Etoser Hadiri International Cooperation Alliance Asia-Pacific 2017

0
103

Yogyakarta – Salah satu Penerima Manfaat (PM) Beastudi Etos bernama Yogawati dari Universitas Gadjah Mada, berpartisipasi di forum Internasional yang diselenggarakan oleh International Cooperative Alliance Asia Pacific (ICA-AP) di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 13 s.d 17 November lalu. Dalam kesempatan tersebut Yogawati -yang merupakan anggota delegasi Koperasi “Kopma UGM”- berbagi pengalamannya kepada peserta dari berbagai negara.

Dalam konferensi bertaraf global itu ICA-AP berkolaborasi dengan Angkatan Koperasi Kebangsaan Malaysia Berhad (ANGKASA) mengambil  tema “putting people at the centre of development”.Tema ini  diusung untuk memberikan pemahaman kepada para penggerak koperasi bahwa dunia memiliki kekayaan yang besar, di mana sumber akal manusia adalah hal paling penting. Guna melayani kebutuhan masyarakat luas, koperasi dianggap mampu membentuk perusahaan yang senantiasa tumbuh dan berkelanjutan. Diharapkan koperasi mampu menjadikan manusia sebagai pusat pertumbuhan.

Secara kalkulatif, pada 2017 ada 93 negara dan 1000 lebih delegasi menghadiri konferensi ICA-AP antara lain Palestina, Pakistan, Nepal, Bhutan, India, Thailand, Malaysia, Indonesia,  Filipina, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang dan Norwegia.

Konferensi dibuka oleh Menteri Perdagangan, Koperasi dan Konsumen Malaysia, YB Datuk Seri Hamzah Bin Zainudin. Dalam sambutannya, Datuk mengatakan bahwa Malaysia memiliki 12.000 koperasi dengan lebih dari tujuh juta anggota dan omset gabungan sebesar RM 34.950.98m (USD $ 8.126,29). Badan koperasi tertinggi mereka, ANGKASA, didirikan pada 1966 silam untuk menyatukan koperasi Malaysia dan mewakili Malaysia di tingkat nasional serta internasional. .

Hal yang menarik dari konferensi ICA 2017 ialah keynote address dari Monique F. Leroux, Presiden International Co-operative Alliance tentang kontribusi koperasi. Monique mengatakan bahwa gerakan koperasi terbukti dapat berkontribusi untuk masyarakat dunia di berbagai negara. Ada keragaman yang indah dalam koperasi, dan koperasi dapat bersatu dalam keragaman.

“Sebenarnya, gerakan koperasi tetaplah menjadi bagian dari gerakan modern, yang terdepan dalam menjanjikan inovasi sosial dan ekonomi. Gerakan koperasi tidak hanya menguntungkan anggotanya tapi juga semua orang, membawa perubahan positif pada masyarakat di seluruh dunia,” jelas Monique.

Dalam kesempatan kala itu peserta mendapatkan materi tentang manfaat koperasi untuk membangun masa depan lebih berkelanjutan sebagai sebuah gerakan persatuan. Materi tersebut disampaikan langsung oleh Gro Harlem Brundtland, mantan Perdana Menteri Norwegia, penggagas konsep pembangunan berkelanjutan untuk dilaporkan ke Komisi Lingkungan dan Pembangunan Dunia pada tahun 1987.

Linda Yueh, seorang ahli di bidang ekonomi Universitas Oxford, memberikan pandangan globalnya mengenai tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan dengan fokus pada wilayah Asia sebagai wilayah hosting. Ia juga mendiskusikan kemungkinan kontribusi koperasi di beberapa negara. Konferensi ini memiliki beragam jadwal yang terstruktur di seputar empat tema interaktif yaitu: Belajar, Bereksperimen, Berjejaring dan Eksplor. Menurut Yueh koperasi dapat digunakan sebagai sumber daya signifikan untuk melepaskan orang dari jerat kemiskinan, untuk memberdayakan masyarakat lokal dan memperbaiki kehidupan miliaran orang di seluruh dunia.

Konferensi ini tidak hanya mengedepankan pengembangan strategi koperasi pemuda di Indonesia, tetapi juga memperbarui kembali pemahaman identitas dan jati diri koperasi untuk mendukung tujuan Sustainable Development Goals.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY