Hubungan Keluarga dengan Kepemimpinan

0
644

Kepemimpinan di berbagai era baik dulu hingga sekarang merupakan suatu hal yang ‘seksi’ karena identik dengan kekuasaan, tahta dan harta. Tak jarang seseorang menjadi lupa daratan, kehilangan harga diri, bahkan rela mengorbankan orang lain demi menyalurkan ambisinya. Malangnya, setelah mendapatkan kekuasaan, tipe manusia seperti ini akan menimbulkan kerugian bagi manusia lainnya. Padahal sesungguhnya kepemimpinan tidaklah sesempit ‘itu’. Kepemimpinan pada hakikatnya bukanlah suatu sumber daya yang sejak lahir hanya dimiliki oleh sebagian orang, karena menjadi pemimpin adalah kewajiban mutlak setiap insan seperti yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 30:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu? Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Ayat tersebut bermakna, Allah hendak menjadikan manusia sebagai pemimpin. Meskipun pada awalnya keinginan ini mendapatkan penolakan dari malaikat. Jadi, sudah sepantasnya pula sebagai seorang pemimpin, setidaknya dapat memimpin dirinya sendiri, mencerminkan karakter-karakter positif. Kriteria utama kesuksesan pemimpin adalah kesadaran akan peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Untuk mencapai kriteria tersebut, pemimpin haruslah mempunyai visi dan misi keillahiyahan yang kuat, dengan itu pemimpin akan memiliki legitimasi yang kokoh. Pemimpin yang baik harus mampu meneladani kepemimpinan nabi-nabi, yaitu berilmu, kuat dan amanah seperti yang disebutkan berkali-kali dalam Al Quran.

Seiring dengan berjalannya waktu, kepemimpinan semakin memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tentram tidaknya kondisi masyarakat sejak bangun hingga tidur kembali bergantung pada pemerintahan, pada sosok figur pemimpin. Semakin hari tak heran jika kita melihat masyarakat semakin jengah dengan dunia yang erat dengan kepemimpinan, politik. Masyarakat lelah melihat ”drama-drama klasik” tak berujung yang ditampilkan para pemimpin bangsa, yang tentunya pula tanpa solusi nyata. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang berintegritas, tulus melayani, kreatif nan transformatif, tentunya dalam naungan rahmatan lil alamin, Islam. Kepemimpinan nasional baru bukanlah trial and error. Melainkan upaya pengembangan potensi dengan dihadapkan pada kenyataan aktual. Krisis ekonomi-politik yang masih terus berlanjut menuntut tokoh yang kompeten di bidangnya dan memiliki visi yang jauh untuk menyelamatkan bangsa dari keterpurukan. Bencana alam dan sosial yang terjadi silih berganti menegaskan perlu hadir tokoh yang peka dan cepat tanggap terhadap penderitaan rakyat serta berempati dengan nasib mayoritas korban. Pemimpin baru seperti ini bukan hanya dibutuhkan segera di pentas nasional,  juga di tingkat lokal. Karena itu, bangsa ini membutuhkan secara masif proses pengkaderan  yang outputnya bisa diuji di tingkat regional bahkan global. Indonesia tidak mungkin memainkan peranan di arena antar bangsa tanpa anak-anak bangsa yang memiliki kualitas kepemimpinan yang mumpuni.

Alternatif solusi dan sikap dalam menghadapi masalah merupakan salah satu hal yang menentukan kompetensi dari seorang pemimpin. Tantangan lingkungan Indonesia saat ini maupun di masa depan salah satunya dinamika perubahan yang begitu cepat. Dinamika perubahan itu tercipta dari isu-isu seperti globalisasi, regionalisasi, knowledge economy, dan borderless world. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas sedikit tentang permasalahan yang mungkin dalam paradigma pembangunan dianggap bukan prioritas atau bahkan kerap terlupakan, yaitu keluarga. Sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga tentunya memegang peranan yang tak sederhana dalam kehidupan manusia. Penanaman nilai religius, budaya, norma, sosialisasi, interaksi, aktivitas ekonomi, pendidikan dan lain-lain hampir mutlak dilakukan dalam lingkup keluarga. Namun, sayangnya pilar-pilar kokoh penopang peradaban ini seakan semakin rapuh tergerus pengaruh negatif yang diakibatkan olehlunturnya nilai dalam masyarakat. Kebebasan tanpa aturan merajalela.

Hak dan kewajiban yang tercampur-aduk, kurangnya tanggung jawab serta pendeknya “sumbu” yang mengakibatkan kekerasan amat mudah terjadi dalam rumah tangga. Pernikahan kehilangan kesakrakralan. Perceraian seolah menjadi obrolan obralan, dibuktikan dengan angka fantastis, hampir 50% pernikahan berujung pisah. Mencengangkan, tapi itulah kenyataan. Anak kehilangan figur yang bisa mereka  panggil ayah dan bunda. Tak tersisa lagi kehangatan, kebersamaan dan kasih sayang. Generasi bangsa pun tumbuh menjadi generasi yang pendendam, pembenci, penyendiri, agresif dan kurang percaya diri. Segala bentuk drama akan berakhir pada menurunnya atau bahkan musnahnya generasi terbaik bangsa. Sehingga akan kita saksikan sendiri kelak bagaimana bangsa Indonesia yang dulu “katanya” digdaya, menjadi lemah tak berdaya. Sungguh, kelak kita akan menyaksikannya dengan bagian tubuh yang kita punya. Lantas, apa kaitan semua ini dengan kepemimpinan strategis?

Kepemimpinan strategis bagi saya, ialah pola kepemimpinan yang berdampak luas. Pola kepemimpinan yang kelak meskipun sosok pemimpinnya tak lagi memegang tampuk, karya dan manfaatnya tetap akan dikenang, amal tentunya akan mengalir ke pundi-pundi pahalanya layaknya sadaqah jariyah. Kepemimpinan strategis membutuhkan pemimpin yang cerdas, berani,  berkeyakinan yang kuat, tegas dan tidak ragu-ragu terhadap keputusan yang diambilnya, mempunyai kemampuan untuk menggunakan kekuasaan demi efisiensi dan kebaikan yang lebih besar, serta  mampu “masuk pada pikiran” orang yang berhubungan dengan mereka. Pemimpin dalam kepemimpinan strategis mampu membentuk masa depan sesuai dengan cita yang ia miliki.

Pemimpin strategis dianggap perlu menyorot permasalahan keluarga sebagai bagian dari prioritas mengingat betapa vital peran keluarga dalam masyarakat. Tak harus rumit, pemerintah hanya perlu menata ulang kembali susunan peraturan terkait pernikahan, perceraian, dan pengasuhan atas anak dengan lebih terarah dan spesifik. Selain itu, pemerintah dapat mengeluarkan regulasi dan sosialisasi dalam rangka mengekslusifkan pentingnya keluarga di kalangan masyarakat  misalnya mengadakan cuti khusus untuk libur keluarga, insentif untuk keluarga yang merawat lansia, program pendukung keluarga harmonis, inisiasi insentif sekolah pra-nikah, sosialisasi masif parenting sehat dan lain-lain. Masa depan bangsa ada di tangan kita. Masa depan bangsa ada di tangan para pemimpin yang memperhatikan kehidupan masyarakatnya, khususnya keluarga. Big things always started with small steps. Pelan-pelan tapi pasti. Indonesia bisa!

Komentar via Facebook
BAGIKAN