Karena Kreativitas Merupakan Bekal Pemuda Milenials

0
323

Karena Kreativitas Merupakan Bekal Pemuda Milenials

Solo- Menurut hasil riset gabungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Ekonoi Kreatif (BEKRAF) pada 2015, sektor Ekraf berhasil menyerap 15,9% tenaga kerja dan menyumbangkan nilai ekspor sebesar Rp 19,4 miliar dolar AS (Outlook Ekraf 2017).  Melihat potensi tersebut Future Leader Camp (FLC) 2018 mengadakan workshop Innovation for Social Movement bersama Hakam el Farisi, CEO bawaberkah.org di Solo Tecno Park pada Sabtu (05-05) kemarin.

Hakam mengungkapkan jika anak muda minim akan pengalaman, sebab itulah para milenials tak hendak menawarkan masa lalu, melainkan menawarkan masa depan. Hal ini terjadi karena saat ini industri kreatif bukan hanya milik perusahaan, tetapi juga milik personal melalui branding yang mereka ciptakan.

“Anak muda zaman now memiliki kesempatan yang luar biasa besar. Mereka dapat menciptakan brand-nya sendiri tanpa harus berafiliasi dengan suatu perusahaan,” ujar Hakam di depan 64 aktivis BAKTI NUSA terpilih.

Pada kesempatan kala itu Hakam mengajak para aktivis untuk mencintai masalah, karena menurutnya masalah adalah hal baik yang mampu menciptakan sektor kreatif baru.

“Jangan takut akan masalah, tapi cintailah masalah. Karena percaya atau tidak dari masalahlah banyak hal baru tercipta, misalnya ketika kalian kesulitan untuk ke mana-mana tapi lapar, sekarang sudah bisa pesan melalui aplikasi dan lain sebagainya,” ungkap Hakam.

Hakam menjelaskan jika bawaberkah.org juga tercipta karena adanya masalah kemanusiaan yang terjadi di Indonesia, ia berkhidmat untuk menghimpun kekuatan berbagi masyarakat lewat satu wadah besar di bawah naungan Dompet Dhuafa. Hanya saja, menurutnya, sebelum melenggang di dunia e-commerce banyak kesalahan dilakukan pelaku kreatif. Padahal ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti mengidentifikasi customer dan harus bisa memahami kebutuhan customer sebelum bisa melepas sebuah produk atau jasa.

“Kita itu harus bisa menentukan permasalahan atau menjelaskan kebutuhan customer dengan kalimat yang jelas dan lugas, misalnya “bagaimana meningkatkan pendapatan nelayan?” atau “bagaimana meningkatkan awareness kepada publik?” Itu penting karena ini menjadi bagian strategi untuk meng-grab customer,” jelasnya.

Selama workshop berlangsung Hakam berusaha membangunkan ide-ide hebat para aktivis yang dapat menjadi solusi terhadap permasalahan.

“Abaikan solusi itu bisa dieksekusi atau tidak, fokus saja kepada solusi-solusi yang dirasa menjawab masalah,” tambahnya.

Untuk menghasilkan solusi tersebut para aktivis diminta melakukan tiga proses yakni Brainstorming, setiap peserta menuliskan 15 solusi yang terbaik; Mengelompokkan solusi tersebut menjadi 3 hal: feasible, viable, dandesirable; Voting, pemilihan solusi terbanyak (high value, effortless).

“Jangan lupa untuk mengaplikasikan ide-ide terbaik yang telah dipilih ke dalam bentuk cerita, karena melalui cerita kita telah membangun koneksi dengan customer,” ungkapnya.

Puas membangun kreativitas para aktivis, pada sesi lanjutan Hakam memaparkan bahwa digital fundraising dan crowdfunding untuk peluang donasi online sangatlah besar dan berdamnpak luar biasa. Mengingat saat ini masyarakat tak lepas dari teknologi, sehingga mereka lebih menyukai hal-hal sederhana yang dapat diakses langsung dari gawai.

“Melalui digital fundraising kita memiliki beberapa keuntungan diantaranya lebih luas, tertarget, lebih cepat, mudah, lebih efisien, dan terukur. Itulah kenapa digital fundraising lebih diminati,” kata Hakam berapi-api.

 

Sebelum menutup workshop Hakam berpesan jika pemuda jangan lengah dan jangan malas untuk berinovasi, sebab menurutnya pemudalah yang harus membangkitkan negeri ini melalui inovasi dan ide-ide luar biasa.

 

“Jangan sampai malah asing yang menguasai negara kita, ingat negara ini dibangun dengan kekuatan dan darah pemuda negeri, kalianlah yang HARUS membuat negara ini lebih hebat lagi,” tutupnya. (AR)

 

Komentar via Facebook