Implementasi Nilai-nilai Kepemimpiman

0
400

Oleh: Deratih Putri Utami Awaliyah Firdaus – Universitas Sriwijaya

Memaknai sebuah kepemimpinan, tentu kita sudah harus mengerti apa itu kepemimpinan, bagaimana kepemimpinan dapat menjadi wadah untuk menyelesaikan tugas besar dalam suatu pergerakan dengan baik, apa yang harus dipersiapkan dalam menjadi seorang pemimpin, bagaimana sosok pemimpin yang bisa dikatakan ideal sehingga dapat menjawab segala tantangan pergerakan tersebut kedepan, Menurut  Jacobs dan Jacques, Kepemimpinan merupakan sebuah proses memberi arti terhadap usaha kolektif, dan mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. Artinya dalam sebuah kepemimpinan, pemimpin wajib menjalankan suatu pergerakan yang memiliki tujuan bersama serta tidak menganggap sebelah mata segala upaya dari orang-orang yang ada dibawah naungannya. Tentu untuk memberikan sebuah arti terhadap usaha kolektif sangat sulit dijalankan, akan banyak sekali sekali nilai-nilai yang perlu diimplementasikan oleh seorang pemimpin yang kemudian nilai ini nantinya akan ditularkan kepada orang-orang yang bersatu padu dalam sebuah gerakan tertentu. Nilai-nilai yang perlu disadari, diyakini serta diimplementasikan oleh seorang pemimpin telah dijelaskan secara konseptual oleh tokoh pendidikan nasioanl, KI Hajar Dewantara yang mengacu pada 4 nilai yaitu tetep, Teteg, Antep dan Mantep.

Tetep artinya seorang pemimpin harus memiliki ketetapan dalam berpikir yang sifatnya stabil tanpa mudah terpengaruh oleh lingkungan serta  tidak harus takut akan ancaman yang datang dari manapun seperti ancaman dilengserkan dari jabatan. Tetep ini juga termasuk didalamnya adalah menelisik lebih dalam mengenai isu-isu yang sedang bergulir sehingga tidak mudah terprovokasi terhadap isu tersebut. Nilai kedua yang harus dimiliki adalah teteg yang merupakan definisi dari seseorang yang akan tidak tergoyahkan oleh berbagai godaan yang mungkin akan datang ketika menjadi seorang pemimpin, seperti harta serta tahta. Kebobrokan mental dan integritas seorang pemimpin akan sangat jelas terlihat ketika godaan tersebut tidak berhasil mempertahankan nilai-nilai ideologisnya. Dari sikap resistensi atau tidaknya seorang pemimpin terhadap berbagai godaan inilah yang akan menggiring opini publik mengenai karakter seorang pemimpin yang sesungguhnya. Nilai ketiga adalah Antep yang diartikan sebagai orang yang berilmu serta memiliki wawasan luas. Menjadi pemimpin yang berilmu serta berwawasan luas merupakan suatu keharusan, mengapa? Karena kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi ketika pemimpin tidak mengetahui banyak tentang kepemimpinan, tidak mengetahui banyak tentang masalah-masalah global yang sedang hangat diperbincangkan disegala media masa, yang akan terjadi adalah akan terlahirlah pemimpin “boneka”, dimana banyak orang-orang yang memanfaatkan kebodohan pemimpin dengan menjadi dalang-dalang penguasa yang bebas melakukan manuver disegala aspek. Permainan antara dalang dan seorang penguasa boneka tentu akan terus berlangsung dalam arena kekuasaan melalui pemberian pemahaman-pemahaman yang dikemas sebaik mungkin dengan tujuan yang tersirat tanpa disadari oleh pemimpin tersebut. Niali terakhir adalah mantep. Menjadi seorang pemimpin kita harus memberikan hati yang seutuhnya dalam menjalankan tugas pokok seorang pemimpin. Apa yang akan terjadi ketika kita mengamalkan nilai mantep? Setiap pekerjaan yang kita jalankan tidak akan menjadi beban dan cendrung memberikan hasil yang optimal. Ada satu nilai mendasar yang perlu kita tempatkan sebagai urutan terdepan dalam menjalankan roda kepemimpian yaitu religiusitas. Sosok pemimpin harus beriman atas agama yang dianutnya, karena dengan keyakinan ini akan melahirkan sifat keteguhan hati, kepasrahan diri setelah berikhtiar, kesabaran dan keikhlasan dalam memimpin serta kejujuran dalam setiap gerak dan kerja.

Pengamalan nilai-nilai kepemimpinan yang telah dijelaskan sebelumnya tentu tidak akan bisa dicapai secara instan, perlu adanya proses pembelajaran yang bisa didapatkan dari beragam masalah-masalah kehidupan yang pernah kita alami, kemudian kita renungkan apa yang salah dari sebuah proses yang kita jalankan atau apa yang salah dari sebuah keputusan yang pernah kita tetapkan. Pencapaian nilai-nilai kepemimpinan dapat juga dilakukan melalui membaca biografi tokoh pemimpin dunia atau bahkan berdiskusi dengan stakeholder, membaca buku yang membahas tentang bagaimana cara kita agar mampu memahami arti filosofis dan masalah-masalah pergerakan sehingga kita dapat meyakinkan sikap apa yang akan dilakukan jika sewaktu-waktu masalah tersebut akan menimpa kita.

Lantas apa yang akan terjadi ketika semua nilai-nilai tersebut sudah terpatri kuat dalam jiwa seorang pemimpin? Akankah nilai tersebut dapat memberikan perbedaan yang signifikan terhadap capaian kedepan sebagai seorang pemimpin? Nilai-nilai tersebut akan mengantarkan kepada sebuah sistem kepemimpinan yang ideal yaitu kepemimpinan strategis dimana akan terlahir pempimpin-pemimpin yang mampu berpikir secara strategis, memiliki fleksibilitas yang baik ketika sewaktu-waktu dalam proses ditemui beragam masalah sehingga dapat beralih pada rencana yang sudah dipikirkan sebelumnya serta mampu melakukan kolaborasi kerja dengan orang lain untuk menciptakan suatu gerakan yang akan memberikan pengaruh besar untuk kemaslahatan hajat hidup orang banyak.

Komentar via Facebook
BAGIKAN