Milenial, Sudah Saatnya Berjuang Untuk Masyarakat!

0
342

Milenial, Sudah Saatnya Berjuang Untuk Masyarakat!

 

Bogor – “Kita hidup di zaman penuh kepalsuan!” ucap Sunaryo Adiahtmoko, Pegiat Kemanusiaan, lantang membuka sesi kedua Strategic Leadership Training (SLT) 1.0.

 

Pernyataan Sunaryo sontak membuat 64 aktivis Penerima Manfaat (PM) Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) di Aula Zikir Zona Madina terkejut dibuatnya. Pada sesi kedua SLT 1.0 Sunaryo didapuk memberikan keynote speech bertajuk “Kepemimpinan Generasi Milienial dan Tantangan Melayani Bangsa”, ia menjelaskan jika jati diri untuk generasi milenial merupakan prinsip penting demi mengembangkan negara ini, pondasi jati diri baginya bisa membangun peradaban bangsa.

 

“Bangsa ini memiliki masalah jati diri, bahkan masyarakat seolah kehilangan dirinya. Itulah mengapa jati diri menjadi hal penting. Saya meyakini jika suatu hari seseorang akan mengubah wajah negara ini,” ujarnya penuh semangat.

 

Berkaca pada masa lalu, mengubah wajah negara ini bukanlah perkara mudah, dibutuhkan sebuah kunci penting bernama pendidikan. Pendidikan dianggap mampu membalikan keadaan sebab ada inti bangsa di dalam sebuah pendidikan. Hanya saja, menurut Sunaryo, walau anak bangsa telah bersekolah pendidikan seperti gagal memberikan teladan di masyarakat.

 

“Koruptor. Koruptor, siapa mereka? Mereka adalah orang-orang terpelajar, mereka adalah orang-orang yang mengenyam pendidikan di sekolah atau kampus ternama, lalu kenapa mereka tumbuh menjadi maling? Ini adalah permasalahan dan tantangan bersama yang harus kalian hadapi. Persoalan tak sederhana yang menyebabkan struktur sosial rusak,” tuturnya.

 

Keteladanan versi Sunaryo merujuk kepada apa yang diyakini oleh masyarakat dan apa yang dirasakan masyarakat, namun menurutnya perubahan pasti akan terjadi dan generasi milenial lah yang kelak harus menjaga keyakinan tersebut.

 

“Perubahan di masyarakat hari ini barometernya terletak di kota, kota memiliki kecenderungan mengambil potensi negeri ini dan membuat mereka yang tinggal di desa berkiblat ke sana, maka sebagai pemimpin kita harus mempelajari ekonomi pasar rumput. Kalau kita ingin membangun Indonesia baru, kita harus kembali ke desa dan membangun spirit di sana, jejakan kaki kalian di desa dan buat keterpurukan menjadi berdaya,” jelas Sunaryo.

 

Milenial dianggap mampu melayani bangsa karena memiliki pemikiran lebih strategis dibandingkan generasi sebelumnya, milenial juga disinyalir mampu membuka dialog di masyarakat sebab dialog dibutuhkan masyarakat saat ini.

 

“Persoalan terbesar negeri ini adalah bagaimana kita membangun perubahan dari bawah untuk menopang pembangunan, masalahnya membangun Indonesia bisa sulit dan mudah, yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah dialog. Saya yakin milenial mampu melakukan itu semua,” tegasnya.

 

Sunaryo yang telah malang melintang di dunia kemanusiaan mencoba menyulut keseriusan para aktivis dalam menumbuhkan rasa terhadap bangsanya melalui serentetan pengalaman selama ia berjibaku di berbagai negara.

 

“Apa yang bisa kita perbuat untuk Indonesia? Tuliskan, catat, dan lakukan dengan baik. Kita akan mengalami masa berat di masa depan maka asahlah kemampuan kalian untuk berdiskusi, perbaiki adab kalian, dan eksplorasi kemampuan diri. Jangan lupa jika generasi milenial harus punya nyali dan kemampuan untuk berkorban, jika kalian punya misi untuk memajukan bangsa ini maka kalian harus bertarung dengan benar dan berdiri serta berjuanglah bersama masyarakat,” tutup Sunaryo. (AR)

Komentar via Facebook