Dahulu Kuliah Hanya Mimpi, Sekarang Saatnya Menginspirasi

0
205

Oleh: Sri Wahyuni (Etoser Surabaya 2017)

Dahulu para pejuang bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan menggunakan bambu runcing sebagai senjatanya. Saat ini kami pasukan Klaten Kolaborasi Kebaikan Etos Road To School (ERTS) menggunakan Gmaps sebagai senjata andalan saat menjelajahi sekolah yang akan kami cari. Sering pula kami tertipu olehnya. Misalnya saat kami hendak mencari SMK Muhammadiyah 1 Prambanan namun Gmaps justru menyasarkan ke MAN Prambanan. Namun kami tak menyerah. Kesadaran dan semangat bahwa pendidikan itu sangat penting membuat rasa lelah, lapar, dan dahaga menjadi teman bukan lawan yang menjadikan kami berhenti.

Saya adalah salah satu korban dari ERTS Jogja yang singgah ke sekolah saya yaitu SMA Negeri 1 Cawas kab Klaten. Dahulu yang saya hanya duduk sambil melihat kakak Etoser Jogja memakai jaket almamater UGM dengan pandangan kabur setelah lulus SMA harus melakukan apa. Namun kini saya telah menjadi bagian dari keluarga etos tepatnya keluarga Etos Surabaya tercinta. Saya yang dahulu diperkenalkan indahnya bangku kuliah. Yang kini giliran saya membuat pandangan kabur siswa SMA seperti saat saya dahulu menjadi lebih nyata. Harapannya rantai kebermanfaatan itu dapat terus berlanjut. Adik saya yang sekarang mendapat info ERTS. Besok menjadi bagian dari ERTS.
Saya kagum terhadap kedua relawan yang membantu ERTS di Klaten. Mbak Ika dan Mbak Ainun. Mbak Ika dahulu adalah kakak tingkat saya sewaktu mendapatkan beasiswa Titian Foundation sewaktu SMA. Saat saya tanya mengapa dia menjadi relawan. Dia menjawab karena saya tidak ingin adik-adik saya bernasib sama seperti saya, sangat ingin mendaftar Etos namun minim informasi. Akupun bertanya lagi kenapa dahulu tidak daftar Etos mbak. Sudah berniat dek tapi takdir mengantarkanku ke program diploma Bahasa Inggris UGM sehingga aku tidak dapat mewujudkan niatku.

Mbak Ainun juga relawan yang sangat menginspirasiku. Ternyata dia adalah kakak tingkatku sewaktu sekolah di SMA N 1 Cawas dan ini adalah tahun keduanya menjadi relawan ERTS. Dia sangat bersemangat bahkan dia bersedia menempuh jalur lebih jauh untuk menjemputku sewaktu akan ERTS. Semangatnya sangat menginspirasi. Saat aku tanya mbak kenapa jadi relawan sedangkan mbak selalu menghabiskan bensin dan tidak dibayar. Karena aku ikhlas dek dan ikhlas itu tidak ternilai. Kata itu langsung menamparku karena aku yang terkadang masih pamrih sementara aku adalah etoser.

Kegiatan ERTS dimulai dengan menyebar undangan. Saat itulah pertemuan kami pasukan Klaten Kolaborasi Kebaikan. ERTS perdana kami di SMK Muh 1 Prambanan. Saat itu saya minim personil sementara perjalan dari Klaten ke Prambanan sangat jauh. Saat itu hanya 4 orang yaitu saya, Mas Mono, Mbak Ratna, dan Mbak Ainun. Saya berksempatan mengisi di jurusan Administrasi perkantoran di SMK tersebut dan semua pesertanya adalah perempuan.Tentu suasananya sangat ramai. Saya berkata bahwa anak SMK bisa kuliah. Saat saya bertanya adakah yang ingin kuliah. Justru keluar celotehan nikah mbak. Namun ada pula yang berkata ingin mbak tapi ya pengen kerja ajalah.
Saat itu bertabrakan dengan mengisi di SMK N 1 ROTA Bayat. Karena waktu telah berputar mendahului dari jam kami janjian untuk mengisi sekolah tersebut dengan sigap kami menuju kesana. Kami menggunakan jam BK saat mengisi disana. Sehingga kami mengisi disana tiga kali dalam seminggu. Terdapat pengalaman saat saya harus mengisi sendirian saat di SMK ROTA saat itu mas Mono sedang sakit selaku pj dan tidak ada relawan. Saya yang masih cethek pengalaman ini harus memberanikan diri termasuk saat mengisi kelas otomotif yang semuanya adalah laki-laki. Tangan saya begitu dingin. Namun saya bisa. Justru saya dapat membuat suasana kelas menjadi tidak tegang.
Terdapat pengalaman saat sebelumnya saya pernah mengisi SMA N 1 Polaharjo bersama organisasi mahasiwa daerah Unair Sapa Negeri dan Ini Lho ITS. Namun karena pasukan Tripel K, Klaten Kolaborasi Kebaikan kekurangan personil saya pun ikut membantu. Banyak siswa SMA Polaharjo yang mengenali wajah saya. Bahkan terdengar celotehan dari salah satu siswa, Wehh.. bukanne mbakke kuwi gek ingi wis rene kok rene neh! (bukannya kemarin kakak itu sudah pernah kesini tapi kok kesini lagi). Nadanya terucap biasa namun senantiasa membuatku tertunduk diam. Kami pun berhasil melakukan ERTS disana. Terdapat salah satu guru yang sangat berterima kasih karena kedatangan kami. Justru meminta kami untuk mengagendakan ERTS di sekolah tersebut untuk tahun depan. Yang senantiasa membuatku ternganga. Rasa malu sungkanku seketika hancur.

Saat menyebar surat perizinan ERTS tepatnya di SMK Nasional Klaten. Saat saat akan menemui guru BK di ruangannya, saya melewati beberapa kelas. Saya tertegun saat seorang guru hanya mengajar satu siswa laki-laki sementara siswa tersebut justru bermain handphone. Sementara di kelas lain seorang guru perempuan sedang mengajar tiga siswanya dalam satu kelas. Gedung sekolahan tersebut luas, gedungnya masih layak, namun penataannya kurang tertata. Dahulu ada dua gedung sekolah tersebut di kanan jalan dan kiri jalan. Namun kini yang digunakan hanya yang kiri jalan, sedangkan yang kanan jalan rusak termakan debu dan waktu. Saat melihat parkiran. Ternyata motor guru yang terparkir di parkiran guru jauh lebih banyak daripada motor siswa. Hampir dua kalinya. Terasa miris.
Saat bertemu dengan guru BK. Saya menyerahkan surat perizinan tersebut. Saya juga bertanya berapa jumlah siswa di sekolah ini pak. Beliau pun menjawab untuk angkatan kelas 3 sebanyak 24 siswa, sedangkan kelas lain tidak jauh berbeda. Aku pun semakin ternganga mendengar jawaban tersebut setelah semua fenomena yang sebelumnya kutemui. Bapak tersebut menolak kami dengan sangat halus. Mbak, terima kasih telah peduli dengan sekolah kami. Saya sangat menghargainya. Namun mbak saya pun pesimis sampai kapan sekolah ini bertahan. Alumni kami pun belum pernah rekam jejak kuliah. Ketika saya sangat ngoyo mendorong mereka kuliah. Namun kondisinya. Ya begini mbak. Mohon maaf. Aku pun meninggalkan surat perizinan tersebut dan meninggalkan beberapa brosur Etos untuk ditempel di mading. Meskipun tidak berkesempatan menginspirasi disana. Harapannya terdapat siswa yang bergerak setelah membaca informasi beasiswa kuliah yang tertempel di mading. Semoga saja plakat alumni kami tidak pernah kuliah dapat hancur.

Setelah meninggalkan sekolah tersebut aku pun masih memikirkannya. Letaknya di kota namun siswanya justru limited edition. Menamparku kembali yang dahulu meskipun sekolah desa namun dapat tercukupi informasi dan fasilitas, siswanyapun juga banyak. Setelah Sembilan belas tahun aku hidup di Klaten. Saya baru tahu jika ada sekolah seperti itu di Klaten dan justru di pusat kota. Semoga saja sekolah itu dapat bertahan. Mencetak tunas bangsa yang baik.

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN