Keajaiban 100 Mimpi

0
201

Setahun lalu, ketika saya menjadi mahasiswa baru dan mulai mengenal Beastudi Etos, saya ‘dipaksa’ untuk menuliskan 100 mimpi saya. Waktu itu yang ada di pikiran saya adalah “wah, banyak banget”, saya sampai bingung menuliskannya. Segala jenis mimpi saya tuliskan, dari impian kecil seperti ‘bertemu MAWAPRES UB’ sampai impian yang mungkin terdengar tidak masuk akal, yaitu ‘membeli saham Gojek’. Saya berpikir, menuliskan mimpi-mimpi itu hanyalah buang-buang waktu dan menguras tenaga, alias percuma. Namun, semakin banyak hari yang saya lewati sebagai mahasiswa, 100 mimpi itu mulai bekerja.

Pada suatu siang saat menjabat sebagai mahasiswa baru, saya melihat sosok MAWAPRES UB. Karena teringat dalam 100 mimpi saya salah satunya adalah bertemu MAWAPRES UB, dengan cepat saya menemuinya, dan mengajaknya bincang-bincang dalam perjalanan pulang, karena kami searah. Pertemuan singkat itu berakhir, salah satu mimpi mulai tercoret. Beberapa bulan kemudian, saya ditunjuk menjadi moderator sang MAWAPRES UB tersebut dalam sebuah acara. Sebelum materi berlangsung, kami membicarakan banyak sekali hal-hal seperti prestasi, organisasi, dll. Dari acara itu, kami mulai mengenal dan akrab satu sama lain. Hingga pada suatu malam, saya mendapat chat darinya yang isinya mengajak saya pada suatu kompetisi penalaran di Malaysia, International Research, Invention, Innovation & Solution Exposition. Yang pertama saya rasakan adalah kaget dan bingung, lomba di dalam negeri saja belum pernah, eh tiba-tiba ikut lomba di luar negeri. Seketika terngiang di pikiran saya, bagaimana dengan biaya pesawat, penginapan, registrasi, dan biaya-biaya lain yang harus saya tanggung? Namun akhirnya saya menerima tawaran tersebut, dengan memegang teguh kata ‘Allah Maha Kaya’.

Banyak hal-hal yang kami lewati selama memperjuangkan tim untuk mengikuti kelompok tersebut. Ruwetnya birokrasi ketika mengajukan pendanaan di dekanat dan rektorat, ketua tim yang masih PKL dan belum memastikan keikutsertaan, kekurangan dana, dll. Namun, tidak adanya dana adalah masalah terbesar saat itu bagi saya. Saldo ATM saya kurang dari 50 ribu, untuk makan sehari-hari saja hanya kerupuk dan nasi, bagaimana bisa saya punya uang untuk beli tiket pesawat yang jutaan rupiah? Hingga pada H-3 keberangkatan ke Malaysia, saya belum membeli tiket pesawat. Namun Allah tetap memberikan jalannya, Allah Maha Kaya. Dana support prestasi dari Etos berhasil disetujui dan rezeki berupa motivasi moril berdatangan. Namun semua masih belum cukup untuk membeli tiket pesawat pulang-pergi. Luar biasa, Allah kembali membukakan jalan sampai pada akhirnya terbelilah tiket pesawat dan saya berhasil berangkat ke Malaysia pada 13 Agustus. Dua dari seratus mimpi saya kembali terealisasi, ‘naik pesawat’ dan ‘pergi ke luar negeri’.

Di Malaysia, saya menginap di Asrama Tun Ahmad Zaidi. Bersama tim seperjuangan saya, kami bertemu dengan tim lain yang juga dari Universitas Brawijaya. Kami bersama-sama mengarungi samudera kompetisi dan juga sama-sama telah melalui perjalanan panjang sebelum sampai ke tempat ini. Kompetisi yang kami ikuti adalah mempresentasikan kepada juri poster ilmiah yang telah kami buat. Kami juga melihat banyak inovasi atau hasil penelitian lain dari berbagai kategori, mulai kategori sekolah, undergraduate, hingga postgraduate. MasyaAllah, di sini saya menemui banyak orang hebat dan mendapat banyak inspirasi dari mereka. Selain itu, ada pula seminar yang diisi oleh orang-orang profesional di bidangnya, mengenai revolusi industri 4.0. Esok harinya adalah sesi awarding yang juga merupakan puncak acara ini. Setelah sekian panjang perjuangan yang kami lalui, alhamdulillah, akhirnya kami berhasil membawa pulang Silver Medal.

Banyak sekali pengalaman maupun pelajaran hidup yang saya dapatkan dari kegiatan ini. Tidak ada hal yang tidak mungkin. Mimpi bukanlah sesuatu yang mustahil dapat kita lakukan, maka tuliskanlah sebanyak-banyaknya impian kita. Yakin deh, seiring berjalannya waktu, asalkan kita mampu memperjuangkan, satu per satu impian tersebut akan terwujud. Namun ada satu hal lagi yang perlu kita miliki, yaitu rasa percaya diri. Percaya diri bukanlah kita yakin pada kemampuan diri sendiri, namun kita percaya bahwa ada Allah yang selalu bersama kita

Komentar via Facebook
BAGIKAN