Kepemimpinan Strategis: Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia melalui Ekonomi Berdikari

0
831

Menurut informasi yang dipublikasikan oleh Kementerian keuangan dan Bank Indonesia dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia, posisi utang luar negeri Indonesia per bulan Mei 2017 mencapai USD 333,6 Miliar atau tumbuh 5,5% dari posisi sebelumnya. Konversi nilai tersebut dalam rupiah yang pada akhir Mei 2017 sebesar Rp 13.323 setara dengan Rp 4.445 triliun. Utang yang terdiri dari utang sektor publik dan swasta mengalami peningkatan pada sektor publik dan penurunan pada sektor swasta. Akan tetapi perlu diketahui bahwa jumlah APBN tahun 2017 hanya sebesar Rp 1.750,3 Triliun. Tentu saja terlampau kecil dibanding akumulasi utang yang ada.

Namun utang yang terlampau batas ini tetap memerlukan upaya besar untuk dilunasi. Melihat jumlah yang mencapai hampir tiga kali lipat dari nominal APBN, pasti memakan waktu yang lama dalam pelunasaannya. Menjadi suatu paradoks ketika sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia melimpah ruah sedangkan Indonesia sendiri kekurangan modal untuk mengelola sumber daya yang dimiliki. Kondisi seperti ini sangat membahayakan bagi Indonesia. Ketika utang mencapai posisi yang terlampau tinggi, pasti ada risiko besar yang menanti. Biasanya tak sanggup bayar. Terlebih yang memberi pinjaman juga mensyaratkan agar utang tersebut dibungakan.

Disamping itu, sebagai peminjam tentu Indonesia berada di posisi yang diharuskan menaati pihak yang dipinjami. Secara tidak langsung, kebijakan yang ada pasti dapat mempengaruhi atau menggiring Indonesia pada kondisi yang akan lebih menguntungkan bagi pihak yang meminjami. Sehingga solusi terbaik adalah dengan melepaskan jerat utang dari tubuh Indonesia.

Pendapatan negara yang selama ini difokuskan pada sektor pembangunan infrastruktur, dan belanja lainnya seperti kementerian dan lembaga, ada baiknya diputar menjadi pengembangan industri kreatif dan modal bagi usaha-usaha yang ada. Pemerintah saat ini sudah menjalankan sistem otonomi daerah, dimana setiap daerah memiliki kewenangan untuk mengelola potensi daerahnya masing-masing. Dari hal ini pemerintah pusat dapat melakukan pemantauan eksklusif mengenai perkembangannya. Indonesia harus memiliki pemetaan kekayaan alam dari  sabang sampai merauke. Sebenarnya ini adalah potensi alam yang jika dikelola dengan baik, tentu dapat menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Kebijakan dalam negeri memiliki sumbangsih besar terhadap pelaksanaan pemerintahan dan pengambilan keputusan. Kita sebagai satu kesatuan yang tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tegas. Sebagaimana masa pemerintahan Presiden ke Enam, Susilo Bambang Yudhoyono, utang luar negeri, khususnya kepada IMF (International Monetary Fund) dapat dilunaskan. Kali ini melihat Tiongkok yang sedang gencar bekerjasama dengan Indonesia, baik dari segi pemodal maupun mitra. Ada hal positif yang dipegang teguh oleh Tiongkok, yaitu upaya mengonsumsi produk buatannya sendiri baik terpaksa maupun sukarela. Ini poin pentingnya.

Menumbuhkan rasa cinta tanah air bisa dilakukan oleh setiap orang. Indonesia dengan segala kekayaannya mampu untuk mengembargo pihak asing. Dengan syarat yakin pasti bisa. Karena jika terus bergantung pada utang yang tak jelas apa tujuan dibalik itu, kenapa tidak mencoba dari yang lebih dekat. Relasi dan keaktivan di dunia internasional harus tetap digaungkan, hanya saja penekanan pada cara bersyukur atas potensi alam yang melimpah ruah.

Sehingga saat ini Indonesia harus dapat mengelola dirinya sendiri. Dari alam indonesia, memanfaatkan tenaga ahli yang dimiliki untuk memproses bahan mentah atau komoditas yang ada menjadi barang jadi yang lebih bernilai. Sebelumnya alasan Indonesia memiliki pendapatan dari perdagangan yang jauh dari target adalah karena hanya jadi pemasok komoditas.

Selain itu demi kemandirian yang menyeluruh, Indonesia juga harus menyeleksi investasi yang masuk. Bukan mengobral kekayaan Indonesia agar dinikmati negara asing mana saja. Konsep utama adalah ketika suatu aspek memiliki keunikan atau memilili suatu hal berharga yang tak banyak dimiliki oleh pihak lain, seharusnya dampak utama adalah peningkatan daya jual. Lain halnya jika sang pemilik justru mengobral dirinya otomatis preaepsi pasar akan mengatakan bahwa tidak ada nilai lebih, sehingga mudah saja terjual.

Ketika sinergisitas antara ekonomi kreatif sebagai muara dari pengelolaan sumber daya Indonesia dipadukan dengan wibawa, tentu dapat menciptakan harkat dan muruah Indonesia sebagai bangsa yang tidak mudah  dibeli. Dengan hal tersebut, dapat menjadi satu peran penting dalam penyelenggaraan ekonomi Indonesia. Berusaha mengembalikan fungsi ekonomi, yaitu melakukan pengelolaan yang tertuang dalam aspek produktivitas, keadilan dan pemerataan kebutuhan dalam hal distribusi serta penggunaan atau konsumsi yang tujuan utamanya adalah memberikan kesejahteraan seluas-luasnya bagi masyarakat. Akan tetapi, semua konsep tersebut tidak dapat berjalan tanpa adanya kesatuan visi untuk membangun Indonesia dan berkomitmen tinggi untuk menjadi individu yang bebas dari korupsi.

Komentar via Facebook
BAGIKAN