Filosofi Kopi Dalam Kehidupan Seorang Khofifah Medina

0
223
Filosofi Kopi Dalam Kehidupan Seorang Khofifah Medina
Filosofi Kopi Dalam Kehidupan Seorang Khofifah Medina

Perkenalkan namaku Khopipah Putri Madina Dalimunthe, Sebenarnya aku akrab di panggil Khopipah atau pipah,Namun entah kenapa setelah masuk kuliah aku sering di panggil kopi, dan tentu  saja aku tidak langsung mengamini nama tersebut adalah aku, namun seiring berjalannya waktu aku merasa nyaman dengan panggilan itu, aku merasa seperti terlahir kembali sebagai khopipah yang baru, begitulah sampai aku betul-betul mau di panggil kopi.

Berbicara mengenai kopi, seperti namaku, Khopipah Putri Madina ,aku terlahir di daerah yang terkenal akan kopinya yang khas “Kopi Mandailing” mandailing itu singkatan dari madina yang tentu saja ini menjadi ciri khas tersendiri dari namaku, Khopipah Putri Mandailing Natal (MADINA), dan sekarang kau boleh memanggilku Kopi Mandailing.

Seperti hal nya kopii yang melalui proses yang sangat panjang dan sangat berliku untuk mendapatkan rasa yang terbaik dan aroma yang terbaik, dia melalui proses pembakaran pada suhu 232o C, begitu pulalah dengan ku yang telah melalui proses yang sangat panjang dan berliku hingga aku sampai pada titik ini, titik dimana semua harapanku terasa lebih dekat denganku, dimana aku dengan mudah memperoleh kesuksesanku, namun layaknya sebuah kopi yang begitu nikmat ada sesuatu hal kadang yang membuat ia tidak sempurna dalam pembakarannya, adanya gangguan dari luar adalah penyebab utamanya , dan saat itu pulalah aku kadang merasa aku keluar dari jalur dikarenakan adanya katalis dari luar yang ku harapkan membantuku, namun pada kenyataannya membuatku terperangkap dalam lubang yang begitu dalam, hingga butuh waktu ber tahun-tahun keluar dari jurang tersebut.

Namun tetap seperti kopi yang selalu di tunggu-tunggu kehadirannya,saat dia tidak ada maka sebuah perkumpulan tidak lengkap karenanya, disaat itulah aku mulai bangkit kembali, aku dongakkan kepalaku ke atas melihat langit dan bergumam dalam hati “Banyak yang menunggu kesuksesanmu kop, mamak mu, ayah mu, abang mu” dan asa itu hadir membunuh ketakutan yang telah menjadi-jadii, karena aku percaya semangat keluarga yang menungguku telah aku jadikan sebagai ganti dari luka yang telah terlalu dalam dan sudah cukup membekas.

Dan aku mulai semua ukiran mimpiku dari lomba ini lomba debat RASCIO 2018, lomba yang sangat berkesan dan tentunya sangat menyita perhatianku, dimana aku di tuntut untuk mampu menjadi seorang yang harus tetap berusaha keras untuk memberi bukti bahwa ukiran pertama ini harus sempurna, namun Allah menunjukkan kasih sayangnya kepadaku, Dia berkata “ cari kemenanganmu yang lain, habiskan gagalmu di sini” begitulah, sampai aku menjadi kuat meskipun tidak berbuah mendali. Namun aku akan tetap meniti jalan ini untuk masa depan bangsa,agama dan negara

Komentar via Facebook