung mempunyai citarasa pedas. Makanan ini sangat digemari oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat jawa yang doyan makanan pasar. Belum lengkap rasanya jika kita belum mencicipi panganan ini jika kita berkunjung ke jawa tengah, khususnya solo.

Lalu ada apa dengan arem arem?, Kenapa saya memulai tulisan ini dengan menjelaskan jajanan pasar tersebut?. Jadi teman, arem arem sesungguhnya telah mengajarkan saya dalam banyak hal, tidak hanya membuat perut saya menjadi kenyang olehnya, tetapi arem arem mengajarkan saya arti peduli terhadap masyarakat kecil.

Semua cerita berawal dari aktivitas saya sebagai penerima manfaat beasiswa aktivis nusantara (BAKTI NUSA) UNS, dimana disana saya berkenalan dengan sebuah gerakan sosial bernama ACBI yang kepanjanganya Aksi Cinta Budaya Indonesia. Pertama kali saya mendengar nama gerakan sosial tersebut yang terlintas di benak pikiran saya adalah wayang, tari-tarian jawa, lagu khas jawa, dan segala hal yang berhubungan dengan kebudayaan jawa. Semua itu terbentuk mungkin karena saya hidup di solo, dan saya terlahir sebagai orang jawa yang secara otomatis menterjemahkan kata “Budaya” menjadi “Budaya jawa”. Namun betapa kagetnya setelah saya tahu bahwa fokus utama ACBI adalah pasar tradisional, karena menurut saya pasar tradisional tidaklah lebih dari sekedar tempat bertransaksi barang dagangan, tidak lebih.

Setelah beberapa kali bertemu dengan mas Krisna, dengan teman teman seperjuangan di BAKTI NUSA 5 UNS, lambat laun saya dapat mencerna maksud dan tujuan dibentuknya ACBI. Semua berawal dari kepedulian kakak tingkat BAKTI NUSA sebelum kita akan mulai pudarnya perhatian masyarakat umum terhadap pasar tradisional. Gaya hidup dan tuntutan gengsi menyebabkan masyarakat kini lebih nyaman berbelanja di pasar swalayan yang notabene lebih modern. Mereka menganggap “nongkrong” di mall adalah katalisator status sosial, karena dengan belanja di mall kebanyakan masyarakat kita dicap sebagai orang berada.

Kembali lagi ke ACBI, gersos (gerakan sosial) ini mempunyai program unggulan yang disebut dengan snack ACBI. Snack ACBI adalah suatu bentuk usaha dari kami para penerima manfaat BAKTI NUSA UNS untuk memperkenalkan kembali value dan nilai pasar tradisional yang makin lama makin hilang melalui pengadaan snack yang berisikan jajanan pasar tradisional. Cara kerja program adalah apabila ada seseorang atau suatu instansi yang menginginkan snack ACBI, maka kita memberikan beberapa pilihan paket harga dan juga pilihan jajanan pasar yang tersedia. Setelah konsumen cocok dengan harga dan jumlah snack yang disepakati, esok subuh atau biasanya beberapa jam sebelum acara si konsumen dimulai kami para penerima manfaat BAKTI NUSA UNS pergi ke pasar Ledoksari untuk membeli beberapa jajanan pasar tradisional yang sesuai dengan budget konsumen. Setelah itu, kami menyepakati tempat berkumpul untuk melakukan packing snack yang tak jarang jumlahnya mencapai ratusan.

Ketika pertama kali saya mengerjakan program snack ACBI ini, saya tertegun. Dibenak saya, saya berfikir bahwa seakan kami adalah sekumpulan mahasiswa supersibuk yang kurang kerjaan. Bayangkan saja, kami para penerima manfaat BAKTI NUSA yang pada tahun itu rata rata menduduki puncak piramida organisasi yang kami geluti, atau bahasa keren nya sedang dalam masa Top Leader diharuskan untuk melakukan aktivitas bungkus membungkus snack yang jauh dari kata “aktivis” menurut saya pada saat itu, pokoknya nggak banget!

Namun kecongkakan itu berubah menjadi sebuah pelajaran berharga karena sebuah arem arem. Adalah arem arem yang mampu membuka mata saya terhadap kehidupan saudara kita yang ada di pasar tradisonal, terutama ketika saya ditugaskan untuk membeli jajanan itu di pasar Ledoksari. Arem arem, dan jajanan pasar lain memaksa saya untuk melakukan observasi kecil di pasar dimana ratusan orang berlalu lalang setap harinya berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Observasi kecil yang kemudian menyadarkan saya akan makna aktivis yang sesungguhnya, aktivis yang harusnya mampu menjadi solusi bagi para kaum marjinal di pasar tradisional. Semuanya melebur menjadi satu, observasi dan juga pengalaman berinteraksi dengan para pedagang pasar, juga orang orang disekitar menjadikan saya sadar akan pentingnya nilai budaya yang terdapat di dalam pasar tradisional.

Nilai dan value yang ada di dalam ACBI mampu menyadarkan saya akan pentingnya peduli terhadap sesama, dalam hal ini masyarakat kecil dan juga nilai luhur kebudayaan kita yang terjewantahkan dalam bentuk pasar tradisional. Serasa semua yang saya pernah pelajari tentang masyarakat kelas bawah dalam diskursus sosialisme, buku buku kiri, dan juga artikel berbau sosialis terbentang dihadapan saya, inilah kenyataan, dimana pasar tradisional yang notabene kebanyakan diisi oleh orang orang yang tidak mampu, menjadi terpinggirkan dan termarjinalkan oleh simbol kapitaslisme yakni swalayan dan juga mall mall besar.

Pernah suatu ketika tercetus ide dari kami para penerima manfaat BAKTI NUSA UNS untuk merubah kerja teknis dari snack ACBI, yakni dengan cara menyewa kontrakan kecil dan kemudian membayar pegawai untuk melakukan pekerjaan teknis snack ACBI (beli snack di pasar, membungkus snack, dll). Namun usulan itu ditolak oleh manajer kita, mas krisna. Karena apabila kita mengubah pola ACBI menjadi seperti itu, value tentang pasar tradisional dan kepedulian terhadap masyarakat kecil tidak akan tersampaikan dengan optimal, harus penerima manfaat sendiri yang merasakanya.

Terdengar sepele memang, kegiatan membungkus snack ACBI, tetapi dibalik itu, sebagai penerima manfaat BAKTI NUSA dapat memetik banyak hikmah dan value, terutama tentang kewajiban seorang aktivis. dalam membantu masyarakat kita yang kurang mampu, karena menjadi aktivis tidak melulu menjadi mahasiswa yang sering turun ke jalan untuk meneriakkan protes terhadap pemerintahan. Menjadi aktivis lebih dari itu, karena sesungguhnya label aktivis bersifat long last, kekal dan akan terus menempel di pribadi yang mau peka dan peduli terhadap lingkungan. Menjadi aktivis juga menjadi sosok pengubah, dimana dia mampu memberikan kontribusi yang maksimal dimanapun dia berada, memperjuangkan hak masyarakat yang harus diperjuangkan. (Firdaus Zulfikar, Penerima Manfaat BAKTI NUSA)

*Diambil dari buku “Istiqomah Merawat Indonesia”

PIC : google.com

Komentar via Facebook
BAGIKAN