Mahasiswa: Agen Kemerdekaan yang Tidak Merdeka

0
890

Oleh: Masandi Rachman Rosyid

Menjadi bagian dari keluarga penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) membuat saya hidup di sekitar otak-otak dan otot-otot perubahan. Setiap individu dipilih dan dibesarkan untuk menjadi agen perubahan, sebagaimana perubahan besar yang digagas pemuda di tahun 1945 bernama kemerdekaan Republik Indonesia. Hari ini, setiap pemuda bisa memaknai dan menggagas perubahan. Kata merdeka sendiri diinterpretasi dari berbagai sudut pandang, diaplikasikan di berbagai tempat. Tetiba saya bertanya: “Kalau buat aku sendiri, Merdeka apaan ya?” ‘Aku’ di sini bermakna saya yang berstatus sebagai mahasiswa, sebagaimana saat itu saya sedang berdiskusi dengan rekan-rekan BAKTI NUSA. Maka, pertanyaan tersebut saya ganti menjadi: “Bagi mahasiswa, kapan ia disebut merdeka?”

Dalam memaknai sebuah perkara, kita perlu menyamakan perspektif untuk memastikan diskusi berjalan dengan baik. Diskusi akan berjalan sia-sia tatkala kedua pihak berbincang panjang, namun ternyata objek diskusi keduanya berbeda. Oleh karenanya, pendekatan bahasa bisa menjadi pilihan untuk memastikan diskusi memperbincangkan satu topik yang sama. Menurut KBBI online, merdeka dapat didefinisikan sebagai tiga hal. Pertama, bebas dari perhambaan, penjajahan, dan yang serupa. Kedua, tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Ketiga, tidak terikat maupun bergantung kepada orang atau pihak tertentu.

Pada definisi pertama, saya kesulitan mengimplementasikan bentuk penjajahan terhadap mahasiswa. Salah seorang rekan diskusi pernah berkomentar bahwa rangkaian aksi #TolakUKT9 sejatinya mencerminkan ekspresi mahasiswa yang merasakan adanya penjajahan berupa tuntutan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada semester kesembilan mereka. Sebagaimana termaktub di Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31, pendidikan adalah hak setiap anak bangsa. Terlepas dari diskusi #TolakUKT9, saya menangkap sebuah kesimpulan bahwa mahasiswa dapat dikatakan merdeka tatkala ia bisa memperoleh haknya berupa pendidikan tinggi. Jika pada kenyataannya kegiatan pendidikan tinggi diselenggarakan oleh perguruan tinggi, muncul pertanyaan di tangan siapakah sejatinya kemerdekaan mahasiswa untuk mengenyam pendidikan berada? Mahasiswa itu sendiri, atau ditentukan oleh kebijakan perguruan tinggi?

Definisi kedua menyebut bahwa merdeka bermakna lepas dari tuntutan. Kalimat ini patut disambut dengan pertanyaan: tuntutan siapa? Jawabannya pun akan sangat beragam. Beragam pihak bisa saja melayangkan tuntutan. Sebut saja orang tua sebagai pihak yang membiayai (sebagian) mahasiswa, dosen yang menjadi mata air ilmu pengetahuan, perguruan tinggi sebagai pengelola kegiatan pendidikan tinggi. Dalam implementasinya, orang tua meminta anaknya menjaga prestasi akademisnya, dosen menuntut mahasiswa mengerjakan seluruh tugas dan aktif di kelas, perguruan tinggi mensyaratkan beberapa poin administratif bagi mahasiswa. Selama masih ada pihak yang dilibatkan oleh mahasiswa dalam kegiatan pendidikan tinggi, selama itu pula ia tidak akan lepas dari tuntutan pihak-pihak terkait. Jadi, kapan mahasiswa dapat dikatakan merdeka?

Definisi terakhir menyebut merdeka dicapai tatkala seseorang bebas dari keterikatan maupun ketergantungan dengan pihak lain. Jika kita perhatikan dengan seksama, kegiatan pendidikan tinggi tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan pihak lain. Sebut saja dosen sebagai pengajar, petugas kebersihan yang menyiapkan segala kebutuhan di kelas, petugas keamanan yang memastikan kegiatan berjalan aman, rekan sesama mahasiswa yang membantu menghidupkan suasana pembelajaran. Meski ada perbedaan makna antara keterlibatan dan ketergantungan, fakta dilapangan menunjukkan keterlibatan berujung ketergantungan. Kegiatan pembelajaran tidak akan dimulai tanpa hadirnya dosen, kelas yang bersih dan aman, dan partisipasi rekan sekelas. Kenyataannya, mahasiswa masih akan melibatkan –dan tergantung dengan pihak lain. Jika demikian adanya, kapan mahasiswa dapat dikatakan merdeka?

Ibarat pepatah: Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Mahasiswa sering mengomentari kemerdekaan bangsa, kemerdekaan kelompok, atau kemerdekaan individu. Namun, bisa jadi mahasiswa tidak menyadari bahwa bisa jadi dirinya sendiri tidak pernah merdeka. Mahasiswa yang katanya agen kemerdekaan sejatinya tidak merdeka.

Tidak ada yang mengeluh dengan kenyataan mahasiswa terikat, tergantung, dan tertuntut oleh lingkungan di sekitarnya. Jika demikian, masih kah kemerdekaan menjadi penting?

Komentar via Facebook
BAGIKAN