Belajar Berprestasi dan Berkontribusi

0
93

“Universitas Indonesia Youth Environmental Action 2017”
Oleh: Nailul, Etoser 2017

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( Q.S Al- Baqarah : 148 ).

Terlebih dahulu perkenalkan, saya Ahmad Nailul Firdaus, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Novembe Departemen Teknik Lingkungan angkatan 2017. Saya berasal dari sebuah desa di wilayah utara Kabupaten Gresik.

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah swt. yang telah memberikan kesempatan kepada saya dan tim untuk turut ambil bagian menjadi delegasi UI Youth Environmental Action 2017 (UI YEA 2017). Kami sangat bersyukur karena senantiasa diberi jalan dan kemudahan dalam mengikuti serangkaian event ini, mulai dari tahap awal hingga pelaksanaan kegiatan di Universitas Indonesia. Walaupun sebenarnya ini telah jauh melampaui ekspektasi kami terhadap event ini.

UI YEA 2017 merupakan sebuah gerakan untuk menghimpun seluruh mahasiswa Indonesia dari berbagai latar belakang pendidikan untuk bersama-sama mendiskusikan, merencanakan, dan melakukan sesuatu untuk mendapatkan solusi terkait dengan permasalahan perubahan iklim yang terjadi saat ini. Melalui event ini, kami para mahasiswa dituntut untuk peka dan peduli terhadap permasalahan lingkungan, khususnya isu perubahan iklim melalui berbagai inovasi dan aksi-aksi nyata. Hal ini sejalan dengan tri dharma perguruan tinggi serta peran & fungsi mahasiswa yang menjadi kewajiban kami sebagai seorang mahasiswa.

Menjadi delegasi pada UI YEA 2017 ini merupakan sebuah hal yang sangat patut kami syukuri. Sebelumnya, tim kami yang bernama ‘ETOS BERJAYA’ beranggotakan Mabarrus Sholeh (Etoser 2015), Ismail Saputro (Etoser 2016), dan saya Ahmad Nailul Firdaus (Etoser 2017) mengirimkan karya tulis ilmiah kami. Dalam karya tulis yang kami ajukan, kami mengangkat sebuah inovasi berupa pembangkit listrik dari limbah makanan. Dengan persiapan ala kadarnya serta waktu yang sangat terbatas, akhirnya kami bisa menyelesaikan karya tulis ilmiah kami beberapa jam sebelum penutupan pendaftaran. Kami tidak menargetkan harus lolos atau tidak mengingat persiapan yang kami rasa belum maksimal. Kamipun hanya bisa pasrah dan berdoa agar Allah memberikan yang terbaik bagi kami. Dan beruntungnya, kami termasuk dalam 15 tim terbaik (berdasarkan karya tulis) dan berhak untuk menjadi delegasi UI YEA 2017, hehe.

Rabu, 22 November 2017 pukul 9 malam kami berangkat menuju ibukota. Perjalanan kereta dari Surabaya ke Jakarta kami lalui selama 12 jam. Singkat cerita, akhirnya sampailah kaki ini menginjak tanah ibukota untuk pertama kalinya. Bisa saya rasakan jelas hiruk-pikuk Jakarta dengan sederet keberagamannya yang dulu hanya bisa saya terka. Perjalanan menuju UI dengan commuter line pun kami lalui. Ketika sampai di UI, saya pun berkata dalam hati, “Bismillah, wis seadoh iki, mosok gak diperjuangno?” yang artinya “Bismilllah, sudah sampai sejauh ini, masa tidak diperjuangkan?”

Cerita di Universitas Indonesia dimulai. hari pertama di UI kami habiskan dengan bersosialisasi dengan kawan-kawan delegasi dari seluruh penjuru negeri. Delegasi USU, Unri, Unja, ULM, ITB, IPB, UTB, Undip, Unpad, UB, Unair, UNS, dan Poltek Jember adalah kawan kami berbagi canda tawa selama 4 hari di Universitas Indonesia. Dari sana saya mengenal berbagai macam pemikiran, budaya, dialek, dan apapun tentang mereka dan daerah mereka. Ya, keberagaman Indonesia itu telah Nampak di depan mata saya. Walaupun secara formal kami berkompetisi, tapi nyatanya kami adalah keluarga baru yang menguatkan satu sama lain. Jum’at, hari kedua pun datang. Agendanya adalah ideas presentation. Kami berharap di hari yang penuh berkah ini, Allah memberkahi langkah kami. Sontak kami tertegun mengetahui bahwa dewan juri yang akan menilai kami adalah orang-orang ahli yang dengan segudang pengalaman di masing-masing bidangnya. Tetapi apapun yang terjadi, show must go on. Kami kerahkan segala kemampuan yang kami punya walaupun tetap belum bisa maksimal. Presentasi selesai, semua pertanyaan juri dapat kami tanggapi, dan alhamdulillah dewan juri terlihat cukup puas dengan presentasi kami. Bergantian seluruh delegasi menyampaikan presentasinya yang memukau. Nampaknya, ide yang kami tawarkan adalah ide yang paling sederhana jika dibandingkan dengan ide-ide delegasi lain. Lagi-lagi kami serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Cerita lain masih berlanjut dalam UI YEA 2017 ini. Agenda hari ketiga adalah seminar nasional dan talkshow inspiratif. Tema seminar nasional ini adalah “Indonesia’s Synergistic Collaboration in an Attempt to Fight Against Climate Change”. Seminar yang menghadirkan para ahli dalam isu perubahan iklim ini mengupas tuntas segala permasalahan perubahan iklim dunia serta apa-apa saja yang harus dilakukan untuk bersama-sama menghadapi ancaman perubahan iklim yang sedang melanda bumi ini. Dilanjutkan dengan talkshow yang mengundang perwakilan dari beberapa NGO yang bergerak bersama masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. Mereka berbagi pengalaman dalam menanamkan kesadaran, mengajarkan, dan memberdayakan masyarakat untuk berkontribusi bersama. Talkshow ini menggugah saya untuk peka dan peduli mengenai ancaman yang melanda bumi kita yang bukan tidak mungkin nantinya akan berdampak negatif pada kehidupan manusia.

Pada malam harinya, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Gala dinner dilanjutkan pengumuman pemenang akan diselenggarakan di aula terapung UI. Kami melepaskan segala penat yang melanda di hari-hari sebelumnya. Namun itu hanya berlangsung sesaat, saat menegangkan pun tiba. Kami tak terlalu memasang harapan tinggi, semua kami pasrahkan. Ketika Undip dan UB diumumkan menjadi juara ketiga dan kedua, kamipun sempat merasa pupus harapan. “Dan yang kita tunggu-tunggu. Juara pertama karya tulis ilmiah UI Youth Environmental Action 2017 adalah…. Institut Teknologi…… Sepuluh Nopember. Selamat pada delegasi ITS” Pungkas MC saat itu. Saya tak percaya jika memang delegasi ITS yang menjadi juara pertama, mengingat inovasi ide dari delegasi lain sangat luar biasa, terlebih saya adalah satu-satunya mahasiswa baru yang miskin pengalaman diantara seluruh delegasi UI YEA 2017 yang luar biasa. Lantunan syukur kami panjatkan saat kami menuju ke depan tempat penghargaan. Kami masih benar-benar tidak menyangka.

Setelah ketegangan semalam, keesokan harinya kami melakukan field trip ke Suaka Elang Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Di sana, kami melakukan kontribusi kecil bagi lingkungan. Sederhana, hanya menanam pohon. Namun kami berharap, dari beberapa pohon yang kami tanam, nantinya akan menghasilkan hal yang sangat berguna bagi generasi-generasi mendatang. Karena memang itulah yang dibutuhkan geneiasi masa depan. Sebuah lingkungan yang masih layak ditempati oleh manusia. Kami berharap, anak-cucu kami kelak akan merasakan kondisi bumi yang setidaknya sama dengan apa yang kita rasakan saat ini. Ketika di sana, antar delegasipun semakin dieratkan dengan berbagai outbond dan group-game yang sangat menyenangkan dan semakin menegaskan bahwa kami para delegasi bukan lagi competitor, melainkan keluarga.

Dan berikutnya adalah hal yang dibenci oleh semua orang, perpisahan. Raga kami para delegasi harus berpisah setelah bertambah eratnya hubungan kami. Potret bersama tak dapat lagi cukup menggantikan kebersamaan yang telah kami lalui empat hari ke belakang. Tapi, kami semua harus berpisah dan berjuang kembali di kampus kami masing-masing. Meneruskan ilmu yang telah kami dapatkan untuk daerah kita masing-masing. Dan PR kami selanjutnya adalah berkontribusi utamanya dalam menghadapi isu perubahan iklim. Karena kontribusi bukan hanya diartikan langsung bersentuhan dengan masyarakat, namun lebih dari itu. Ketika kami berusaha untuk menjaga lingkungan tetap layak ditempati, secara tidak langsung itu artinya kami juga telah berkontribusi untuk lebih banyak manusia di bumi ini.

Terima kasih kami sampaikan atas segala yang diberikan oleh kawan-kawan, BEM Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan tentunya Beastudi Etos yang telah mempertemukan saya dengan rekan tim saya, Mas Sholeh dan Mas Mail. Beastudi Etos juga telah memberikan support prestasi kepada saya hingga akhirnya saya dapat mengikuti event ini.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY