Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) 10th ECCENTS 2017

0
80

Oleh: Mega Sri Wardani, Etoser Semarang

Indonesia sedang dan akan mengalami periode bonus demografi pada 2012 hingga 2035 mendatang, namun belum banyak yang menyadari hal ini. Padahal, bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari lebih besarnya jumlah penduduk usia produktif dibandingkan dengan usia non produktif tersebut menawarkan peluang sekaligus tantangan yang sangat besar. Tantangan tersebut harus dipersiapkan untuk menghadapi bonus demografi karena apabila tidak dipersiapkan akan mengakibatkan bencana sosial.

Oleh karena itu, perlu adanya gagasan dan inovasi sebagai alternatif pemecahan masalah. Dari pemaparan tersebut, maka kami dari mahasiswa Universitas Andalas (UNAND) tertarik untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) sebagai kegiatan utama dari 10th ECCENTS 2017 dengan tema ‘Optimalisasi Bonus Demografi Nasional Dalam Menjawab Tantangan Pembangunan Berkelanjutan’. Dalam kegiatan tersebut, kami terpilih menjadi salah satu finalis dari total sepuluh finalis terpilih untuk mempresentasikan full paper atau hasil penelitian yang telah kami lakukan. Atas dasar kegiatan di atas, kami mahasiswa yang bersangkutan mengajukan permohonan dana untuk kesuksesan LKTI yang akan dilaksanakan pada kegiatan tersebut.

Setiap orang memiliki fase hidup yang berbeda-beda antara satu dan lainnya berbeda sesuai proses yang dilaluinya. Begitupun aku. Untuk pertama kalinya aku memutuskan bergabung ke dalam tim LKTI. Kami berjuang bersama melewati tahap demi tahap, seleksi abstrak dan dilanjutkan dengan seleksi full paper. Dengan dibantu oleh dosen pembimbing dan konsultasi dengan beberapa dosen lainnya, kami membuat kuisioner, menyebarkannya, menganalisis data dan menyelesaikannya.

Awalnya aku merasa canggung. Dua rekanku yang lain merupakan asisten dosen pada mata kuliah Ilmu Kependudukan, materi yang berkaitan erat dengan topik perlomban tersebut, sementara aku hanyalah mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut dengan nilai “B”. Namun setelah kami beerja sama melakuan penelitian untuk perlombaan ini, aku semakin sadar bahwa kami sama. Setiap saat, setiap turun hujan kami selalu berdo’a, “ya Allah, izinkan kami ke Surabaya ya Allah”. Bahagia rasanya saat seorang teman menunjukkan pesan dari panitia yang berisi “selamat, tim dari Universitas Andalas lolos ke babak selanjutnya”. Kami akan pergi ke Surabaya. “Waaaww!!!” ini adalah pertama kalinya aku keluar dari Sumatera Barat selain SPC dulu.

Banyak hal yang kudapatkan selama berada di Surabaya. Bertemu wakil bupati termuda, bertemu orang penting dari Kementrian Ketenagakerjaan dan seorang entrepremeur sukses. Aku bahkan bertanya tentang bagaimana panitia bisa mengundang orang-orang tersebut. Satu kalimat yang sangat membuatku kagum ketika pemateri mengatakan bahwa kita harus bersyukur bahwa sekarang Indonesia belum baik-baik saja karena itulah ladang amal bagi kita. Baru kali ini aku menjumpai orang yang memandang masalah dari segi positif. Biasanya orang selalu mengeluh tentang Indonesia yang begini dan begitu, kemudian menuntut dan menuntut sesuatu yang dibilang “hak” tapi kadang kala lupa dengan kewajiban. Hal ini mengajarkanku untuk bersyukur dan lebih bersyukur lagi terhadap apa yang ada saat ini. Masalah adalah hal yang harus diselesaikan, dan itulah ladang amal kita, bersyukurlah kita masih disisakan ladang amal oleh orang-orang terdahulu sehingga amail itu tidak hanya untuk Soekarno-Hatta saja, hingga surga itu juga bisa kita yang memilikinya.

Selama ini aku selalu menganggap bahwa diri ini sudah cukup benar, sudah cukup pintar, namun saat dihadapkan pada perlombaan debat, presentasi dan studi kasus, aku menyadari bahwa banyak hal yang harus dipelajari dan belum diketahui. Aku dan tim dari UNAND merupakan satu-satunya finalis dari mahasiswa non-jurusan ekonomi. Finalis yang lain serta panitia merupakan masaswa ilmu ekonomi. Saat mereka tahu bahwa kami dari pertanian, kebanyakan dari mereka kaget. Perlombaan ini memang tidak dikhususkan bagi anak ekonomi, tapi entah kenapa hanya kami yang berbeda. Hal kami bahas adalah tentang kirikulum pendidikan UMKM, sementara kebanyakan peserta membahas tentang ekonomi sehat dan investasi. Sepertinya topik itu merupakan topik yang sedang hangat untuk dibahas. Apapun itu, walaupun kami bukanlah pemenang lomba, aku bersyukur bisa menjadi sepuluh finalis terpilih dan bisa menginjakkan kaki di Kota Surabaya.

Satu hal lagi yang membuka pikiranku.selam perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta kami bertemu sesorang yang katanya “anshor”. Bapak itu duduk tepat di depan kami. Ia bercerita panjang mengenai pengalamannya di Jepang dulu dan tentang perkebunan yang sedang dikembangkan oleh beliau di kampung halamnnya. Saat itulah baru terpakai ilmu dasar tentang pertanian.

Selama di kereta aku menggunakan jaket angkatan yang ada logo Dompet Duhafa dan logo Etos. Ada seorang penumpang yang melihat jaketku lalu ia bertanya perihal Dompet Dhuafa, kemudian aku menjelaskan bahwa aku adalah salah satu penerima manfaat. Di luar dugaan, ternyata beliau mengetahui tentang Dompet Dhuafa dan memuji manajemen keuangan di Dompet Dhuafa. Saat beliau memberikan kartu namanya, terlihat jelas bahwa beliau merupakan seorang tim ekonomi Anshor. Beliau ingin belajar ke Dompet Dhuafa untuk memanajemen keuangan, ternyata begitulah pandangan orang terhadap Dompet Dhuafa.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY