Mengenali Dunia VUCA Seorang Pemimpin

0
259

Oleh: Imamatul Khair

Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis (BAKTI NUSA) Nusantara 7 Universitas Airlangga

Hidup di masa sekarang membutuhkan banyak persiapan dimulai dari bagaimana kita memilih suatu lingkup masyarakat dan terlibat di dalamnya, memahami pola arus manusia dari hilir ke hulu, dan mempelajari kemampuan teknologi yang tak terbendung keberadaannya. Pola-pola yang sedemikian rupa tentu tidak hanya dibarengi dengan kesiapan fisik, namun mental dan pola pikir pun diperlukan. Perubahan-perubahan pola yang sedemikian rupa dalam konteks kehidupan manusia saat ini tentu membutuhkan sosok pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain yang bisa berjalan beriringan dengan demand. Pernahkah kita berpikir apakah kita telah memimpin diri kita atau orang lain dengan jalan yang tepat di masa sekarang? Pernahkah kita berpikir apakah kita sudah tahu kemampuan apa saja yang patut kita miliki dalam kondisi distribusi digital saat ini?

Kondisi kepemimpinan yang digaungkan saat ini adalah Kepemimpinan Abad ke-21. Tantangan yang biasanya dihadapi oleh kepemimpinan ini tak lain tentang dunia yang berubah-ubah. Dengan kata lain, pemimpin abad ke 21 hidup dalam dunia VUCA yaitu Volatility, Uncertainty. Complexity dan Ambiguity. Volatility merupakan kondisi di mana ada ketidakseimbangan antar sektor karena kondisi yang naik turun. Uncertainty merupakan kondisi yang sulit di mana seorang pemimpin membutuhkan kepastian terhadap apa yang terjadi. Complexity merupakan kondisi di mana banyak faktor yang memengaruhi dan dipengaruhi, dan yang terakhir tentang Ambiguity yang lebih banyak dirasakan oleh sebagian besar dari kita. Ambiguity cenderung untuk menghasilkan multitafsir sehingga sulit untuk seorang pemimpin mengerti dan menafsirkan dampak dari suatu kejadian dilingkup masyarakat.

Pemahaman terhadap kondisi VUCA world ini seharusnya tertanam dalam setiap individu. Akan tetapi, seorang pemimpin harus memiliki faktor penyeimbang untuk mengatasinya. Untuk mengatasi situasi yang tidak seimbang dalam berbagai sektor kehidupan, kita dapat menentukan Vision dalam hidup kita sehingga kita memiliki tujuan dan fokus yang jelas. Pada dasarnya, seorang pemimpin tentu telah paham betul tentang pentingnya memiliki visi karena dalam proses kepemimpinan terdapat sharing vision untuk mewujudkan ‘mimpi’ yang telah dibuat. Tak hanya itu, seorang pemimpin juga perlu memahami kondisi lingkungan di mana ia tinggal dan melakukan aktivitas. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya ketidakpastian atau perubahan yang akan terjadi di suatu masa. Hal ini tidak dapat dipungkiri melihat maraknya aktivitas pasar global dan teknologi. Contohnya saja, sebagai orang Indonesia, kita masih menganggap bahwa menjuluki orangtua dengan kata “bapak, ibu, papa, atau mama” sangat dijunjung mengingat orangtua memiliki posisi terhormat dalam kehidupan anak. Namun, pandangan ini mungkin dapat berubah dalam beberapa tahun ke depan. Anak akan menirukan gaya budaya barat untuk memanggil orangtua mereka dengan hanya menyebutkan nama. Bagaimana bisa demikian? Penyeberan efek globalisme ada di mana-mana misalnya film atau artikel online. Menghadapi situasi yang sedemikian rupa, Understanding mendorong kita untuk memahami dan mempertahankan apa yang sesuai dengan kondisi tempat kita tinggal. Ketiga, tantangan kompleksitas kehidupan memang tak lagi menjadi hal yang asing. Setiap individu pada abad ke-21 ini harus melalui masa-masa yang tidak sederhana akibat ketidakpastian yang menjadi nyata. Permasalahan yang satu dan lainnya saling berhubungan, dan penyelesainnya pun juga saling konjungtif. Kompleksitas ini dapat ditangani dengan Clarity. Ketika menghadapi sebuah persoalan, seorang pemimpin harus memilih penyelesaian yang sederhana dalam melihat kompleksitas yang ada. Misalnya, masalah yang baru-baru ini dihadapi adalah tentang Sikap Malaysia terhadap Indonesia di liga SEA Games. Tidak mungkin jikalau kita berteriak-teriak di hadapan panitia karena terbaliknya bendera kita. Namun, apa yang seharusnya kita lakukan? Kita dapat mengirimkan tulisan tentang bagaimana sikap Indonesia terhadap persoalan itu. Bahasanya pun harus dikemas dengan sopan untuk menunjukkan seperti apa rakyat Indonesia. Dengan melakukan hal-hal yang sederhana semacam ini pun juga berdampak besar dalam hal yang kompleks. Poin terakhir dalam faktor penyeimbang VUCA adalah Agality. Kemampuan ini digunakan untuk mengatasi ambiguitas yang datang silih berganti. Bersikap tangkas atau lincah bukan berarti kita tidak memikirkan konsekuensinya. Dari proses yang sebelumnya telah dijelaskan, seorang pemimpin harus dapat menganalisa konsekuensi yang akan diakibatkan oleh sikap yang akan diambil nantinya. Agality berhubungan dengan aksi karena tanpa elemen ini perencanaan yang dibuat sebelumnya akan menjadi sia-sia.

Seperti layaknya yang dikatakan oleh John C. Maxwell bahwa ‘a leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way’. Dengan kata lain, seorang pemimpin merupakan orang yang memiliki visi, bertindak menggapainya, dan menunjukkan orang lain untuk bersama-sama menuju ke arah yang serupa. Dengan demikian, setiap individu perlu tahu apa saja tantangan-tantangan yang akan dihadapi di masa ini dan yang akan datang serta bagaimana mengantisipasi berbagai macam kemungkinan yang ada.

Komentar via Facebook
BAGIKAN