Kepemimpinan Strategis sebagai Sebuah Peluang Pemimpin Muda Indonesia yang Visioner

0
366

Menjadi bagian dari generasi muda memang menjadi sebuah dilemma. Tidak sedikit dari generasi muda yang mengeluh bahwasanya beban yang terpatri di pundaknya ibarat sebuah momok yang sebisa mungkin dihindari agar hal-hal yang nampak hanya sebuah kilasan dari keindahan dunia yang terbalut dalam nuansa populis selebrasi khas kebanyakan anak generasi millennial. Padahal lebih dari itu, memposisikan diri sebagai seorang pemuda berarti memposisikan dirinya masuk ke dalam sebuah inkubasi perjalanan hidup yang nantinya akan membentuk karakteristik dan proyeksi masa depan dari yang skalanya mikro (individu) hingga makro (bagian besar seperti Negara dan Bangsa).

Indonesia seharusnya merasa aman karena berdasarkan dari temuan terkini menyebutkan angka generasi muda Indonesia berada pada yang tinggi dan akan terus bertambah seiring munculnya sebuah fenomena bonus demografi yang diprediksi akan muncul puncaknya pada tahun 2035. Berbicara pada cakupan lingkungan sekitar, tentunya tidak jarang kita melihat dan mungkin bahkan kita adalah bagian yang terlibat didalamnya. Hal terkait pemimpin muda sepertinya sedang menjadi sebuah demam yang perlahan namun pasti menyebar menjadi sebuah habit yang jika terus menerus dilanjutkan, maka sebuah revolusi besar akan terjadi.

Saya sempat menemui beberapa generasi yang lahir pada kisaran umur 1970-1980, mereka bertanya sebuah pertanyaan kepada saya “Apa yang sebenarnya terjadi pada generasi saat ini? Mengapa mereka seakan melakukan sebuah akselerasi dalam bidang kepemimpinan?” Saat itu sependek pengetahuan saya dan berdasarkan latar bidang pendidikan, saya menjawab “Oh anak muda melakukan hal itu karena itu ingin mencapai sebuah aktualisasi diri”.

Berjalannya waktu, saya semakin sadar bahwasanya apa yang terjadi pada fenomena belakangan ini jauh lebih dari sekedar api tanpa sumbu. Pemahanaman konsep tentang strategic leadership kini mulai tumbuh menjamur dan mulai menjadi ‘kiblat’ yang dianut oleh lumayan banyak pemimpin muda yang jika boleh saya memberikan sebuah pendapat dari hasil pantauan saya setahun kebelakang, maka mereka yang bergerak pada sektor informal menjadi ajang untuk menerapkan hal ini. Namun bukan berarti tidak dapat terjadi pada sektor formal yang identik dengan birokrasi.

Merujuk pada sebuah artikel yang dikeluarkan oleh Harvard Business Review, setidaknya ada 6 pedoman dasar yang menunjukan apakah diri kita sudah masuk kedalam kategori pemimpin dengan kemampuan strategic leadership. Dari mulai yang pertama adalah Antisipasi. Pada artikel tersebut dijelaskan bagaimana seorang pemimpin seharusnya bisa membuat sebuah forecast terkait SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunity, dan Threat) bahkan sebelum orang lain memikirkannya. Hal ini didasari pada sifat kebanyakan orang yang akan jauh lebih bertindak setelah sebuah sesuatu terjadi, ketimbang berpikir tentang apa-apa saja yang akan terjadi. Kedua adalah Tantangan. Seorang Strategic Thinker akan membenci sebuah status quo. Mereka bahkan menantang asumsi pribadi dan publik tentang sebuah hal dengan memberikan point of view yang berbeda dari biasanya. Banyak orang yang menggunakan sebuah metode dengan melakukan hubungan kausalitas terhadap sebuah permasalahan yang terjadi dan ketika mendapatkan pelajaran tentang hal ini, akan menjadi seseorang yang kaget karena disini kita dituntut untuk membuka sebanyak-banyaknya opsi untuk memecahkan masalah.

Ketiga adalah interpertasi. Seorang strategic thinker dijelaskan adalah orang yang bisa memahami sebuah keadaan dari segi helicopter view (big image) dari pada berfokus pada satu titik yang pada kenyataannya jumlahnya lebih dari yang di prediksi di awal. Pemimpin dituntut untuk mengenali sebuah runtutan yang membentuk sebuah pola, mendorong hal tersebut keluar dari ambiguitas, dan menemukan sebuah insight baru yang kadang pemimpin harus rela untuk menurunkan egonya untuk melakukan brainstorming dengan yang lainnya demi mendapatkan sebuah solusi yang mendekati sempurna. Keempat adalah Pilihan. Tantangan terberat yang tidak hanya diterima oleh seseorang yang berada pada posisi leader, namun juga yang berada sebagai followers adalah menentukan sebuah sikap. Banyak dari kita yang mungkin masih membutuhkan waktu yang lama untuk menentukan sebuah pilihan yang tepat ketika mungkin di saat itu sedang ada banyak orang yang membutuhkan jawaban dari kita. Namun, bagi para strategic thinker, hal itu jauh lebih berat dari pada itu, tidak hanya harus berpikir secara cepat, namun juga membawa sebuah dampak.

Kelima adalah sejalan. Bagaimana menjadi seorang yang membawa sebuah kebijakan, seorang strategic thinker harus bisa beradaptasi dengan sukses dengan cara melakukan komunikasi yang proactive, mengedepankan trust building, dan secara berkala membangun sebuah kelekatan dengan semua stakeholder yang terlibat. Dari point ini bisa diambil sebuah kesimpulan bahwasanya sejalan disini bukan hanya berurusan dengan sebuah objek yang dituju, namun juga lebih menekankan kepada subjek yang terlibat. Yang terakhir dan juga yang menjadi penting adalah tentang Belajar. Pemimpin dengan strategic thinker adalah dia yang belajar dari sebuah sebuah kesalahan yang dia dan timnya lakukan dengan secara terbuka dan konstruktif menemukan sebuah jalan dari pembelajaran yang terjadi.

Sumber https://hbr.org/2013/01/strategic-leadership-the-esssential-skills

Komentar via Facebook
BAGIKAN