Bergerak dan Berkarya untuk Kebermanfaatan

0
579

Oleh: Ismail Saputro, Etoser Surabaya 2016

Dari sebuah hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu menjelaskan bahwa Nabi Shallallahualaihi wassalam bahwa beliau bersabda: “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin”. Menjadi pemimpin menurut kami merupakan satu wadah kontribusi untuk berdakwah dan menebar kebaikan bagi setiap insan di dunia ini. Tak selamanya semua pemimpin itu baik dan mengerti tentang kewajiban serta memiliki kemampuan memimpin, maka perlu adanya sebuah upaya yang bisa melatih seseorang untuk menjadi pemimpin yang bisa memimpin.

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt. yang telah meridhoi akhirnya kami lolos sebagai peserta Pelatihan Pemimpin Bangsa ke-11 yang diselenggarakan oleh BEM KM UGM. Pelatihan ini sangat bagus sekali karena mengundang banyak pemateri keren dan forumnya pun sangat bagus karena diisi oleh mahasiswa yang kritis dan punya semangat  besar untuk membangun Indonesia. Pelatihan dilaksanakan pada Minggu bertempat di Graha Sabha Permana UGM. Pelatihan dimulai dengan pembukaan dari ketua panitia dan Presiden Mahasiswa BEM KM UGM lalu dilanjut dengan pentas tari tradisional. Setelah itu dilakukan sesi materi yang diisi oleh Bapak Janu Muhammad, Pendiri Karung Goni Learning Center, beliau menyampaikan banyak hal tentang kepekaan sosial, banyak ilmu yang bisa didapat dari beliau yaitu kita bisa lebih mengerti bagaimana cara membangun komunikasi, mengabdi, komitmen dan kontribusi kepada masyarakat. Bapak Janu mengatakan bahwa untuk membangun kepekaan sosial kita harus lebih peka lagi dan menciptakan sebuah keresahan untuk menciptakan peran nyata untuk masyarakat yang membutuhkan. Setelah materi satu selesai dilanjut dengan materi kedua dari seorang dosen UGM bernama Muhammad Nur Rizal, beliau adalah Pendiri Sekolah Menyenangkan. Dari beliau kami dapat belajar bagaimana menjadi sosok pemimpin yang sebenarnya. Beliau mengatakan bahwa setiap pemimpin tidak harus semua memimpin, setiap pemimpin adalah mereka yang mempunyai pengaruh dengan adanya sebuah tindakan. Beliau mengatakan jika ingin menjadi pemimpin harus mempunyai banyak reference tentang pemimpin contoh Martin Luther, Simon Sinek dan lain sebagainya.

Kemudian kami menuju ke sebuah desa terpencil di Kulon Progo, bernama Dusun Banyunganti. Kami di sana ditempatkan bersama warga desa, selama 3 hari kami menginap di sana banyak sekali pembelajaran yang bisa kami dapat yaitu kami bisa belajar bagaimana menjadi seorang warga desa, menyangkul, menanam pohon, membawa kayu bakar dan lain sebagainya. Yang kami kira itu merupakan kegiatan yang sangat mudah tetapi setelah kami melakukan itu merupakan kegiatan yang cukup susah dan sangat melelahkan. Di sana pun kami belajar berkomunikasi dengan warga dan mencoba memberi solusi-solusi tentang masalah mereka dengan ilmu kami, suatu contoh kami bisa memberi ide untuk membuat produk khas daerah sana dan cara memanfaatkan potensi keindahan alam untuk dijadikan tempat wisata. Di desa kami dibagi menjadi kelompok-kelompok dan ditempat bersama orang tua asuh, banyak pembelajaran dan keluarga baru yang bisa kami rasakan yaitu kami dapat belajar dari teman-teman satu kelompok dan orangtua asuh yang mempunyai banyak kesabaran dalam kehidupan.

Setelah tiga hari kami berada di desa dengan banyak belajar tentang mengedukasi warga dan bagaimana belajar bermasyarakat, kami pun kembali ke Pondok Pemuda Ambarbinangun, Yogyakarta, kami di sana selama empat hari mendapat pemateri-pemateri yang sangat keren yaitu mulai dari materi Bapak Hasto, Bupati Kulon Progo, beliau mengajari kami bagaimana membuat perubahan dengan ideologi karena menurut beliau secara teknologi Indonesia masih kalah dengan Jepang dan Amerika yang sangat pesat perkembangan teknologinya. Beliau mengajari kami bagaimana mengajak masyarakat untuk membangun ekonomi dengan kerjasama dan mengembangkan potensi daerah sendiri karena menurut beliau potensi negeri sendiri sangat banyak sekali kenapa kita harus ketergantungan dengan bangsa lain, seharusnya bangsa lain yang seharusnya ketergantungan dengan kita.

Di sana kami juga disuguhi diskusi-diskusi yang sangat kritis, bagaimana semangat para generasi muda yang mempunyai idealisme yang tinggi untuk membangun Indonesia. Di sana pun kami dapat belajar tentang bagaimana seharusnya pergerakan mahasiswa untuk membangun bangsa ini. Kami pun dibuka kan wawasan tentang kondisi Indonesia saat ini yang mungkin selama kita menjadi mahasiswa hanya tahu tentang kuliah, tugas dan tugas. Tapi di sini kami dituntut untuk peduli dengan problematika yang ada di bangsa ini karena kelak setiap dari kita diharapkan mampu menjadi seorang pemimpin negeri ini dan merusak sistem yang kotor di dunia pemerintahan saat ini terbukti dengan banyaknya korupsi dan koruptor yang tidak bisa dijatuhkan dengan hukum.

Banyak ilmu yang bisa kita dapat dari pelatihan ini mulai dari kepekaan sosial dengan masyarakat dan kepekaan tentang permasalahan di negeri ini, yang menjadi tugas besar bagi pemerintah hari ini dan PR untuk kita di esok hari di mana kita harus siap-siap membuat solusinya.

Program yang luar biasa ini mungkin tidak dapat saya rasakan tanpa support dari Beastudi Etos yang berkenan hadir untuk membantu seorang mahasiswa seperti saya yang tengah kekurangan biaya dalam mengenyam studi. Terima kasih kami haturkan pada Allah swt., orang tua, Beastudi Etos, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, teman-teman, dan semua yang telah mendukung program ini. Kami sendiri selalu meminta doa agar dengan adanya pelatihan ini tidak membuat kami tinggi hati dan menyombongkan diri tapi sebaliknya semoga dengan adanya pelatihan ini kami lebih semangat untuk berkontribusi dan selalu menjaga tanggung jawab membangun negeri.

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN