Pemimpin adalah Tentang Pengaruh

0
408

Tanah negeri ini adalah milik sah bangsa Indonesia. Seluruh kekayaan alam, potensi energi, keaneragaman budaya, keragaman suku bangsa adalah milik sah bangsa ini. Luasnya lautan, berjajarnya ribuan pulau dari Sabang hingga Merauke adalah milik sah bangsa ini, milik sah sejak 72 tahun negeri ini resmi terdeklarasikan sebagai bangsa yang merdeka. Namun sejatinya apakah negeri ini sudah medeka yang sesungguhnya?

Negeri ini ternyata belumlah sampai pada kemerdekaan yang hakiki. Tujuh puluh dua tahun merdeka nyatanya bukan akhir dari sebuah perjuangan bangsa untuk merasakan pengakuan secara idealis bahwa tanah air ini adalah milik bangsa Indonesia sepenuhnya.  Nyatanya, kemerdekaan itu adalah sebuah perjuangan berhiarki yang harus melewati fase fase dengan perbedaan permasalahan dalam setiap fase. Nyatanya fase kemerdekan 72 tahun yang lalu diakui oleh Dunia melalui ksatria Soekarno adalah fase awal secara deklarasi. Nyatanya, bangsa ini  butuh perjuangan lebih keras lagi. Bukan lagi perjuangan dengan senjata tajam dan fisik yang dipertaruhkan melainkan perjuangan untuk bebas dari perang pemikiran yang akan terus kaum barat selipkan pada bangsa ini, perjuangan melawan kebodohan dan kebobrokan moralitas yang menjajah pemikiran dan mengikis idealisme melalui para pemimpin  tak bermoral yang kemudian terteladankan buruk pada rakyat yang miskin akan kekayaan idealism bangsa dan intelektualitas.

Dalam sebuah perkumpulan manusia maka niscaya perlu ditentukan satu sosok sebagai pemimpin yang akan menentukan ke arah mana visi dan tujuan perjalanan akan dituju. Pemimpin adalah kunci utama nasib dari sebuah bangsa. Ibarat sebuah rumah tangga maka sosok sang Ayahlah yang akan menentukan bagaimana proses perkembangan dan kesejahteraan perjalanan rumah tangga akan dibawa, kemartabatan atau kehinaan?.

Pemimpin adalah sosok yang terbina dalam proses melalui pembinaan intelektual, ketrampilan maupun idealism dan kepribadian pengabdian. Pemimpin bukanlah sosok yang muncul tanpa binaan dan tempaan. Layaknya Muhammad Al Fatih yang tersiapkan sejak dalam kandungan sebagai pemimpin ummat islam dengan bekal ilmu dan idealism islam mengakar kuat dalam dirinya. Pemimpin yang sudah yang dijanjikan Oleh Allah dalam sabda Rasul “ akan datang suatu saat nanti seorang pemimpin yang sebaik baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik baik pasukan”. Al Fatih adalah sosok  pemimpin yang memiliki kecerdasan dalam memainkan strategi perang dan ketangkasan dalam memainkan pedang, pemimpin yang memiliki kepintaran dalam menata urusan pemerintahan kerajaan, dan seorang pemimpin yang memiliki kasih sayang dan keadilan bagi rakyat yang dipimpinnya. Berkaca dari sosok luar biasa Muhammad Al Fatih maka melalui proses penyiapan pribadi ksatria dalam diri Al Fatih tidak lepas dari didikan oleh guru guru hebat Muhammad Al Fatih sejak kecil.

Pemimpin sejati bukanlah hanya berbicara tentang jabatan dan posisi, pemimpin adalah seberapa besar dia memiliki pengaruh dalam lingkungan dia memimpin. Pemimpin strategis adalah pemimpin yang mampu menciptakan kebijakan kebijakan dalam kebaikan yang mampu diterima oleh rakyatnya. Pemimpin bukanlah sekedar berbicara tentang seberapa tinggi dan terhormatnya jabatan melainkan seberapa dia mampu menggunakan kehormatan amanahnya pada tujuan menciptakan keadilan dan kesejahteraan yang berpihak pada rakyat. Pemimpin strategis adalah pemimpin yang memiliki kebijakan dalam kemuliaan hatinya dan kecerdasan dalam konsep berfikirnya.

Dalam sebuah buku karangan Dea Tantya mengatakan bahwa Leiden is Leijen pemimpin adalah menderita. Sebuah jiwa pengorbanan yang raga dan fikirannya hanya tersembahkan mengabdi kepada kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin yang dalam siangnya ia gunakan untuk memikirkan rakyat dan malamnya ia gunakan sebagai masa merenung kepada Tuhannya sebagai masa koreksi muhasabah diri.

Kepemimpinan yang berketeladanan adalah  kepemimpinan yang mampu memberikan transformasi negeri menuju perbaikan melalui visi misi yang terbangun atas dasar pemikiran yang matang. Kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan segala elemen bangsa tanpa adanya celah celah yang mampu membangkitkan perselisihan dan permusuhan. Kepemimpinan dengan intelektualitas dan basis berfikir jernihnya mampu melawan perang idealism bangsa asing untuk memghancurkan idealisme agung bangsa ini. Kepemimpinan yang dengan penuh kasih sayangnya mengabdikan penuh apa yang dia miliki untuk kepentingan rakyatnya.

Komentar via Facebook
BAGIKAN