GEMA AKSI (Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi) sebagai Tujuan Jangka Panjang Tercipta dan Terpeliharanya Budaya Anti Korupsi di Seluruh Civitas Akademika

0
1605

Oleh : Bakri Tambipessy
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Pattimura

Korupsi di Indonesia sudah dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Berdasarkan survey badan pengawas korupsi dunia, Transparanci Internasional (TI) yang saya kutip dari TEMPO.CO, Jakarta – Lembaga Transparency International (TI) merilis data indeks persepsi korupsi (Corruption Perception Index) untuk tahun 2017. Dalam laporan tersebut, ada 168 negara yang diamati lembaga tersebut dengan ketentuan semakin besar skor yang didapat, maka semakin bersih negara tersebut dari korupsi. Skor maksimal adalah 100.

Gambar 1. Data indeks persepsi korupsi Dunia tahun 2016. Sumber: http//www.tempo.co/read/news/2017

Negara-negara di peringkat teratas adalah Denmark, Finlandia, Swedia, Selandia Baru, Belanda, dan Norwegia. Sedangkan negara dengan peringkat terbawah adalah Sudan Selatan, Sudan, Afganistan, Korea Utara, dan Somalia,” ujar Direktur Program Transparency International Indonesia, Ilham Saenong, saat mengumumkan hasil riset mereka di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu, 27 Januari 2016.

Adapun Indonesia menempati peringkat ke-88 dengan skor CPI 36. Skor tersebut meningkat dua poin dari tahun 2016 yang berada di peringkat ke 107. Meskipun demikian Indonesia tercatat sebagai Negara dengan tingkat korupsi dibawa rata-rata namun tetap saja hal itu berpegaruh besar terhadap sektor pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan karena minimnya anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk membangun bangsa ini ke arah yang berkemajuan.

Berdasarkan Laporan Hasil Survei Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional, oleh Bank Indonesia  pada tahun 2017 bahwa Korupsi merupakan bagian dari tindakan penyalahgunaan kekuasaan, serta mengakibatkan makin besarnya utang suatu negara. Banyaknya kasus tindak pidana korupsi di Indonesia menyebabkan lemahnya pertumbuhan sektor ekonomi Indonesia yang kemudian berdampak pula pada semakin meningkatnya kemiskinan di negara ini.

Gambar 2: Potret pertumbuhan ekonomi Indonesia
Gambar 3: Potret kemiskinan di Indonesia

Pada gambar (2) tentang Pertumbuhan ekonomi di atas bisa kita lihat bahwa daerah-daerah yang diberi warna Hijau Muda, Kuning serta warna Merah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia ini, menunjukan lemahnya kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Belum lagi masalah kemiskinan yang terus menjadi-jadi akibat penyalahgunaan kekuasaan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab serta kesewenang-wenangan dari setiap tindakan yang dilakukanya. Korupsi seperti telah menjadi way of life di Indonesia apalagi virus korupsi telah menggerogoti generasi muda Indonesia saat ini.

Mahasiswa sebagai the agent of change atau agen perubahan yang bertugas untuk menyambung aspirasi masyarakat kepada pemerintah. Namun yang ditakutkan adalah menularnya penyakit ini kepada generasi muda pewaris masa depan bangsa yang ada di seluruh daerah di Indonesia.

Korupsi merupakan tindakan yang menyebabkan sebuah negara menjadi bangkrut dengan efek yang luar biasa seperti terhambatnya pembangunan nasional serta mengakibatkan hancurnya perekonomian suatu negara yang kemudian menyengsarakan masyarakat. Efek kongkretnya saat ini adalah memperparah kemiskinan, pendidikan serta pelayanan kesehatan menjadi mahal, dan yang paling berbahaya adalah meningkatnya angka pengangguran serta memperburuk citra bangsa Indonesia di mata internasional.

Gambar 5. Potret pengangguran di Indonesia 2005-2015

Citra buruk akibat korupsi menimbulkan banyak kerugian di Indonesia. Kesan buruk ini menyebabkan rasa rendah diri saat berhadapan dengan Negara lain dan kehilangan kepercayaan dari pihak lain. Ketidak percayaan pelaku bisnis mengakibatkan investor luar negeri berpihak ke Negara-negara tetangga yang dianggap memiliki iklim yang lebih baik. Kondisi seperti ini dapat merugikan perekonomian dengan segala aspeknya di daerah ini. Pemerintah Indonesia telah berusaha untuk memerangi korupsi dengan berbagai cara, namun tetap saja pelaku tindak pidana korupsi semakin menggerogoti. KPK sebagai lembaga independen yang scara khusus menangani tindak piadana korupsi juga ikut kewalahan dan meminta bantuan dari lembaga-lembaga Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta seluruh elemen masyarakat untuk turut serta dalam mencegah dan membrantas korupsi.

Hal inilah yang kemudian menurut saya akan berdampak pada segi pengembangan kualitas mahasiswa maupun para siswa di jenjang sekolah menengah pertama maupun menengah atas. Karena penyalahgunaan itulah yang juga menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi pemerintah Indonesia di sektor pendidikan.

Gambar 6. Potret korupsi disektor pendidikan 2006-2015

Korupsi dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang oleh karena itu memerlukan upaya luar biasa pula untuk memberantasnya. Upaya pemberantasan korupsi itu sendiri terdiri dari dua bagian besar yaitu penindakan dan pencegahan, tidak akan pernah berhasil optimal jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpa melibatkan peran serta masyarakat atau generasi muda dalam hal ini siswa sebagai pelopor dan aset bangsa ini. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika mahasiswa  sebagai salah satu bagian penting dari generasi muda Indonesia yang merupakan pewaris masa depan diharapkan dapat terlibat aktif dalam upaya pencegahan korupsi di Indonesia.

Keterlibatan mahasiswa dalam upaya pemberantasan korupsi ini, tentu tidak pada upaya penindakan yang merupakan kewenangan institusi penegak hukum. Peran aktif para mahsiswa ini diharapkan lebih difokuskan pada upaya pencegahan korupsi dengan ikut membangun budaya antikorupsi di lingkungan kampus dan lingkungan masyarakat melalui Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi (GEMA AKSI)

Sebagaimana gerakan anti korupsi pada umunya dimana mahasiswa tidak dituntut untuk memberantas korupsi secara langsung atau turun lapangan, tetapi mereka dituntut untuk membrantas korupsi dengan cara pencegahan yang di lakukan dengan berbagai cara mulai dari kampanye di media sosial, sosialisa atau seminar di lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat hinga orasi ilmiah di tengah-tengah masyarakat. Sekali lagi saya ingin jelaskan bahwa, Keterlibatan Mahasiswa dalam upaya pemberantasan korupsi ini tentu tidak pada upaya penindakan yang merupakan kewenangan institusi penegak hukum.

Mahasiswa diharapkan dapat berperan sebagai agen pengontrol dan agen perubahan (the agent of control and the agent of change) sekaligus berperan sebagai motor penggerak gerakan “GEMA AKSI” di sekolahnya masing-masing, selain itu mahasiswa juga harus berbagi pengetahuan korupsi beserta dampaknya  kepada para mahasiswa lainya di saat Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK) oleh karena itu agar seluruh siswa dapat berperan aktif, maka seluruh siswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya saat pelaksanaan  OSPEK maupun melalu pelajaran anti korupsi yang diberikan oleh dosen di dalam kelas. Untuk keperluan pembelajaran maka dipandang perlu adanya mata kuliah pendidikan anti korupsi di seluruh fakultas dan jurusan di setiap universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Diadakannya mata kuliah pendidikan anti korupsi bagi mahasiswa ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya serta menanamkan nilai-nilai budaya anti korupsi bagi seluruh mahasiswa. Tujuan jangka panjangnya adalah tercipta dan terpeliharanya budaya anti korupsi di seluruh civitas akademika dan mendorong mahasiswa untuk dapat berperan serta aktif dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Komentar via Facebook
BAGIKAN