Haruskah Sebuah Tradisi Lenyap Saat Ramadan? Cari Tahu Di Sini!

0
53

Haruskah Sebuah Tradisi Lenyap Saat Ramadan? Cari Tahu Di Sini!

Oleh: M. Zulfitra Rahmat

 

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Di bulan Ramadan Allah Swt. menurunkan banyak rahmatnya seperti pahala berlipat ganda dan juga Malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika dikonversi menjadi tahun akan sama dengan 83 tahun. Beribadah pada malam itu seolah–olah beribadah selama 83 tahun. Malam Lailatul Qadar hanya diberikan kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Malam ini merupakan salah satu bentuk rahmat Allah Swt. yang besar kepada umat Islam.

Hikmah dari ini malam Lailatul Qadar adalah ibadah yang bisa menembus waktu. Anlogikan saja umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad yang berumur ratusan tahun  ibadahnya dengan umur  ibadah umat Nabi Muhammad, tentu umat Nabi Muhammad tidak akan bisa menandingi ibadah mereka. Namun hal itu menjadi mungkin  jika berhasil mendapatkan malam Lailatul Qadar. Satu malam setara dengan ibadah 83 bulan. Misalkan saja berhasil mendapatkan 10 kali malam Lailatul Qadar seolah-olah telah beribadah selama 830 tahun. Hal ini menunjukan umat Islam bisa mengerjar ibadahnya umat-umat Nabi terdahulu yang umur ibadahnya jauh lebih lama. Sungguh ini adalah kemulian yang diberikan oleh Allah Swt. kepada umat nabi Muhammad Saw. yang tidak diberikan kepada umat nabi-nabi dan rasul sebelumnya.

Bulan Ramadan juga bulan diturunkannya Al-Quran. Al-Quran merupakan petunjuk bagi umat manusia, siapa yang mengimaninya akan mendatakan petunjuk karena dalam Al-Quran sudah tercantum semua hal untuk menentukan ke jalan yang benar. Semua ilmu ada di dalam Al-Quran artinya Al-Quran jika diimani dan diamalkan akan membentuk manusia yang unggul dan berkarakter kuat. Jika manusia-manusia Islam sudah unggul dan berkarakter kuat tentu peradaban Islam akan kembali berjaya.

Bulan Ramadhan adalah bulan dengan banyak berkah tapi banyak sekalai umat Islam yang tidak menyadarinya. Banyak umat Islam terjebak dalam tradisi atau kebudayaan untuk menyambut atau melaksanakan ibadah suci ini. Dalam tradisi Minangkabau ada yang namanya Balimau. Balimau artinya adalah membersihkan diri. Tapi Balimau sekarang sudah disalahartikan tanpa mengetahui apa hakekat dari Balimau itu sebenarnya. Oleh karenya sebelum Ramadan datang banyak orang yang pergi mandi-mandi bersama-bersama ke tempat pemandian umum atau ke tempat wisata air. Masyarakat berbondong-bondong pergi tempat tersebut. Muda-mudi juga ambil bagian tapi mereka lebih cenderung untuk pergi ke tempat wisata alam seperti panorama atau daerah perbukitan yang hijau. Balimau versi sekarang menyebabkan banyak kerugian, kecelakaan dan maksiat yang dilakukan oleh muda-mudi. Maksud hati untuk membersihkan diri tapi sebenarnya mereka sedang mengotori diri sendiri.

Membersihkan diri memang dengan air  tapi pada hakekatnya membersihkan diri adalah membersihkan diri dari hal-hal yang akan bisa mengurangi nilai puasa kita ketika sudah memasuki Ramadan. Maaf dan hutang itulah yang akan menghalangi kita. Tidak akan diterima puasa seorang hamba jika anak tidak minta maaf pada orang tua, istri pada suami, dan antara sesama tetangga. Doa ini adalah doa Jibril dan diaminkan oleh Nabi Muhammad. Sudah pasti doa ini dikabulkan oleh Allah Swt. Di sinilah letak membersihkan diri yang dimasud. Jadi sebelum memasuki Ramadan sudah dalam keadaan yang saling memaafkan.

Perkara hutang juga sudah harus lunas atau telah terjadi kesepakatan sebelumnya terkait hutang yang tidak dibayar. Perkara hutang adalah perkara yang kelihatannya sepele tapi bisa menimbulkan dampak negatif yang besar yaitu rusaknya silaturahmi. Arti penting dari membayar hutang adalah ditakutkan nanti selama bulan Ramadan perkara hutang-piutang akan merusak puasa. Bisa jadi pengutang tidak mampu membayar hutangnya  lalu si pemberi hutang marah mengumpat, mencela. Rusaklah puasa dua-duanya. Pemberi hutang rusak puasanya karena kemarahanya semenetara pengutang rusak puasanya karena menyebabkan orang lain rusak puasanya.  Kemungkinan lain adalah pengutang berbohong kepda pemberi hutang bahwa tidak ada uang karena baru membayar suaut hal padahal sebenarnya dia tidak ada uang sama sekali. Pengutang telah berbohong  dan ini bisa merusak kesempurnaan puasanya. Itulah mengapa sebelum memasuki bulan puasa dianjurkan untuk membayar hutang.

Kembali ke masalah bulan Ramadhan yang penuh berkah, banyak orang yang melaksanakan tarawih-witir angek-angek ciik ayam. Malam pertama ramai tapi  malam beriktnya semakin berkurang dan semakin berkurang sampai di mesjid atau mushola yang tingga hanyalah para camat. Camat adalah plesetan untuk calon mati atau orang-orang yang sudah  tua. Kenapa ini bisa terjadi padahal suasana malamnya masih sama, jam tarawi- witirnya masih sama, eneginya masih sama, imamanya masih sama dan mesjid atau musholanya masih sama. Sebagian orang beralasan bacaan imam terlau panjang sehingga sholat menjadi lama padahal lamanya  sibuk denga urusan dunia dibanding Salat Tarawih-witir juah tidak proposional. Waktu untuk tarawih-witir hanya 30 menit sementara waktu yang dihabiskan untuk  urusan dunia sisa waktunya selama 24 jam. Sungguh tidak adil manusia, wajar di bulan  Ramadan banyak orang yang tidak mendapatkan berkah padahal bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah.

Sebenarnya bulan Ramadan bagi kebanyakan orang hanya dijadikan sebagai bulan tradisi atau kebudayaan. Pertama tadi sudah disebutkan Ramadan adalah  bulan balimau, berikutnya bulan tarawih-witir di mana giat-giatnya orang ke musola atau masjid dan  terakhir jika melihat fenomena yang terjadi hari-hari akhir  bulan Ramadan pantas  bulan ini disebut sebagi bulan kue.

Sepuluh malam terkahir seharunya untuk berdiam di mesjid tapi kebanyakan orang memperlama diri untuk duduk membuat kue, rendang atau ketupat. Belum lagi urusan baju lebaran, mempecarntik rumah dan hal-hal lainnya untuk mempersiapkan sisi tradisi dari Idul Fitri.  Seharusnya mendapatkan malam Lailatul Qadar tapi yang didapakan hanyalah manisnya kue dan cantiknya rumah atau mengkilapnya baju lebaran. Ramadan dan Idul Fitri hanya dijadikan sebagai kebudayaan atau tradisi.  Mungkin ini adalah  cara Allah untuk menyeleksi hamba-hamba-Nya. Akan terlihat mana yang  benar-benar beriman dan mana yang beriman karena orang lain, ikut-ikutan atau karena kebudayaan dan tradisi.

Pantas orang–orang tua dahulu mengatakan kalau puasa kebanyakan orang adalah puaso ikua mancik atau puasa ekor mencit. Dipangkal besar tapi semakin ke belakang semakin kecil. Itulah yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat. Di awal  sangat bersemangat tapi di akhir semakin mengecil oleh kebudayan dan tradisi yang telah terbentuk dari tahun ke tahun, generasi ke generasi. Inilah yang terjadi di masyarakat dan sepertinya akan terulang di tahun-tahun berikutnya. Waalluallahbissowab.

 

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN