Cermin Kepemimpin Strategis dari Khulafaurrasyidin ke-5

0
200

Nama lengkapnya Abu Hafs Umar Ibn Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin As bin Umayah bin Abd. Syams. Beliaulah yang lebih kita kenal dengan panggilan Umar bin abdul aziz.  Purnama pada kekhalifahan umayyah, setelah berbagai gerhana membuat banyak manusia kala itu terciduk oleh harta-harta dunia. Sejarah mencatat berbagai prestasi atas kepemimpinannya yang begitu luar biasa. Mungkin masih membekas pada ingatan kita dimana pada masanya, tidak ada kaum muslimin yg bahkan pantas menerima zakat.  Pantaslah bertengger pada namanya julukan khulafaurrasyidin ke-5.

Umar bin abdul Aziz di baiat atas wasiat khalifah sebelumnya, sulaiman bin abdul malik, yang dibacakan di Masjid Damaskus. Pembacaan surat wasiat tersebut membuatnya menunduk membisu. Jika menilik kondisi kerajaan yang mulai menumpuk-numpuk harta kala itu,  jelas saja menjadi khalifah tentu menuntut pertanggungjawaban yang begitu berat dunia dan akhirat.  Umar bahkan sempat menolak bai’at atasnya, namun dengan serempak jamaah saat itu menguatkan baiat mereka pada Umar bin Abdul Aziz.

Kita bisa meninjau dari berbagai potret sejarah,  bahwa sebelum di baiat menjadi Khalifah, Umar Bin Abdul aziz adalah seorang yang hidupnya bergelimang harta, begitu nyaman sebagai keluarga bangsawan. Setiap orang saat itu bisa mengenali kedatangan Umar lewat bau parfumnya. Beliaulah trendsetter pada zamannya. Pakaiannya megah mewah. Gaya jalannya diikuti di seluruh jajaran istana bahkan masyarakat kala itu.

Pada monumen sejarah kehidupan pasca pelantikan Umar Bin Abdul Aziz sebagai khalifah, terpahat cerita tentang sikap yang begitu bertolak dari fase kebangsawanannya. Kita dapat melihatnya dari hal yang paling pertama Umar Abdul Aziz lakukan yaitu mengembalikan seluruh harta-harta miliknya kepada baitul maal. Bahkan setelah itu ia tawarkan pada istrinya untuk memilih antara dirinya atau harta yang ia miliki hingga istrinya pun menyerahkan segala perhiasan yang ia miliki kepada baitul maal.  Ia memulai dengan sebuah prinsip kepemimpinan yang begitu tegas dan jelas untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Prinsip kepemimpinan umar bin abdul aziz mengalir kepada kebijakan-kebijakannya di istana.  Ia copot pejabat-pejabat yang terbukti bersalah. Ia hapuskan hak istimewa bangsawan istana yang dianggapnya menyalahi keadilan.  Pernah bahkan dikisahkan ketika seorang pejabatnya datang kepadanya. Disaat urusan umat yang dibahas,  Umar meminta pelayannya menyalakan lilin besar yang dengannya cukup terang seisi ruangannya.  Namun tatkala pejabatnya bertanya tentang kondisi pribadi umar dan keluarganya (yang kala itu semakin kurus dan sederhana sekali sebagai khalifah) dengan segera ia tiup lilin itu,  dan meminta pelayannya menyalakan lampu kecil yg bahkan tak sanggup menerangi ruangannya untuk selanjutnya menjawab pertanyaan pejabatnya. Ketika pejabatnya bertanya tentang alasan sikapnya tadi,  umar menjawab dengan sederhana: bahwa lilin besar itu milik umat,  dan hanya untuk umatnya sajalah lilin itu pantas menerangi ruangannya. Sebegitu tegas prinsip keadilannya.

Kemudian mengalir lebih jauh pada seluruh kebijakannya pada kekhalifahan kala itu.  Lemah lembutnya memimpin,  strategi politik, kebijakan sosial-ekonomi, kesemuanya melibatkan pertimbangan akan Islam yang utuh lagi menyeluruh dan perhatian penuh akan warganya. Beliau melihat segala sesuatu dengan pandangan yang lebih jauh menuju kemaslahatan umat.  Lihat saja bagaimana beliau justru menghentikan peperangan pada daerah ekspansi kaum muslimin yang belum mau memeluk Islam dan kembali mendakwahi mereka dengan lemah lembut yang justru akhirnya mengantarkan hidayah pada kaum itu.  Juga ketika menghentikan khutbah berisi cacian kepada khalifah Ali. Hingga akhir Umar bin abdul aziz terus menjaga prinsip kepemimpinannya yang adil mulai dari akar hingga pucuk-pucuk dedaunannya. Umar melejit menjadi pemimpin yang mencintai warganya dan amat dicintai oleh mereka.

 

Mungkin dapat dikatakan sistem dan kepemimpinan strategis yang diterapkan Umar bin Abdul Aziz adalah titik tertinggi pencapaian seorang manusia terutama secara ekonomi.  Setidaknya sudah 100 tahun ke belakang ideologi kapitalis mencoba membuktikan keefektifan teori-teorinya untuk kesejahteraan manusia di dunia, namun yang terjadi adalah bahwa hampir 100 tahun pula kesejahteraan itu disita oleh adanya kapitalisme.  Sementara Umar bin Abdul Aziz sampai pada titik dimana seorang amil zakat bahkan tidak mampu menemukan lagi sebuah keluarga yang pantas dan mau menerima zakat hanya dalam waktu kurang dari dua setengah tahun kepemimpinannya!

Pribadi Umar bin Abdul Aziz menyimpan begitu banyak pelajaran hebat.  Terlebih lagi beliau Allah munculkan lebih jauh dari generasi Rasulullah,  ketika kekeringan aqidah mulai kembali terasa. Jika kita ingin berbica tentang kepemimpinan strategis, tentang kemampuan seorang pemimpin mengubah manusia hingga masyarakat disekitarnya melalui visi dan nilai-nilai, budaya, dan iklim kerja, serta struktur dan sistem. Atau jika kita ingin berbicara tentang kepemimpinan strategis,  tentang kemampuan yang dimiliki pemimpin untuk mengelola, mengkoordinasikan, memengaruhi serta memotivasi dan meningkatkan kinerja orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan bersama, maka dari kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, kita bisa mendapatkan salah satu contoh terbaiknya.

Kepemimpinan beliau merepresentasikan empat hal yang ditulis oleh Yukl (2010) menjadi ciri dari kepemimpinan strategis. Yang pertama adalah berani mengambil tindakan tegas terutama disaat menghadapi krisis. Kita bisa melihat hal ini dari perjalanan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz ketika mentransformasikan kehidupan kebangsawanannya menjadi penuh kesederhanaan pun berbagai kebijakan tegas bahkan untuk keluarga sendiri. Yang kedua adalah memiliki kompetensi melakukan perubahan yang tahan lama. Perlu kita kutip sedikit masa lalu dari Umar bin Abdul Aziz bahwa dalam kondisi kebangsawanannya,  sejak Umar kecil telah begitu dekat dengan Al Quran dengan segala pemaknaannya. Umar adalah pribadi yang giat dan haus akan ilmu. Jika saja Allah tidak menjadikannya khalifah, mungkin ia sudah menjadi ulama besar. Lewat keluasan dan kemurnian ilmunya Allah memberikan padanya pandangan yang begitu jauh dan tajam. Akhirnya,  sebagai Khalifah Umar menjadi sosok visioner yang mampu melahirkan perubahan-perubahan besar. Sehingga sosok Umar memiliki ciri ketiga, tahu apa yang dilakukan dan mampu mengendalikan peristiwa/situasi. Poin terakhir adalah sikapnya yang mampu menghargai dan membangkitkan semangat umatnya. Kita dapat melihatnya dari pribadi Umar yang tampil sebagai pemimpin yang lemah lembut serta kebijakan politik maupun ekonominya yang adil dan bijaksana pada semua bentuk kelompok.

Sejatinya ada satu plot cerita sederhana yang nantinya akan menjawab sebuah pertanyaan besar tentang sumber kekuatan Umar bin Abdul Aziz yang mengantarkannya pada pencapaian-pencapaian luar biasa. Ada suatu momen sebelum dilantik dimana umar bin abdul aziz membisikan sebuah kalimat pada ulama besar kala itu,  Al imam az Zuhri.  Dan kalimat itu adalah: “Inni Akhafunnar”.  “Saya takut kepada neraka”.  Kalimat inilah yang sejatinya menggambarkan bahwa ternyata Umar bin Abdul Aziz memulai segala kepemimpinannya dari titik terjauh yang ada,  yakni kematian.  Bahwa sejatinya setiap manusia akan mati,  dan pilihan setelah kematian hanya ada dua: syurga dan neraka.  Dan Umar bin Abdul Aziz memulainya bukan dengan harapan akan surga tetapi ketakukan akan neraka.  Itu artinya,  orang boleh tidak membuat pencapaian, tapi setidaknya dia tidak melakukan kesalahan. Lantas apa kaitannya dengan kepemimpinan strategis? Terkadang konsep inilah yang terlupakan. Bahwa sejatinya pada setiap jiwa, sumber energi terbesar untuk mencapai berbagai pencapaian kepemimpinan adalah dengan memaintain ketakutan dan kecintaan terhadap Allah swt. dan Umar bin Abdul Aziz sukses memaintain sumber energinya untuk melakukan berbagai pencapaian besar hanya dalam dua setengah tahun kepemimpinannya.

Lantas pertanyaan besarnya adalah kapan pemimpin yang demikian dengan sumber energi yang kian murni, Allah munculkan di Indonesia?  Mungkinkah itu kamu?

Komentar via Facebook
BAGIKAN