Mengantisipasi Negeri Jiq Va Dad: Melihat Kabinet Kerja Bekerja

0
193

Oleh: Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Negeri Jiq va Dad, itulah gambaran tentang Indonesia hari ini. Artinya, rintihan dan jeritan. Istilah ini diambil dari sebuah judul majalah karya Ahmadinejad sewaktu menjadi mahasiswa untuk memprotes Shah__Mohammad Reza__Presiden Iran. Maka yang dimaksud Negeri Jiq va Dad ialah negeri dimana rakyat di dalamnya benar-benar merintih dan menjerit karena sulitnya hidup dengan keterbatasan.

Menurut data Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dalam seminar “Big Ideas, Bersama Mengatasi Kemiskinan dan Ketimpangan“, di Jakarta, Selasa (23/9/2014). Ia menyebut angka penurunan kemiskinan di Indonesia hanya sekitar 0,7 persen pada tahun 2012 hingga 2013. Ini merupakan yang terkecil dalam satu dekade terakhir. Sementara ketimpangan yang terjadi di Indonesia semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini tentu saja akan mengurangi manfaat dari tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dasarnya berhasil mengurangi tingkat kemiskinan yang semula sekitar 24 persen pada tahun 1999 menjadi 11,3 persen pada tahun 2014. Namun bagaimanapun juga, jumlah 68 juta penduduk Indonesia masih rawan jatuh miskin. Sebab, pendapatan mereka hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga miskin.

Kemudian berdasarkan data dari FAO tahun 2012, diketahui sekitar 21 juta atau 8,6 persen orang Indonesia mengalami kelaparan pada 2010 hingga 2012. Selain itu, terdapat laporan berjudul Improving Child Nutrition: The achievable imperative for global progress yang dipublikasikan oleh United Nation of Children’s Fund (UNICEF) pada April 2013, menyatakan Indonesia menempati peringkat kelima dengan kasus kekerdilan terbanyak dan peringkat keempat dengan kasus penyusutan terbanyak dari 88 negara di dunia.

Selanjutnya, mengenai pendidikan. Menurut data BPS tahun 2014, kasus tinggal kelas, terlambat masuk sekolah dasar dan ketidakmampuan untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi merupakan hal yang cukup banyak menjadi sorotan. Kasus putus sekolah yang juga banyak terjadi terutama di daerah pedesaan menunjukkan bahwa pendidikan belum menjadi prioritas bagi orangtua. Rendahnya prioritas tersebut dipicu akses masyarakat terhadap pendidikan yang masih relatif kecil, terutama bagi keluarga miskin yang tidak mampu membiayai anak mereka untuk meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi.

Melihat begitu kompleks masalah yang sedang dihadapi di Indonesia nyatanya tak banyak mempengaruhi para pemimpin negeri untuk lebih peduli. Lihat saja maraknya kasus penyelewengan kewenangan yang dilakukan pemerintah, korupsi merajalela, bahkan kita sering melihat adanya ketegangan politik antara berbagai lembaga negara, seperti yang terjadi pada KPK dan Polri. Hal ini justru menghambat kinerja lembaga negara. Kami tidak melihat adanya kebijaksanaan dan kerendahan hati dari para penguasa untuk bekerjasama. Mereka semua menyandang status terhormat, tapi perilakunya jauh dari kata terhormat.

Kepemimpinan nasional dibawah arahan Jokowi-JK telah resmi bergulir selama kurang lebih dua tahun. Sejak itu, janji-janji Jokowi-JK yang tertuang dalam Nawa Cita sangat dinantikan pembuktiannya. Maka, political will menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan. Pasalnya, rakyat masih merasakan rintihan dan jeritan dalam kehidupannya. Mereka selalu dijadikan korban atas segala kebijakan yang dikehendaki pemerintah; bahkan rakyat cenderung dijadikan sebagai alat politik para (calon) penguasa disetiap kesempatan pemilu. Nafsu untuk menjadi penguasa mengalahkan segalanya. Bahkan hampir dipastikan janji-janji dan juga program kerja hanya menjadi dokumen pelengkap pemilu; tak terjamahi oleh mereka yang kelak berkuasa.

Hadirnya Jokowi dalam politik Indonesia nampaknya membawa angin segar. Tanpa maksud mengurangi peran besar pemimpin-pemimpin Indonesia sebelumnya, kami sampaikan bahwa benar adanya jika rakyat merindukan kehadiran sosok pemimpin yang begitu dekat dengan rakyat. Hal paling mudah untuk membuktikannya adalah ketika orang-orang disekeliling kita begitu antusias tatkala berbicara tentang Jokowi dalam politik Indonesia. Tentunya hal ini baik, bahkan memunculkan rasa optimisme bahwa dalam waktu dekat akan terjalin sinergi yang kuat antara rakyat dengan pemerintah dalam program perealisasian janji-janji kampanye demi pembangunan Indonesia.

Ada pepatah mengatakan “segala sesuatu itu pernah diucapkan sebelumnya; tapi karena tidak ada seorangpun yang mendengarkan, maka kita terus mundur ke belakang dan memulainya lagi dan lagi.” Pepatah tersebut mengajak kita semua untuk lebih banyak mendengar. Namun perlu diperhatikan, sehabis mendengar kita harus lekas bekerja. Sudah terlalu lama kita mengabaikan pesan-pesan penting dari pemimpin bangsa ini. Sebab hal tersebut  membuat bangsa ini hanya bergerak maju selangkah dan mundur lagi selangkah.

Sesuai dengan nama kabinet Jokowi-JK, Kabinet Kerja, harapan seluruh rakyat Indonesia senantiasa tercurah kepadanya. Bahwa dalam setiap tetes air mata dan do’a dari rakyat Indonesia semata untuk kebaikan pemerintah. Dengan penuh harap, semoga pemerintah Indonesia tetap bekerja atas nama pengabdian untuk rakyat, bukan pengabaian atas kepentingan pribadi semata.

Adanya reshuffle yang dilakukan sebanyak dua kali membawa berbagai pandangan di masyarakat. Sebagian kalangan menafsir ini langkah yang tepat, sebagian lain menganggap skeptis akan hal ini. Sebagai contoh ungkapan pengamat ekonomi, Dradjad Wibowo melihat perombakan atau reshuffle kabinet jilid II lebih terlihat kesan politiknya dibanding untuk penguatan ekonomi. Meski tidak dipungkiri bahwa menteri yang kena reshuffle mayoritas pada bidang ekonomi. Namun, menurut Dradjad, Jokowi dalam melakukan reshuffle bisa juga hendak ‎menegaskan dirinya adalah sebagai orang nomor satu di Indonesia.

“Reshuffle jilid II ini Jokowi ingin menegaskan bahwa dirinya sebagai Presiden RI. Bukan orang lain, bukan juga Wapres, juga dia bukan sebagai petugas parpol dan ingin menegakkan presidensial,” kata Dradjad di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/7/2016).

Terlepas dari kesan politiknya, saya berharap bahwa upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi, terutama dalam bidang perekonomian yang sedang terpuruk bisa segera terealisasikan. Terakhir, semoga Jiq va Dad tidak lagi bermesraan dinegeri ini, selamanya. Mari kita lihat sepak terjang Kabinet Kerja pasca reshuffle kedua.

Komentar via Facebook
BAGIKAN