Memetik Pengalaman di Hiroshima

0
144

Memetik Pengalaman di Hiroshima

Oleh: Herlambang Tinasih Gusti

Etoser Padang 2014

 

17 Agustus tahun lalu merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia dan juga tentunya bagi saya. Karena selain menjadi hari lahirnya bangsa ini (dan hari lahirnya ayah saya),  di tanggal ini juga hari pertama saya melakukan penerbangan internasional. Saya menghabiskan masa libur kemerdekaan di Negeri Jiran untuk sekadar mampir sehari. Setelah itu penerbangan dilanjutkan ke Negeri Sakura, Jepang. Saya sampai di Jepang pada 18 Agustus, setelah turun dari Shinkansen (kereta peluru tercepat) saya mengucapkan “Assalamualaikum Hiroshima”, akhirnya, setelah melewati delapan jam mengudara dengan pesawat, empat jam duduk di kereta tercepat akhirnya kami sampai di Hiroshima.

 

Alhamdulillah saya beserta lima orang teman terpilih menjadi delegasi Indonesia untuk mengikuti kegiatan Summer Course di Prefectural University of Hiroshima, Jepang. Beserta dua negara lainnya yakni Malaysia dan Vietnam.

Hawa malam ota Hiroshima sangat berbeda dengan hawa yang biasa saya rasakan ketika berada di tanah air, walaupun perjalanan panjang sudah kami tempuh tetapi saya masih saja merasa bersemangat dan tak henti–hentinya memandangi sekeliling. Suasananya tenang, asri, nyaman, dan bersih. Begitupun dengan penampilan serta siikap warganyaa yang santun. Sentuhan pertama di Hiroshima ini sudah membuat saya jatuh hati pada kota ini.

Setelah usai berkemas, kami melakukan check in di Hiroshima International Plaza, yang terletak di Kota Higashi Hiroshima. Di penginapan ini kami beristirahat di ruangan single room, dengan fasilitas nyaman dan lengka seperti teve, koneksi WiFi, AC, kulkas, dll. Saya merasa sangat bersyukur sekali. Karena kegirangan dan kelelahan kami semua terlelap dengan penuh syukur.

Pagi harinya kami makan pagi bersama di lobi penginapan, menu yang disediakan sudah tidak asing lagi, persis seperti apa yang saya lihat di teve, beragam masakan Jepang disediakan dan kami bebas memilih apapun dan makan sepuasnya. Setelah usai sarapan, kami mengikuti kelas Bahasa Jepang bersama Nakaishi Sensei dan Masao Sensei. Di dalam kelas Bahasa Jepang ini kami merasa sangat senang sekali, karena sensei mengajarkan dengan  penuh kesabaran kepada kami yang masih terbata–bata melafalkan huruf–huruf kanji yang diajarkan oleh sensei. Banyak pembelajaran yang saya dapatkan di dalam kelas Bahasa Jepang ini, pokoknya banyak terima kasih untuk Nakaishi Sensei yang telah memberikan ilmu bermanfaat kepada kami.

Keesokan harinya setelah mengikuti kelas Jepang kami diberikan kesempatan untuk mengenakan pakaian tradisional Jepang yakni Yukatta, bentuknya hampir mirip dengan kimono akan tetapi berbeda dengan kimono. Yukatta merupakan pakaian tradisional Jepang yang dikenakan ketika musim panas, namun jarang orang menggunakannya di tempat umum, biasanya digunakan ketika ada ferstival atau kegiatan budaya saja, tetapi saya juga pernah bertemu dengan orang Jepang yang mengenakan kimono di peace memorial park, artinya pakain ini juga boleh dikenakan sehari – hari atau di tempat umum, tergantung yang mengenakannya. Saya merasa nyaman mengenakan yukatta ini dan bentuknya yang unik, sehingga setelah kami mengenakan yukata maka kami melakukan foto bersama untuk mengabadikan momen tak terlupakan ini. Selain mengenakan yukata, di waktu senggang saya berkesempatan melaksanakan upacara 17 Agustus bersama Persatuan Pelajar Indonesia yang ada di Hiroshima, sebelumnya saya sudah kenal dengan ketua PPI Hiroshima yakni Mas Wahyudi. Upacara 17 Agustus di Negeri Sakura menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Begitu besarnya rasa cinta teman–teman PPI Hiroshima terhadap Indonesia sampai berusaha sekuat tenaga serta waktu untuk berkumpul dan melaksanakan upacara memeringati Hari Kemerdekaan. Saya mendapatkan poin keren ketika melaksanakan 17-an di Hiroshima yaitu di mana pun kita berada kita tetaplah Indoensia dan akan selalu ada Indonesia, karena bangsa ini telah membesarkan kita dan membuat kita bisa menjadi orang hebat.

Hari berikutnya kami diberikan waktu luang untuk berkeliling mengeksplor keindahan Higashi Hiroshima. Maka kami memanfaatkan waktu ini untuk menyapa setiap sudut Kota Higashi sembari mengayuh sepeda. Tak terbayangkan bagi saya yang dahulunya hanya bisa bermimpi dan memandangi langit serta begumam, “hmm.. kapan ya saya terbang, ke Negeri Sakura dan menikmati keindahan suasana di sana…?” Sekarang? Alhamdulillah impian itu menjadi kenyataan, dan saya tetap memandang langit tetapi dari sudut berbeda, dari langit Hiroshima. Sejak duduk di kelas 1 SMA saya sudah mengidamkan bisa berkunjung ke Negeri Sakura. Setelah usai menikmati keindahan Higashi maka kami memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat. Alhamdulillah pengalaman hebat kembali kudapatkan.

Perjalanan kami lanjutkan ke Shobara City Hiroshima, tepatnya di Kampus Shobara Prefectural University of Hiroshima. Suasana di Shobara berbeda dengan Higashi, Shobara merupakan kota yang asri dengan luas lahan hijau yang dominan dibandingkan lahan perkotaannya, mayoritas masyarakat di Shobara berprofesi sebagai petani. Maka tidak heran keberadaan Shobara Kampus yang mayoritas mengkaji tentang studi pertanian berada di Shobara, karena lingkungannya yang cocok untuk budidaya pertanian.

Kedatangan kami di Shobara disambut baik oleh teman–teman mahasiswa dari Shobara kampus, bahkan kedatangan kami disambut dengan melaksanakan BBQ party, jujur, bagi saya pribadi ini merupakan kali pertamanya saya mengikuti BBQ party. Jangankan untuk BBQ, kalau di rumah palingan makan daging pas Idul Adha saja, Allah memang Maha Baik terhadap Hamba-Nya. Alhamdulillah semua makanan yang disediakan terjamin ke-halal-annya karena kami delegasi dari Indonesia dan Malaysia mayoritas Muslim, sehingga pihak penyelenggara program memahami keadaan kami, dan mereka sangat menghargai status kami sebagai Muslim.

Kurang lebih tiga hari kami menghabiskan waktu di Shobara, beragam kegiatan kami lakukan salah satunya mempresentasikan potensi pertanian Indonesia di depan professor dan mahasiswa Jepang, Bangladesh, Vietnam serta Malaysia. Ini merupakan salah satu momen tak terlupakan bagi saya, karena nama Indonesia ada di pundak saya, sempat sedikit grogi dalam presentasi akan tetapi Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan hasilnya memuaskan, saya sempat kalang kabut ketika seorang professor melontarkan pertanyaan, namun ia begitu antusias dengan potensi pertanian yang ada di Indonesia. Setelah itu kami mengunjungi beberapa tempat  strategis yang ada di Shobara, seperti Tojo Station, tempat terdingin di Hiroshima ketika musim dingin bahkan salju di sini bisa mencapai ketinggian 3 meter. Kami juga melakukan beberapa kunjungan ke lahan pertanian tomat di Shobara serta membantu petani dalam budidaya tanaman tomat, memanen tomat serta ke lahan bayam dan lobak. Petani di Shobara mayoritas ialah masayarakat yang standar ekonominya tinggi, sehingga jika dibandingkan dengan pekerja kantoran maka kehidupan petani serta penghasilannya jauh lebih baik. Hal ini membuat saya semakin bangga menjadi seorang petani, padahal dahulu ketika di masa SMA bertani merupakan keseharian saya, bahkan menjadi pekerjaan yang dapat membantu uang sekolah saya. Hingga sekarang saya duduk di bangku kuliah di Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian, karena saya percaya jikalau tanpa pertanian, tak ada makanan, maka tak akan ada kehidupan. Begitu penting pertanian bagi masa depan kehidupan yang lebih baik.

Ketika di Shobara kami juga berkesempatan mengujungi Bihokuryouu Park, tempat ini merupakan destinasi wisata yang paling diminati oleh wisatawan Jepang maupun asing, karena disini banyak spot wisata yang bisa kita nikmati serta disini kita akan belajar banyak tentang budaya serta peninggalan masyarakat jepang zaman dahulu. Di taman ini juga terdapat beragam bentuk, bunga, taman ini memiliki tema setiap musimnya sehingga ketika kita kembali kesini diwaktu spring akan berbeda suasananya ketika musim panas, musim dingin maupun musim gugur. Sungguh rapi manajemen taman di sini sehingga membuat pengunjung nyaman untuk berada lama disini dan membuat pengunjung merindukan suasana disini.

Hari terakhir berada di Hiroshima, kepergian kami dilepas dengan farewell party dan presentasi hasil kegiatan yang telah kami lakukan selama tiga hari berada di Shobara. Ketika momen presentasi, beberapa mahasiswa Jepang terharu dengan perpisahan ini. Bahkan ada yang menangis ketika kami pamitan, suasana menjadi haru. Padahal kami tidak lama berada di Shobara namun mereka merasa kehilangan ketika kami harus pamit. Begitu sopannya mereka dan sangat menghargai sebuah pertemanan. Bahkan selama di sini mereka banyak membantu kami. Dan di hari terakhir di Shobara ini kami mahasiswa Indonesia diajak oleh Sensei Harada untuk makan Okonomiyaki serta mengunjungi laboratorium beliau. Sensei Harada merupakan Direktur Program Pascasarjana Prefecural University of Hiroshima akan tetapi di tengah kesibukannya sebagai salah satu pimpinan di kampus, Sensei Harada masih meluangkan waktu untuk bisa bersama dengan kami.

Kegiatan hari pertama di Hiroshima kami mengunjungi Peace Memorial Park. Di tempat inilah tepat bom atom dijatuhkan di masa perang dunia ke II dahulu. Sehingga masyarakat Jepang mengabadikannya menjadi sebuah monumen yaitu Peace Memorial Park. Di taman ini juga terdapat Museum Historical serta beberapa monumen lain seperti Children Monumen. Kami berkesempatan untuk menyimak peristiwa bom atom yang menewaskan 75% masyarakat Hiroshima langsung dari korban bom atom itu sendiri. Ketika beliau memaparkan cerita yang sebenarnya tentang kejadian itu kami merasa sedih dan prihatin dengan kondisi Jepang pada zaman tersebut. Namun yang hebat dari negeri ini ialah setelah peristiwa tersebut tidak menurutkan tekad masyarakat Jepang untuk kembali membangun negerinya. Hal ini terbukti dari pembangunan Kota Hiroshima. Bahkan ketika setahun setelah pengeboman 1946, pembangunan  Hiroshima sudah mulai terlihat. Walaupun efek radiasi dari bom atom pada masa itu masih ada akan tetapi masyarakat tetap membangun peradaban di kota Hiroshima.

Hingga pada hari ini, Hiroshima menjadi salah satu kota terbaik di dunia dan tentunya menjadi salah satu kota yang berharga di Jepang.

Pada hari berikutnya kegiatan kami ialah mengenal kebudayaan Jepang di Miyajima. Miyajima merupakan sebuah pulau yang terkenal dengan destinasi wisata dan peninggalan budaya Jepang, seperti Otori Gate, Shinre, Pagoda, Animal Park, Aquarium, dan banyak monumen–monumen bersejarah lainnya. Kami berangkat ke Miyajima menggunakan boat, selama kurang lebih tiga puluh menit dari Hiroshima menuju Miyajima.

Di Miyajima juga banyak pusat berbelanjaan souvenir serta makanan khas Jepang. Maka tidak heran tempat ini selalu ramai pengunjung, karena menjadi sentral wisata di Kota Hiroshima..

Pertemuan ini memang sangat singkat, sudah saatnya kami berpisah dan mengucapkan “Sayonara” kepada Hiroshima. Begitu banyak pengalaman dan inspirasi yang saya dapatkan dari Negeri Sakura ini, terutama di Hiroshima.

Hiroshima telah mengajarkan sesuatu kepada saya tentang bagaimana menjadi seorang yang lebih berguna. Hiroshima berhasil membuat saya merindukannya, sehingga suatu saat saya akan kembali ke sini.

Perjalanan selama sepuluh hari ini memang sangat singkat, akan tetapi sarat akan inspirasi.

Teman–teman, percayalah suatu saat kita akan bisa meraih mimpi kita, terlepas seperti apa latarbelakang kita saat ini. Apakah kita orang miskin, apakah kita orang yang tidak pintar, apakah kita orang yang kurang beruntung. Apakah kita orang yang jelek dan lain sebagainya. Tetapi teman, yakinlah jikalau kita yakin akan keberhasilan mimpi kita maka kita akan berhasil, terlepas dari semua anggapan negatif tentang diri kita.

Saya merupakan anak buruh tani yang berkuliah dibantu oleh Dompet Dhuafa Pendidikan dengan program Beastudi Etos yang mampu membantu saya mewujudkan satu diantara mimpi – mimpi saya. Padahal jikalau menelisik dari kondisi keluarga jangankan untuk membiayai keberangkatan saya ke Jepang, untuk membayar hutang beras saja belum cukup.

Teman, bukan berarti kita yang terbatas dalam ekonomi memiliki keterbatasan dalam segala bidang, tidak.!

Justru kita yang terbatas ini bisa menjadi tak terbatas dalam bidang lain, karena “keterbatasan tidak membatasi kita untuk menjadi yang tak terbatas”.

Maka, buktikanlah teman, kalau kamu bisa meraih mimpimu, catat mimpi itu, tempelkan di tempat yang sering kamu lihat, tekadkan bahwa kamu bisa mewujudkannya dan bertawakal kepada Allah dan bersiaplah dengan kejutan yang Allah berikan.

Semoga bisa memetik insiprasi dari kisah singkat saya bertemu dengan “Hiroshima”.

 

See you on top!

 

 

Terima kasih kepada Dompet Dhuafa Pendidikan dan Beastudi Etos serta donatur yang dermawan, Alhamdulillah donasinya bisa membantu saya untuk meraih mimpi saya dan memberikan inspirasi kepada yang lainnya. Semoga Allah balas dengan balasan lebih baik.

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN