Budaya Menyejarah, Mengakar dalam Islam, Mendunia melintasi peradaban

0
28

Pondasi sebuah ideologi islam, kebudayaan islam, perilaku islam, Dienul Islam bermula ketika di turunkannya ayat pertama surat Al-Alaq kepada Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam. Pada penyampaian wahyu-Nya tidak hanya sekali melainkan 3 kali, yang menandakan ini adalah akar perintah dari Allah yang tidak ada duanya, yaitu Iqro’! yang bermakna Bacalah!

Mari rujuk sejarah, sebelum Allah turunkan Nabi sepeninggal Nabi Isa yang diangkat ke sisi-Nya, penduduk Arab masih dalam dunia kejahiliyahan, terpuruk dalam perdagangan barang hingga manusia (perbudakan), jatuhnya moralitas, saling berperang antar saudara, lumrahnya perzinaan, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, serta kemusyrikan dalam menyembah berhala yang sangat mengakar. Kaum Arab hidup dalam lembah gersang di antara dua Imperium besar pada zamannya, Persia dan Romawi dan di jadikan permainan pingpong dalam perebutan tanah dan perbudakan.

Melihat zaman yang pelik, mengapa Allah tidak memberikan perintah kepada Nabi akhir zaman untuk memulai islah (diplomasi) dari pelbagai persoalan yang terjadi?. Menyatukan Arab, memulai sejarah untuk mengekang Persia dan Romawi. Mengembalikan moral bangsa dan mematikan berhala dari kehidupan mereka. Tidak!, Rasulullah justru menerima wahyu yang isinya adalah perintah untuk membaca. Sebuah perintah yang bertolak belakang dengan kondisi zaman di Masyarakat Makkah saat itu.

Makna perintah Iqro’! pada wahyu awal kenabian Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa Salam. Pertama, dengan membaca mata dan pikiran mereka akan terbuka selayaknya melihat cakrawala dunia, untuk mensejahterakan penduduk bumi dari berbagai ketidaktahuan.

Kedua, sadar akan membaca atau dalam Bahasa ilmiah saat ini adalah literasi. Ilmu Pengetahuan membuat kita tidak hanya memadang nyata dengan kedua mata, namun dapat menerka apa yang ada di balik dinding, bahkan dinding waktu sekalipun. Dan setiap hamba bertambah pengetahuannya, maka jujurlah ia hanya akan melihat kekuasaan Allah yang kian terkuak dari rahasia dunia. Dan semakin tunduk dengan sadar hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Sang Pencipta.

Ketiga, Bangsa mana yang saat berada puncak peradaban, melainkan ketika budaya literasi mereka punggungi? Arab dari segala keterpurukan yang ada bisa bangkit dengan membangkitkan minat baca dan tulis. Proses tidak akan menghianati hasil, beberapa abad sepeninggal Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wa Salam Islam tak lepas dari kejayaan dari budaya literasinya, mendirikan ribuan perpustakaan dengan koleksi dengan puluhan ribu judul dan jilid jumlahnya. Pada masa khalifah kelima Bani Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid (786-803 M) Berdirilah Bait Al-Hikmah di Bagdad, yang di gadang-gadang dalam sejarah sebagai pusat jendela dunia. Tak hanya itu di Spanyol (Andalusia) terdapat 70 perpustakaan besar, yang paling terkenal adalah perpustakaan khalifah Al-Hakim di Corcova di bangun oleh Abd Ar-Rahman. Dan yang paling keren di Kairo pada masa khalifah Al-Aziz Billah (975-996 M) dari Dinasti Fatimiyah berdiri juga perpustakaan atas nama dirinya – seorang khalifah yang hobi membaca, sehingga tiap kali ia menemukan buku yang disukai ia selalu meminta untuk digandakan – yang koleksinya mencapai 100 ribu judul buku dengan 600 ribu jilid.

Inilah di antara jawaban kenapa ayat pertama kali itu berbicara tentang pengetahuan (budaya tulis dan baca) karena ternyata ia adalah modal untuk keluar dari keterpurukan dan kemudian mendaki puncak peradaban yang gilang-gemilang.

“Jika ilmu itu adalah binatang buruan, maka ikatlah ia dengan cara menulis,” ujar Imam Syafii menggambarkan pentingnya melestarikan budaya yang satu ini.

Dari pembacaan kita terhadap literatur sejarah di batang tubuh umat ini, maka tidak ada jalan lain untuk menuju sebuah kebangkitan, kecuali kesungguh-sungguhan kita menyemarakkan kembali budaya membaca dan menulis umat ini. Berilah tempat untuk buku bisa ‘bermanja-manja’ di rumah-rumah kita, di sekolah-sekolah, dan tentunya juga di berbagai institusi dan lembaga.

Inilah konsumsi bagi pikiran kita, karena bagi masyarakat yang menempatkan baca tulis sebagai bagian dari hari-harinya adalah indikasi dari peradaban yang merangkak naik. Semoga. (Masykur Huda)

Komentar via Facebook
BAGIKAN