Karena Mendidik dan Memanjakan Tidaklah Sama

0
822

Oleh: Purwo Udiutomo

unnamed

Adalah Kanda Kazumi, siswi yang ceria, ramah dan setia kawan yang mencoba mengembalikan ‘keceriaan’ kelas seperti sebelumnya. Cengkraman Oni Sensei yang begitu kuat di lingkungan sekitarnya justru membuatnya berkali-kali terlibat masalah hingga nyaris putus asa. Disinilah mulai terlihat maksud baik dari Oni Sensei di balik segala sikap dingin dan menakutkannya. Metode yang diterapkan tanpa disadari terbukti mampu menyatukan kelas, membuat siswa tidak ada yang terlambat, gemar belajar dan lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Jika sebelumnya, Oni Sensei begitu menyebalkan, akhirnya justru malah dicintai. Maya Akutsu telah mengajarkan bahwa mencintai siswa bukan berarti selalu menuruti kemauan mereka dan harus tetap ada jarak antara pendidik dengan peserta didik sehingga guru tetap dihormati dan tidak diremehkan. Maya Akutsu menunjukkan totalitas dalam mendidik, di balik sikap dinginnya, ternyata ia nyaris tidak tidur hanya untuk memastikan semua siswanya dalam keadaan baik dan ia dapat membuat laporan perkembangan harian per siswa. Berbagai pengalaman pahitnya dalam mengajar membuatnya harus mengajarkan kepada siswa realita kehidupan yang keras, tidak ada waktu untuk bersikap malas dan manja, sekaligus mengajarkan bagaimana bisa tegar dan keluar dari keputusasaan.

Sudah lumrah, cinta memang akan membuat seseorang mencintai segala yang dicintai oleh yang dicintainya. Kecintaan kita terhadap seseorang yang kita didik kerap kali membuat kita memanjakannya dengan mencoba memenuhi segala keinginannya. Padahal mendidik jelas berseberangan dengan menuruti syahwat orang yang didik dan membiarkan mereka merasa aman dari berbagai kesalahan. Pendidik harus berani menegakkan aturan main yang kadangkala harus juga menjalankan peran antagonis terhadap yang dididik, mulai dari menegur, memarahi bahkan menghukum. Hukuman atas penyelewengan terhadap aturan main merupakan bagian dari mendidik karakter selama tidak dilandasi kebencian dan tidak dilakukan berlebihan, baik verbal, fisik maupun mental. Pun demikian, aturan main tidak seharusnya berupa ancaman yang menakutkan dan hukuman pun hendaknya disesuaikan dengan motif/ alasan seseorang yang kita didik sehingga tidak menimbulkan trauma yang berdampak buruk di masa mendatang.

Keteladanan, ketegasan dan konsistensi adalah tiga hal yang menjadi syarat sekaligus tantangan dalam mendidik. Tanpa keteladanan, tiada arti segala aturan, tiada makna segala aturan. Tanpa ketegasan takkan lahir kedisiplinan. Dan tanpa konsistensi, perbaikan yang terjadi akan segera terhenti. Lalu bagaimana dengan memanjakan? Memanjakan dalam artian mencurahkan kasih sayang jelas tidak bertentangan dengan tiga hal di atas. Memanjakan dalam konteks upaya memberikan yang terbaik, dari harapan dan kenangan orang yang dicintai juga tidak akan saling melemahkan dengan upaya mendidik. Namun ketika memanjakan didefinisikan sebagai menuruti semua kemauan dan memenuhi segala keinginan, ia akan kontraproduktif dengan esensi pendidikan. Ketika memanjakan diartikan sebagai tidak pernah menegur, memarahi apalagi sampai menghukum, maka yang terbentuk hanyalah seonggok manusia arogan yang merasa tidak pernah salah.

Mendidik berarti menguatkan nilai-nilai positif dalam hidup, sedangkan memanjakan akan melemahkan jiwa. Mendidik akan membentuk mental yang kuat, sedangkan memanjakan akan melahirkan penakut dan pecundang. Mendidik akan membentuk sikap dan karakter yang kuat, sedangkan seseorang yang terbiasa dimanjakan akan mudah terbawa arus. Pendidikan akan mengajarkan kesulitan dalam realita hidup dan cara mengatasinya, sementara seseorang yang terus dimanjakan akan rapuh ketika menghadapi masalah, mengeluh ketika menemui kesulitan dan cepat putus asa ketika usahanya tak jua menemukan hasil. Di satu sisi, ia akan urakan, tidak taat aturan. Di sisi lain, ia tergantung orang lain, tidak bisa mandiri.

Semasa SMA, ada seorang guru yang sangat ditakuti, tegas dan tidak segan mengeluarkan siswanya dari kelas. Penulis bahkan pernah memperoleh nilai 0 (nol) karena dinilainya tidak serius (bercanda) ketika ulangan. Namun ternyata kelas yang diajarnya selalu lebih unggul dibandingkan kelas lain. Metodenya terbukti efektif bagi siswa dalam menagkap pelajaran. Dan dibalik ketegasan almarhumah, penulis tahu benar besarnya perhatian beliau pada siswa-siswanya. Ya, karena mendidik berbeda dengan sekedar mengajar, apalagi memanjakan. Selain ilmu, ada nilai-nilai tentang kehidupan yang menyertainya. Ayah penulis bukan seseorang yang dekat dengan anak-anaknya karena ketegasannya, namun beliau menjadi figur ayah yang dihormati dan tidak diragukan kecintaannya kepada keluarganya. Ya, karena cinta tidak melulu ditunjukkan dengan keakraban tanpa jarak, apalagi jika kita berbicara tentang pendidikan anak.

Bicara tentang pendidikan, berarti berbicara tentang kualitas SDM di masa mendatang. Untuk menyukseskannya dibutuhkan pendidik yang dapat menjadi teladan, tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan. Sudah terlalu banyak aturan yang dilanggar karena pola didik yang memanjakan. Egaliter dalam mendidik jangan sampai menurunkan wibawa pendidik yang sudah sewajarnya ada ‘di atas’ yang dididik. Ketegasan dan kedisiplinan mungkin akan terasa tidak menyenangkan bahkan membebani, namun seperti itulah perwujudan cinta. Buah hasil pendidikan memang baru dapat dinikmati di masa mendatang. Kegigihan dan ketegaran yang lahir dari sikap tidak memanjakan mungkin baru akan terasa manfaatnya ketika yang didik sudah tidak lagi bersama pendidiknya. Mereka yang dididik dengan tidak dimanja akan lebih siap menghadapi dunia. Tidak salah nasehat Abu Syauqi, “Jika kita terlalu memanjakan diri kita sendiri, dunia akan keras pada diri kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, dunia akan memanjakan kita

Open your eyes. Of course there are going to be worries in life. The important things are not losing confidence, not paying attention to rumors, and not hurting others…
(Maya Akutsu, “The Queen’s Classroom

Komentar via Facebook
BAGIKAN