Berjalanlah Bersama-sama Agar Bisa Mencapai Tempat yang Lebih Jauh

0
359

Tujuan merupakan awal dari segalanya

Pada hakikatnya, setiap orang mempunyai tujuan dan keinginan. Tujuan merupakan suatu entitas yang dirancang dan dikhayati oleh setiap orang sebagai patokan perjalanan hidup. Tujuan membuat arah dan kekuatan gerak yang diperlukan menjadi nampak jelas dan terukur dengan baik. Tanpa adanya tujuan, kita tidak akan tahu bagaimana persiapan dan arah perjalanan kita mengarungi samudra kehidupan ini seperti apa.

Tujuan memang harus dijadikan awal dari pergerakan kita. Mari kita bayangkan, apabila kita tidak mengetahui tujuan yang ingin kita arah, waktu dan persiapan untuk berangkat tidak mungkin dapat kita ketahui. Ya, kita tidak tahu apakah kita harus berangkat jam 06.00 atau jam 14.00. Lalu, apakah kita perlu menggunakan bis atau pesawat dan semacamnya. Jadi, hakikat tujuan memang penting untuk memulai perjalanan hidup yang panjang dan liar ini.

Semakin besar atau jauh sebuah tujuan, semakin banyak persiapan yang harus kita lakukan. Ketika kita ingin mencapai tujuan yang kecil dan dekat, kita dapat melakukannya sendirian dengan fasilitas yang minim, membawa badan pun sudah cukup untuk mencapainya. Namun, ketika tujuan itu besar, jauh, dan berdampak luas, kita tidak mungkin dapat melakukannya tanpa fasilitas, baik orang lain hingga sistem yang memadai.

Organisasi merupakan wadah untuk mencapai tujuan

Organisasi, baik disadari atau tidak, merupakan wadah yang dapat memfasilitasi pencapaian tujuan tersebut. Misalkan, kita ingin mempunyai pengakuan akan kemahiran kita akan ilmu geologi. Kita bisa saja belajar sendiri untuk mengetahui seluk beluk geologi, dari konsep hingga lapangan. Namun, bagaimana orang lain akan percaya bahwa kita mampu dalam melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan geologi? Hal itu tentunya sulit sekali.

Oleh karena itu, kita membutuhkan perguruan tinggi (PT) sebagai wadah. PT sebagai suatu organisasi yang sudah diakui dapat menjadi fasilitas bagi kita untuk diakui juga. Ketika kita sudah lulus dari PT terkait mengenai geologi dengan pencapaian tertentu, orang lain pun akan lebih percaya akan kemampuan kita. Jika kita tidak menjadi bagian dari PT sebagai organisasi, tujuan kita untuk hal itu pun tidak akan dapat tercapai.

Contoh ini pun berlaku sama untuk hal lainnya. Ketika kita ingin mencapai hal yang besar, kita butuh suatu organisasi dan sistem yang kuat untuk membantu kita mencapainya. Para pengusaha besar, seperti Bill Gates, Steve Jobs, Warren Buffet, dan lain-lain tidak akan pernah bisa menjadi sebesar itu tanpa adanya organisasi, yakni perusahaannya, yang memfasilitasi mereka. Oleh karena itu, organisasi merupakan wadah untuk mencapai tujuan.

Berkembangnya anggota, akan membuat organisasi semakin berkembang

Pada setiap organisasi, sudah pasti ada yang namanya kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan interaksi pola koordinasi antara pemimpin dan anggota. Tanpa adanya pemimpin, tidak akan ada organisasi, begitu pula dengan anggota. Tanpa adanya anggota, tidak akan ada suatu organisasi.

Suatu organisasi dapat berjalan dengan cepat dan jauh apabila setiap komponennya memiliki kemampuan untuk itu. Layaknya sebuah mobil, ketika ada satu bagian saja yang tidak mampu untuk berproses dengan gemilang, maka keseluruhan bagian dari mobil tidak dapat melaku dengan gemilang pula. Terlebih lagi jika hanya bagian kemudi saja yang gemilang, sudah pasti keseluruhan mobil pun tidak dapat berjalan dengan gemilang.

Hal itu pun sama dengan organisasi. Ketika ada satu anggota saja, sebagai bagian dari sistem, tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, maka organisasi tersebut tidak dapat bekerja se-efektif dan se-efisien yang diharapkan. Terlebih lagi jika hanya pemimpinnya saja yang mumpuni, sudah pasti organisasi itu tidak dapat berfungsi seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat mengembangkan anggotanya.

Kepemimpinan sebaiknya berfokus pada pengembangan orang

Pengembangan anggota dalam suatu organisasi dapat dikaji dari tiga sektor. Pertama dari sektor sistem dan struktur. Pada sektor ini, sistem atau struktur yang ada di organisasi tersebut harus dapat menunjang pengembangan potensi dan diri setiap anggotanya. Jadi sistem dan struktur ini jangan hanya membuat anggota mengerjakan tugas tanpa adanya pengembangan yang dilakukan kepada mereka.

Terdapat beberapa hal yang dapat dikembangkan di sektor ini (Leitch, Lancefiled, & Dawson, 2016). Pertama adalah tanggung jawab. Anggota harus diberikan tanggung jawab dan otonomi untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Jangan sampai kita terlalu membatasi mereka akan hal yang boleh dilakukan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Selain itu, kita harus dapat terbuka terhadap anggota. Informasi yang dimiliki dapat sangat menunjang anggota untuk mengetahui alternatif penyelesaian tugasnya. Hal ini tentunya memberikan peluang kepada anggota untuk lebih fleksibel dalam menentukan pilihan dan bertindak.

Sektor berikutnya adalah kebijakan dan orang. Pada sektor ini, kita sebaiknya fokus pada pemilihan orang-orang yang akan menjadi anggota dan membuat kebijakan yang merangsang mereka berkembang. Sosok anggota sebagai target sangatlah penting dan tentunya dapat berhasil bila ditunjang kebijakan sebagai faktor eksternal.

Pada sektor ini, kita bisa membuat kebijakan pemberian ruang untuk gagal. Kegagalan merupakan bagian dari pembelajaran. Hal ini tidak bisa dihindari. Jangan sampai kita tidak menoleransi kegagalan anggota. Akan tetapi, anggota harus mau untuk sadar dan merenungi kegagalan itu. Hal itu harus dijadikan sebagai pelajaran, jangan sampai berulang lagi ke depannya.

Selain itu, bawahan juga bisa diberikan proyek yang harus diselesaikan. Hal ini dapat membuat bawahan belajar akan kepemimpinan dengan posisi sebagai penanggungjawab. Kebijakan ini merupakan kebijakan pemberian pembelajaran melalui pengalaman secara nyata yang diharapkan dapat efektif.

Pada saat pemilihan orang, kita harus melakukan seleksi dengan tepat. Pemeriksaan aspek psikologis harus diperhatikan dengan baik. Sebaiknya, kita mengetahui reaksi dia akan masalah, empati, performa di masa lalu, dan kemampuan analisis. Hal ini dapat menunjang pengembangan yang kita lakukan.

Sektor ketiga adalah diri sendiri. Kita tentunya harus memerhatikan diri kita sebelum dapat memerhatikan dan mengembangkan orang lain. Hal ni harus dapat menjadi pembelajaran yang hakiki untuk diri kita sendiri. Pengembangan merupakan suatu hal yang tidak boleh berhenti sampai akhir hayat.

Pada sektor ini, kita harus mengontribusikan diri kita sepenuhnya untuk bekerja. Jangan sampai kita terlibat hanya setengah-setengah saja dalam pekerjaan kita. Hal ini dapat menghambat motivasi kita untuk memimpin suatu organisasi, terlebih lagi untuk mengembangkan anggota.

Selain itu, kita juga harus merefleksikan diri. Refleksi diri merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Tanpa adanya refleksi diri, kita tidak akan menyadari pembelajaran yang telah kita dapatkan dan evaluasinya. Kita tidak akan bisa memerbaiki masa depan jika kita tidak menyadari apa yang harus diperbaiki dari kita.

Hal tersebut merupakan esensi dari kepemimpinan yang holistik. Harapannya, dengan terlibatnya kita dalam mengembangkan organisasi yang kita pimpin, efektivitas dari organisasi kita pun akan meningkat. Begitu pula dengan kebermanfaatan kita. Kita dapat mewadahi anggota-anggota kita untuk belajar dan berkembang menjadi lebih baik lagi ke depannya.

 

Hasil Kutipan

Leitch, J., Lancefiled, D., & Dawson, M. (2016, May 18). Strategy + Business. Diambil kembali dari 10 Principles of Strategic Leadership.

Komentar via Facebook
BAGIKAN