Melihat Lebih Dekat Ke Timur

0
83

Oleh: Muhammad Shalahuddin Al-ayyubi, PM BAKTI NUSA 7

Malaka, Betun, Motamasin, Mota’ain, Bananain. Sekilas kata di samping jika diamati mirip kosakata Bahasa Arab. Siapa yang menyangka jika ada sepotong Tanah Raja yang tercecer di sini. Ya, Malaka adalah Tanah “Raja”. Bukan berada di pesisir timur Pulau Sumatera ataupun di Semenanjung Malaya, bukan pula berada di bagian barat Indonesia yang sangat identik dengan kata ini. Tapi tepat berada di ujung timur teras batas pagar negeri ini, di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Pulau Timor yang berbatasan langsung dengan “saudara jauh” kita, Timor Leste. Tak sampai hati saya menyebutnya negara lain, toh kenyataannya masyarakat perbatasan sini (baik NTT maupun Timor Leste) masih menginginkan persatuan di kedua belah pihak. Saudara jauh kita tersebut masih begitu rapuh untuk berdiri sendiri, sampai saat ini pun segala kebutuhan mereka dapatkan dari sini. Jangan bayangkan seperti negara berlambang singa bagian barat sana. Celah Timor lah asal muasal perkara, hasil campur tangan kepentingan negara tetangga.

Sebelum saya sampai ke provinsi ini saya tergelitik sekali membayangkan tanah melayu di timur negeri ini. Bukan tanpa sebab mengapa tanah ini bernama Malaka (kerajaan) dengan ibu kota bernama Betun (rumah). Tidak harus mendalami atau menjadi pakar bahasa arab untuk mengetahui mengapa namanya agak kearab-araban, tetapi orang yang pernah sedikit belajar Bahasa Arab dasarpun -saya pikir- akan langsung nyambung mendengarnya. Huruf “e” pada kata Betun sama pelafalannya seperti huruf “e” pada kata lele. Pertanyaan usil ini akhirnya terjawab di hari kedua saya di sini, meski belum cukup memuaskan hati.

Ialah Pak Sigit, seorang pria paruh baya yang baru saya kenal berasal dari Demak. Beliau cukup lama malang melintang di bagian timur negeri ini. Hampir sepuluh tahun lamanya ia menetap di sini, mulai dari Sorong, Papua hingga pernah tinggal di Timor Timur sampai akhirnya berlabuh di Kota Betun sebagai penggiat pendidikan. Memang dahulu sayap pengaruh Kerajaan Malaka pernah singgah di sini, beliau yakin kalau saya juga meyakini bahwa dahulu Islam pernah mewarnai urat nadi kehidupan masyarakat Betun. Namun kini muslim hanya menjadi bagian kecil dari bagian masyarakat yang didominasi Katolik. Bahkan konon, di rumah tetua adat disini tersimpan sebuah kitab yang dibungkus kain putih, bernama Stambul bertuliskan huruf hijaiyyah dan tidak sembarang orang boleh menyentuhnya. Ada sejarah yang hilang dan mungkin ditutup-tutupi hingga saat ini. Belum lagi fakta bahwa Perdana Menteri Timor Leste saat ini dijabat oleh seorang Muslim, Mari Alkatiri. Tentu bukan sebuah kebetulan belaka.

Meski menjadi minoritas, kabar baiknya adalah muslim cukup menguasai perputaran ekonomi di kota ini. Mayoritas muslim di sini berprofesi sebagai pedagang. Mereka adalah para pendatang dari Bugis, Bima, Minang, Jawa, Madura. Hanya terdapat segelintir masyarakat asli sini yang beragama Islam karena memang pada awalnya mereka menganut kepercayaan nenek moyang animisme dan dinamisme sebelum misionaris gencar bergerilya. Belum lagi mereka harus berjuang keras hidup di tengah-tengah keluarga yang katolik tanpa pendampingan. Mereka sangat rentan tergoyahkan.

Oleh karenanya masyarakat muslim Betun berinisiatif mendirikan yayasan pendidikan Islam yang diberi nama Yayasan Al-Qadr, sebuah yayasan pendidikan Islam pertama dan satu-satunya di Kabupaten Malaka, NTT. Pada 2009-2010 lalu Madrasah Ibtida’iyah pertama di Betun didirikan, disusul 2015 dengan berdirinya Madrasah Tsanawiyah. Terobosan Dompet Dhuafa dengan Program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) sangat membantu perkembangan sekolah di sini dalam mewujudkan sekolah model berkualitas di teras negeri. Demi hal ini pula kami berdiri di perbatasan negeri ini untuk belajar, beramal sebagai pencari ilmu.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY