Membangun Kepemimpinan Strategis

0
670

Setiap orang adalah pemimpin. Minimal untuk dirinya sendiri. Bukankah begitu hakikatnya? Namun, pada kenyataannya kadar kepemimpinan itu berbeda-beda. Tidak semua orang bisa memimpin dengan baik, meski pada tingkatan yang minimal. Hidup dan kehidupanlah yang menjadikan  kadar tidak sama, meski selama masih ada napas, kesempatan untuk meninggikan tingkat masih didekap. Seseorang dapat tumbuh dan berkembang menjadi pemimpin yang baik tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain.

Kemampuan atau kemahiran memimpin merupakan definisi ringkas kepemimpinan. Sementara itu, kepemimpinan menurut Riberu  (1982:12) adalah kesanggupan menggerakkan sekelompok manusia ke arah tujuan bersama sambil menggunakan daya bendawi dan rohani yang ada dalam kelompok tersebut. Lebih spesifik bagi istilah kepemimpinan menurut Riberu yaitu kepemimpinan sosial yang berarti kemampuan dan kemahiran sesorang untuk menjadi unsur penggerak masyarakat ke arah tercapainya cita-cita masyarakat tersebut. Kepemimpinan sosial dapat dilakukan bukan hanya oleh penguasa yang memiliki wewenang yang sah, tetapi juga oleh orang yang memiliki wibawa atau pengetahuan. Pemimpin sosial benar-benar menjadi motivator (penggerak/pendorong) dan inspirator (pemberi ilham) masyarakatnya (1982:15). Menurut hemat saya, pemimpin secara struktural belum tentu bisa menjadi pemimpin secara sosial meskipun sangat mungkin seseorang mampu melakukannya.

Lepas dari apakah seseorang menjadi pemimpin struktural dan/atau sosial, penting baginya sifat dan sikap strategis. Ya, pemimpin yang berkepemimpinan strategis untuk mencapai tujuan bersama. Strategis menurut KBBI berarti berhubungan, bertalian, berdasar strategi. Sementara strategi memiliki dua arti yang mengarah pada kepemimpinan, yaitu ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa; dan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Maka, pemimpin strategis berarti pemimpin yang berdasar strategi, yang memiliki ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa dan memiliki rencana cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

Menurut Nurhadi, kepemimpinan strategis adalah kemampuan seseorang untuk mengantisipasi, memimpikan, mempertahankan fleksibilitas, berpikir secara strategis, dan bekerja dengan orang lain untuk memulai perubahan yang akan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi organisasi. Pemimpin strategis yang efektif memiliki keterampilan untuk (1) mengantisipasi dan meramalkan kejadian dalam lingkungan eksternal organisasi yang memiliki potensi untuk mempengaruhi kinerja organisasi, (2) mencari dan mempertahankan keunggulan kompetitif dengan membangun kompetensi inti dan memilih pasar yang tepat untuk bersaing, (3) mengevaluasi implementasi strategi dan hasil secara sistematis, dan membuat penyesuaian strategis, (4) membangun tim karyawan yang sangat efektif, efisien, dan termotivasi, (5) menentukan tujuan dan prioritas yang tepat untuk mencapainya, serta (6) menjadi komunikator yang efektif. Selain itu, pemimpin strategis merupakan seorang yang visioner, memiliki animo yang besar, memiliki integritas, dapat dipercaya, terbuka, peduli terhadap orang lain, berani mengambil resiko, inovatif-kreatif, dan belajar dari pengalaman dan kekeliruan.

Seorang yang hendak menjadi pemimpin strategis sebagaimana dipaparkan di atas, hendaknya menengok kembali pada karakter diri yang harus dibangun kokoh sebagai pondasinya. Keteladanan dari tokoh juga dapat dijadikan pelajaran, misalnya karakter kepemimpinan Rosullulloh Muhammad saw. Dia sebagaimana manusia lainnya merasakan yang dirasakan makhluk fisik pada umumnya, seperti lapar, haus, dan kedinginan. Namun, nilai-nilai kemanusiaan Muhammad seperti kesederhanaan, kesabaran, keikhlasan, keberanian, kejujuran, kedermawanan, dll. layak diteladani. Dia juga seorang yang memiliki empati yang tinggi terhadap penderitaan umatnya. Dia juga sosok yang sangat menginginkan keselamatan dan kebahagiaan bagi umatnya. Dia penuh welas asih lagi penyayang kepada umatnya sehingga tidak kasar menghadapi masyarakat. Dia senantiasa bersama rakyatnya. Dia tetap tenang dalam menghadapi setiap kondisi. Ucapan dan tindakan Muhammad selalu konsisten. Seperangkat karakter tersebut dimilikinya sebab Dia dibimbing oleh wahyu yang secara teknis dengan membaca dan memahami Al-Quran dan hadits. Hal-hal yang belum diatur di dalam Al-Quran dan hadits Dia musyawarahkan. Selain  jabaran di atas, empat karakter utama Muhammad pun penting dimiliki seorang pemimpin strategis, yaitu sidik (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fatanah (cerdas).

Menengok paparan di atas, maka penting bagi seorang  untuk terus membenahi karakter kepemimpinan dalam dirinya sehingga dia akan menjadi pemimpin yang baik, mulai dari diri sendiri  kemudian pemimpin untuk orang lain. Pemimpin yang bersifat dan bersikap strategis demi pencapaian tujuan bersama, demi kemaslahatan.

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN