Membangun Masa Depan Indonesia dengan Al-Quran

0
324

Membangun Masa Depan  Indonesia dengan Al-Quran

Oleh: Yoyo Sundoyo

Penerima Beasiswa Kepakaran SEBI – Dompet Dhuafa

 

Indonesia kini berusia 70 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan. Tiap tahunnya kita selalu memeringati perjuangan para pendahulu kita memproklamirkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 70 tahun bukanlah waktu yang sebentar, kerena di 70 tahun ini pastilah sudah banyak  sekali pengorbanan dan perjuangan, bukan hanya kucuran keringat,kekuatan tenaga, dan darah yang bersimbah yang sudah di korbankan, bahkan nyawa pun di berikan demi keberlangsungan negara ini. Perjuangan para pendahulu kita bukan hanya sekadar memperjuangkan idealisme pribadi semata, namun mereka juga memperjuangkan idealisme negara ini. Kesatuan, kerukunan, kemandirian  dan kebersamaan serta kesejahtraan adalah cita-cita mereka untuk negara ini, sungguh amatlah mulia apa yang mereka  citakan.

Cita-cita yang tinggi, semangat yang menggelora, dan keikhlasan dalam berjuangan itulah yang kemudian mampu membuktikan kepada wajah dunia atas sebuah kemerdekaan dari tirani penjajahan.Kemerdekaan bukanlah satu-satunya hal atas banyak kenikmatan yang tuhan berikan kepada negara ini. Tetapi tuhan berikan juga kelebihan atas negara ini yaitu, banyaknya sumber daya alam yang melimpah ruah. Dari berbagai macam sumber daya alam Indonesia diantaranya adalah Sumber daya alam yang berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi.

Tentunya untuk mengelola sumber daya yang begitu banyak ini di perlukanlah banyak SDM yang memumpuni di bidangnya masing masing. SDM yang propesional tentu haruslah SDM yang melakukan pekerjaannya bukan hanya dengan tenaga tetapi haruslah dengan ilmu. Ilmu akan didapatkan salah satunya dengan membaca, karena membaca akan menambah wawasan dan membuka cakrawala keilmuanya. Namun di Indonesia sendiri banyak survei yang dilakukan terkait minat membaca orang Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut :

masyarakat Indonesia menempati posisi terendah di Asia dalam budaya memebaca. Rendahnya budaya baca ini tidak hanya terjadi di kalalangan masyarakat, tetapi juga di kalangan pelajar, mahasiswa, guru, bahkan dosen dan akademisi yang mestinya dekat dengan aktivitas membaca. Kebiasaan membaca mereka rata-rata kurang dari satu jam perhari. Kalau komunitas akademik hanya memiliki kebiasaan membaca kurang dari satu jam per hari, maka berapa menit  masyarakat umum memiliki kebiasaan waktu membaca (Baidhowi; 2010).

Data ini perkuat oleh laporan Bank Dunia Nomor 16369-IND, dan studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achicievement) di Asia Timur, tingkat terendah membaca dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7, di bawah Filipina (skor 52,6), Thailand ( skor 65,1), Singapura (skor 74,0), dan Hongkong  (skor 75,5). Bukan itu saja, kemampuan orang Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga menyebutkan (UNDP) dalam Human Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat umunya sudah mencapai 99,0 persen (Ben S. Galus; 2011).

Pada 2011 berdasarkan survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) rendahnya minat baca ini, dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 (dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi). Pada tahun 2012 Indonesia berada di posisi 124 dari 187 negara dunia dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya terpenuhinya kebutuhan dasar penduduk, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan ‘melek huruf’. Indonesia sebagai Negara berpenduduk 165,7 juta jiwa lebih, hanya memiliki jumlah terbitan buku sebanyak 50 juta per tahun. Itu artinya, rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang (lihat kompasianan.com, 5/04/13).

Data Statistik Sosial Budaya BPS tahun 2012 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi.  Sebanyak 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya sekitar 17,66 persen yang menyukai membaca surat kabar, buku atau majalah. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2009 menempatkan minat baca Indonesia pada posisi terendah dari  52 Negara Asia Timur. Sementara itu, pada tahun 2011, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) merilis data bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Artinya, dari seribu (1000) penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca.

Dari survey yang dilakukan menunjukan budaya baca orang Indonesia yang masih lemah. Padahal para tokoh nasional dulu gemar sekali dengan budaya membaca. Dengan membaca pula para tokoh dahulu mampu memberikan solusi terhadap masalah-masalah bangsa. Dalam Islam membaca adalah suatu hal yang amatlah di anjurkan, seperti hal yang pertama kali Allah Swt.. perintahkan kepada malaikan jibril untuk menyampaikan pada nabi Muhammad Saw. adalah perintah IQRA (bacalah). Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa membaca adalah sesuatu hal yang mendasar yang amatlah penting, karena dasar dari sebuah amal atau perbuatan adalah ilmu.

 

Maka kita selaku generasi muda seharusnya mencontoh apa yang sudah nabi dan para sahabatnya serta para ulama dahulu, yaitu dalam hal membaca.  Dari sini pula penulis ingin memaparkan bahwa membaca bukan hanya dalam hal buku saja tetapi lebih kepada pedoman yang diturunkan allah kepada umat Islam yaitu Al-Qur`an. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah Swt…

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.(QS. Al-Anbiya ayat 107).

Ini artinya bahwa al-qur`an pun sebagai rahmat bagi seluruh alam, karena Al-Qur`an sebagai kitab pedoman yang diturunkan Allah  SWT terhadap agama Islam. Ini pun dikuatkan dengan sabda nabi Muhammad Saw. yaitu :

Abu Said Al-Khudri dan Zaid bin Arqam meriwayatkan, “Sungguh aku meninggalkan pada kalian perkara yang bila kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan sesat sepeninggalku. Salah satu dari perkara itu lebih besar daripada perkara yang lainnya, yaitu kitabullah tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi. Dan (perkara lainnya adalah) ‘itrati, yaitu ahlul baitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di haudl. Maka lihatlah dan perhatikanlah bagaimana kalian menjaga dan memperhatikan keduanya sepeninggalku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3/14,17 dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 3788).

Sungguh ini seharusnya menjadi pedoman bagi kita selaku umat Islam karena sudah jelas di atas bahwa ada sebuah jaminan bagi kita atas Al-Qur`an. Lewat Al-Qur`an banyak ilmuan yang muncul dari generasi dulu yang karyanya sampai kepada kita sampai saat ini. Dalam Al-Qur`an terdapat nilai yang sangat erat dengan hubungan antara sesama manusia dan manusia dengan tuhannya.Kesejahteraan masyarakat adalah hal yang di inginkan Indonesia tentunya. Kesejahteraan dalam Islam ,identik dengan keberkahan. Maka kita selaku generasi muda menjadi suatu kewajiaban untuk membawa keberkahan itu untuk Indonesia. Hal yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang padahal mempunyai dampak besar yaitu dengan membaca Al-Qur`an.

Ada satu hal yang unik bagi kita yang membaca Al-Qur`an. Membaca Al-Qur`an adalah seperti perdagangan yang tak pernah rugi.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Membaca Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Terbayang oleh kita apabila sekitar 205 juta jiwa atau 88,1 muslim Indonesia membaca Al-Qur`an, maka pasti keberkahan itu akan hadir dan dirasakan oleh negara kita. Keutamaan di atas adalah baru dari hal membaca, itu barulah dari tahap pertama. Harapnya setelah budaya membaca Al-Qur`an,kita masuk kepada vase hafal,memahami dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan. Melihat itu semua di Indonesia muncul gerakan yang sangat baik untuk membumingkan Al-Qur`an yaitu semisal gerakan one day one juz adalah gerakan yang luar biasa begitu baiknya, dimana kegiatan ini memberikan kita kesadaran akan pentingnya membaca Al-Qur`an, bahkan bukan hanya itu kegiatan inipun menjadi sarana untuk mendidik diri agar bisa menghatamkan Al-Qur`an 30 juz selama satu bulan.

Selanjutnya adalah program one day one ayat, suatu kegiatan yang luar biasa sangat baik utuk kita yang ingin tidak hanya bisa membaca tetapi menghafalnya dan memahami isikandunganya. Setasiun tv pun membuat program dengan hafidz Qur`an nya. Dimana anak-anak kecil yang didik untuk dapat menghafal Al-Qur`an, dan harapanya adalah anak-anak itu tumbuh sebagai generasi Qur`ani. Dari tiga hal tersebut seharusnya pemerintah bisa menyambut baik itu semua guna untuk membangun negeri ini dengan SDM yang mempunya nilai-nilai Al-Qur`an. Ini juga amatlah penting bagi lembaga pendidikan di Indonesia dan bagi para orang tua. Karena masalah Indonesia saat ini adalah salah satunya dari segi SDM yang kurang mempunyai karakteristik yang baik dan berkompeten.

Segala permasalahan ada solusinya dalam Al-Qur`an, segala ilmu pengetahuan ada dalam Al-Qur`an, dan segala yang dibutuhkan manusia sebenarnya sudah tersedia dalam Al-Qur`an, tinggal bagaimana kita bisa banyak menggalinya. Allah Swt.. berjanji dalam al-Quran :

“Itulah kitab yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”(Qs. Al-Baqoroh: 2)

“Sesungguhnya al-Quran ini menunjuki kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira untuk orang-orang yang beriman yang beramal shaleh bahwa bagi mereka ganjaran pahala yang besar.”(Qs al-Isra: 9)

“Dan sungguh telah Kami mudahkan al-Quran untuk dihafal. Adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Qs al-Qomar:15, 22, 32 dan 40)

Secara umum dalam ayat-ayat di atas Allah menegaskan bahwa demikian besar keutamaan dan pahala yang akan Allah janjikan kepada setiap muslim yang belajar al-Quran. Belajar dalam arti meningkatkan kemampuan bacaan dan pemahaman. Lalu kemampuan untuk menghafalkannya sebagai bekal mengamalkannya. Akumulasi aktivitas mulia inilah yang sangat Allah anjurkan kepada setiap kita.

Maka kita selaku para pemuda yang akan meneruskan perjuangan dan yang akan mewarisi segala yang ada di Indonesia. Haruslah mempunyai bekal yang cukup agar mampu merealisasikan apa yang dicita-citakan oleh kita besama. Membumingkan Al-Qur`an dengan gerakan membacanya adalah langkah awal yang akan menghadirkan keberkahan bagi indonesaia.

“satu huruf dari Al Quran yang kita baca maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan, maka itu adalah salah satu cara membangun Indonesia.”

“Bersama berinteraksi dengan Al-Qur`an”

Komentar via Facebook
BAGIKAN