Nyinyir Bae, Kasih Solusi Buat Bangsa Ini kek

0
37

Nyinyir Bae, Kasih Solusi Buat Bangsa Ini kek

Setiap bangsa tentu memiliki pemimpin besarnya masing-masing. Jawaharlal Nehru untuk India, misalnya, dan Gamal Abdel Nasser untuk Mesir. Negara maju pun memiliki pemimpin besar seperti George Washington untuk Amerika Serikat dan Winston Churchill untuk Inggris.

Yang perlu diingat adalah bahwa pemimpin bukan segalanya, Suatu bangsa menjadi besar tidak semata terletak pada pemimpinnya. Rahasia keberhasilan Amerika Serikat tentu saja tidak hanya karena jerih payah George Washington pada masa lalu. Kebesaran Inggris juga terlalu sederhana jika dijelaskan dari sosok Churchill. Dalam keadaan krisis mungkin yang dibutuhkan adalah figur seperti Churchill. Dalam periode berbeda, mungkin yang dibutuhkan adalah pemimpin seperti Margaret Thatcher untuk kasus Inggris.

Tak jarang pula kita melihat terdapat pemimpin yang pada awal kemunculannya dianggap sebagai penyelamat bangsa. Namun, dalam proses perjalanan sejarah, warisan kebijakannya tidak mampu menjaga keutuhan bangsa itu. Lihat, misalnya, kasus Yugoslavia. Josef Broz Tito adalah pemimpin besar bagi Yugoslavia. Namun, pada saat yang sama, kebesarannya itu tidak mampu menyangga keutuhan Yugoslavia.

Ketika Tito wafat, Yugoslavia tak lama kemudian menjadi hilang. Demikian juga dengan Mikhail Gorbachev dalam kasus Uni Soviet. Ia dikenal sebagai pemimpin yang melakukan perubahan, tetapi dengan akibat Uni Soviet tinggal menjadi catatan sejarah belaka.

Pemimpin Sebagai Solusi

Aneka macam persoalan bangsa yang terus menumpuk dapat menjadi indikasi lumpuhnya kepemimpinan yang ada, baik pada tingkat daerah maupun tingkat nasional. Kepemimpinan lumpuh bukan karena ia tidak bisa bergerak, melainkan karena gerak bodinya yang acap tidak mengarah pada penyelesaian masalah-masalah bangsa yang sangat akut, seperti korupsi, penegakan hukum, kerukunan umat beragama, dan segudang masalah lainnya. Di sini lah peran pemimpin menjadi solusi mengatasi segudang masalah tersebut karena seorang pemimpin memiliki kuasa untuk mengarahkan dan membuat kebijakan-kebijakan untuk menekan permasalahan tersebut.

Di sinilah pentingnya menyadari bahwa pemimpin memiliki posisi yang sangat strategis. Sudah seharusnya kepemimpinan ditertibkan sesuai dengan anak tangga kepemimpinan yang ada. Dengan begitu, keberadaan kepemimpinan terasa hadir dan nyata dalam upaya menyelesaikan sejumlah persoalan yang ada, tidak sekadar ada yang laksana tiada.

Kepemimpinan Strategis

Inilah yang penulis katakan bahwa kesadaran kepemimpinan strategis menjadi amat penting. Kepemimpinan strategis terbentuk dari kesadaran akan pentingnya menyelesaikan sejumlah persoalan yang ada dan bersifat mendesak. Setidaknya ada 3 alasan mengapa kesadaran kepemimpinan strategis perlu mendapatkan perhatian khusus.

Alasan pertama, kesadaran akan kepemimpinan strategis akan memudahkan tindakan-tindakan untuk menggerakkan warga negara. Seorang pemimpin dalam memimpin tidak hanya memiliki visi dan misi yang dijajakan pada masa kampanye. Ia juga tidak sekadar mampu memobilisasi sumber-sumber pendanaan setelah berhasil memenangi pemilihan umum.

Tidak kalah pentingnya, ia juga harus mampu menggerakkan warganya. Namun, mobilisasi warga untuk mencapai tujuan tertentu akan menjadi usaha yang teramat sulit dan memakan biaya yang sangat tinggi seandainya tidak terdapat pemahaman tinggi.

Alasan kedua, kesadaran kepemimpinan strategis sedikit banyak berpengaruh terhadap kepercayaan (trust) publik. Dalam hal ini, substansi dari kepercayaan itu terletak pada harapan tentang hari esok. Seseorang yang yakin bahwa sesuatu akan terjadi pada hari esok dan bahwa sesuatu yang terjadi pada hari esok itu akan lebih baik daripada hari ini adalah seseorang yang memiliki kepercayaan. Tentu saja situasi sebaliknya akan terjadi jika kepercayaan hilang atau mengalami penguapan. Namun, kepercayaan bukan pula sesuatu yang terjadi dengan sendirinya.

Alasan ketiga, dengan sadar secara penuh tentang kepemimpinan strategis, ia dapat menjadi obat untuk mengatasi jebakan keberagaman. Setiap orang memiliki keunikan sendiri. Setiap orang memiliki perbedaan satu dengan lainnya. Latar belakang kultural dan kepentingan ekonomi yang berbeda ini mengharuskan dibuatnya kebijakan-kebijakan yang mampu memfasilitasi keberagaman tersebut. Dan kebijakan tersebut hanya keluar dari posisi strategis seperti pemimpin.

Dari apa yang telah disampaikan dapat ditegaskan, bangsa ini ke depan lebih membutuhkan pemimpin yang sadar akan kepemimpinan strategis yang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan sejumlah persoalan yang ada dalam waktu secepat mungkin. Walaupun, pemimpin tersebut mungkin tidak terlalu sesuai dengan nilai-nilai kepemimpinan primordial seperti kesantunan, kelembutan, dan hal-hal lain yang bersifat kebaikan secara fisik. Mari kita songsong kepemimpinan kontekstual pada momen-momen pemilu/pemilukada ke depan

Komentar via Facebook
BAGIKAN