Karena Kita Memang Butuh Pemimpin Strategis

0
35

Oleh: Panji Laksono

PM Baktinusa 7 IPB

 

Selintas sempat mampir dalam pikiran begitu melihat spanduk di pinggir jalan tentang ajakan ikut berkurban. Spanduknya berujar “Kami antar sampai ke desa agar tidak menumpuk di kota”. Terdengar familiar? Ya.. sebab cukup bisa ditemui ragam tulisan seperti ini. Sejurus hinggap di benak pesan yang disampaikan. Apa yang ditonjolkan adalah solusi dari tantangan distribusi yang jadi jurang pemisah antar daerah.

Apakah kawan bisa melihat potensinya? Bayangkan dalam sekali waktu ada begitu banyak stok daging yang bisa kawan kelola. Bayangkan dalam beberapa waktu mendatang, roda transaksi berputar diseputar jual dan beli hewan kurban. Bayangkan dalam sekali waktu setidaknya ada sumber daya yang begitu besar yang bisa memberi manfaat untuk orang banyak.

Pikir saya saat itu tertuju pada beberapa hal:

  1. Adakah lembaga, instansi, badan, atau apalah namanya dari negara yang mengurusi pendistribusian daging kurban?
  2. Ada tantangan distribusi yang mesti diselesaikan.
  3. Kalau kemudian hasil dari kurban ini dibagikan kepada rakyat miskin, apakah daging yang rakyat miskin butuhkan?

Tiga poin ini coba saya jawab sendiri sambil berpikir adakah yang bisa dilakukan untuk memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat, menyelesaikan permasalahannya, sesuai syariat, dan. keren.

Poin pertama, setahu saya dan setelah bertanya ke beberapa orang teman, belum pernah tahu atau juga mendengar ada badan dari negara yang mengurusi distribusi daging kurban secara nasional. Sejauh ini lembaga-lembaga NGO yang menjalankan urusan-urusan ini. Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah melakukan upaya untuk meningkatkan pengawasan teknis kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, tapi belum pada aspek distribusinya. Regulasinya ada di Permentan no 114 tahun 2004 tentang pemotongan hewan kurban.

Memangnya penting? Yaa.. coba direnungkan sejenak. Selama ini, pelaksana pemotongan dari DKM Masjid setingkat RT/RW. Apakah tiap RT/RW punya jumlah hewan yang sama untuk dikurbankan? Saya rasa belum tentu. Ada wilayah yang melimpah daging sedangkan wilayah lain sedikit daging, mudahnya demikian.

Poin kedua, saya kira mudah dipahami. Bagaimana kita memberikan kesempatan wilayah lain yang kekurangan sedangkan di suatu wilayah melimpah ruah. Bagaimana esensi berbagi dari kurban itu benar-benar bisa dirasakan.

Poin ketiga, ini menarik menurut saya. Dan masih sangat butuh ide, ilmu, dan masukan.

Sesuatu bisa dikatakan solusi ketika ia mampu menyelesaikan permasalahan atau memenuhi kekurangan dari kebutuhan yang ada. Daging, mungkin barang yang tidak terlalu dibutuhkan oleh orang yang dikatakan membutuhkan. Mereka mungkin lebih membutuhkan uang untuk biaya UKT atau biaya sekolah anak-anaknya yang selangit. Atau untuk membeli token listrik yang sekarang Tarif Tenaga Listriknya sudah ‘disesuaikan subsidinya’, atau beli sembako, BBM, berobat ke rumah sakit, dll.

Saya hanya membayangkan.. untuk masyarakat menengah yang punya rumah, mungkin akan mudah mengolah daging tersebut. Tapi bagaimana dengan saudara kita yang hanya bisa memimpikan hal itu? Syukur mereka itu ketika selembar selimut bisa didapat untuk tidur malam nanti. Syukur mereka itu ketika hal-hal sederhana yang receh untuk kita, sangat berarti untuk mereka.

 

 

Idenya adalah.. bisakah dari kurban, kita berikan apa yang dibutuhkan orang lain? Bisakah dari kurban, sesuatu yang berarti dan berguna itu benar-benar menyentuh hal esensial yang diperlukan.

Bentuknya apakah konversi atau pembelian oleh suatu badan/lembaga. Tentunya harganya juga bersaing. Ini dilakukan ketika transaksi kurbannya sudah selesai, jadi dagingnya sudah jadi hak penerima.

Dagingnya diapakan? Daging yang dihimpun bisa diolah, dijadikan barang yang lebih bernilai dan tahan lama. Kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi atau disumbangkan ke wilayah yang membutuhkan makanan. Keuntungannya? Tentunya dikembalikan ke masyarakat lewat program-program sosial atau bantuan makanan.

Idealis banget sih mas? Biarin.. idealisme itu adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda, dan kalau boleh saya memutuskan untuk terus muda dan terus hidup. Tentu secara filosofis  jangan dipelintir saya menentang ketentuan Allah yaa hehe.

 

Saya cuma memikirkan United Nation mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs). Poin no 1 dan 2 adalah no poverty dan no hunger, relevan saya kira dengan bahasan di awal. Idenya ikhtiar untuk mencapai cita-cita ini.

Pew Research Center memprediksikan lewat riset yang dilakukannya bahwa pada tahun 2035, Islam akan menjadi agama terbesar di dunia. Hal ini karena diprediksikan jumlah bayi yang lahir dari keluarga muslim akan naik secara konsisten hingga tahun 2035. Hal ini merupakan sebuah potensi yang besar sekaligus tantangan yang nyata di masa mendatang.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim yang besar yakni sekitar 207,2 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari total populasi.

Indonesia pada 2025 hingga 2030 diprediksikan mendapatkan anugerah bonus demografi, di mana jumlah usia produktif akan sangat banyak. Setidaknya satu orang usia produktif akan mampu menopang hidup dua orang usia non produktif. Tentu hal ini merupakan potensi yang luar biasa karena kelimpahan iron stock ini berpotensi memajukan Indonesia dengan menggerakkan sendi-sendi pembangunan negara. Namun kita tak bisa menutup mata pada kemungkinan tantangan yang muncul di mana kelimpahan usia muda justru memberatkan jika ternyata tidak mampu menjawab kebutuhan nasional dan global.

Maka sederhananya Indonesia harusnya sangat bisa sejahtera. Dengan potensi muslim yang besar, kita cuma butuh pengorganisasian sehingga harmonis dan bisa berdampak. Kita butuh pemimpin yang strategis yang bisa memaksimalkan potensi ini. Kepemimpinan strategis akan bisa melihat potensi ini untuk bisa dimaksimalkan bagi kebermanfaatan orang banyak.

Tulisan ini agaknya hanyalah refleksi ide dan gagasan. Masih sangat banyak lubang dan ruang yang mesti dilengkapi agar jadi paripurna. Ide ini mungkin klasik dan sudah pernah disampaikan. Ndak apa, yang penting adalah proses berpikirnya.

Lewat tulisan ini sembari ingin mengajak kawan-kawan untuk bergerak. Bahwa ada suatu hal yang bisa kita lakukan untuk orang lain, masyarakat banyak, dan negara.

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY