Pemuda Berbuat untuk Masyarakat

0
231

Oleh: Sevirna Ratri Aryani, BA 7 Surabaya

Pemberdayaan masyarakat.

Sebuah istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Semua elemen masyarakat saat ini berbondong-bondong untuk melakukan, menggaungkan, dan menggalakkan pemberdayaan masyarakat. Mulai dari siswa, perusahaan, lembaga swadaya masyarakat, hingga mahasiswa atau pemuda.  Terutama di kalangan mahasiswa atau pemuda, pemberdayaan masyarakat adalah hal yang menjamur dan menjadi trend.

Di kawasan kampus, mungkin hampir tiap Himpunan Mahasiswa ataupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), baik dalam level jurusan, fakultas, maupun universitas pasti memiliki divisi khusus atau minimal kegiatan khusus untuk pemberdayaan masyarakat. Community development seperti Bina Desa ataupun bentuk pemberdayaan lain seperti pemberdayaan wanita, pemberdayaan anak melalui sekolah mengajar, dan bentuk-bentuk pemberdayaan lain sudah umum menjadi program kerja yang dilakukan tiap organisasi mahasiswa tersebut. Ini masih untuk perkumpulan Mahasiswa, belum Pemuda pada umumnya, dalam organisasi formal.

Selain perkumpulan Mahasiswa yang formal di atas, banyak juga perkumpulan-perkumpulan Pemuda non-formal dalam bentuk yang lebih dinamis, yang biasa kita kenal sebagai komunitas. Komunitas inipun beragam dengan orientasi problemnya masing-masing.

Selain itu, menurut pengalaman pribadi penulis, kegiatan sosial mempunya penggemar yang tinggi, yang jika diadakan open recruitment terhadap divisi-divisi dengan job description berbeda, divisi berbau pemberdayaan masyarakat selalu mempunyai peminat paling tinggi.

Namun, apa makna Pemberdayaan Masyarakat sebenarnya?

Menurut Ife (dalam Suhendra, 2006:77) pemberdayaan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kekuasaan atau kekuatan mereka yang kurang beruntung (empowerment aims to increase the power of disadvantage).

Lalu ada tiga cara memberdayakan masyarakat menurut Kartasasmita (1995:95) yakni :

  1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi suatu komunitas masyarakat. Karena hakikat dari pemberdayaan adalah individu atau masyarakat yang diberdayakan menjadi berdaya, yang mana maksudnya individu atau masyarakat tersebut dapat secara mandiri mengembangkan potensinya meski proses pemberdayaan oleh pihak tertentu sudah selesai.
  2. Memperkuat potensi dari individu atau suatu komunitas masyarakat.
  3. Memberdayakan masyarakat, seperti definisinya menurut Ife, yaitu meningkatkan kekuasaan atau kekuatan yang kurang beruntung.

Pemberdayaan adalah suatu proses berkelanjutan yang mempunyai tahap pelaksanaan rencana yang jelas dalam rangka meningkatkan kemampuan atau utilitas dari objek yang diberdayakan yang mana dasar pemberdayaan objek tersebut adalah karena adanya keterbatasan, keterbelakangan, atau ketidakberdayaan

Sekilas, dari penjelasan pemberdayaan masyarakat di atas, jika pemuda terlibat dalam pemberdayaan masyarakat, kesannya nampak sangat keren. Namun tugas pemberdayaan yang mulia itu, memerlukan proses yang panjang, serta tenaga dan pikiran yang fokus dan berkomitmen. Diperlukan sikap kepemimpinan, tidak hanya pada pemimpin dalam suatu organisasi pemberdaya masyarakat, namun juga tiap pemuda yang terlibat dalam dunia pemberdayaan. Sikap kepemimpinan tersebut terutama digunakan untuk memahami beberapa hal penting yang, menurut pengalaman penulis, sering menjadi momok kesalahan perjuangan Pemuda di dunia pemberdayaan.

  1. Memahami Kebutuhan masyarakat

Ketika pemuda sudah mau untuk bergerak memberdayakan dan menjadi bagian dari permasalahan di masyarakat, terutama dalam mewujudkan solusi, maka minimal willingness requirement sudah terpenuhi. Pemberdayaan adalah tentang perubahan, namun yang sering disalahpahami oleh organisasi-organisasi pemberdaya milik pemuda adalah tentang bagaimana memaknai cara untuk merubah komunitas masyarakat tersebut.

Seringkali, dengan pendidikan kita yang lebih tinggi mungkin, kita merasa tau apa yang dibutuhkan masyarakat dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut kedalam ide program kita, ide program yang benar-benar baru bagi komunitas masyarat yang diberdayakan. Padahal jika diumpakan, kita adalah orang asing yang tidak tau budaya dan pengetahuan dalam komunitas masyarakat tersebut. Sehingga tanpa pengetahuan organik tentang komunitas tersebut kita bisa saja terjebak menjadi alien yang membawa program alien, tanpa sama sekali membawa atau mengintegrasikan kearifan lokal yang ada dalam masyarakat.

Ini yang menurut penulis sering menjadi kunci permasalahan mengapa banyak sekali program pemberdayaan masyarakat oleh Pemuda berhenti di tengah jalan, menemui kebuntuan dalam pengembangan ide program yang ternyata tidak cocok untuk suatu komunitas masyarakat tersebut.

  1. Menyamakan visi: Memahami ekspetasi dari tiap individu dalam organisasi yang menjadi Pemberdaya Masyarakat

Disini sikap kepemimpinan terutama sangat dibutuhkan. Dalam pemberdayaan, tidak hanya unsur masyarakat yang diberdayakan yang penting, namun sumber daya manusia yang memberdayakan juga menjadi unsur krusila dalam keberhasilan proses pemberdayaan.

Namun nyatanya, dibanyak organisasi dan komunitas, justru permasalahan utama terletak di SDM pemberdaya itu sendiri. Salah satu penyebabnya bisa saja karena adanya perbedaan ekspetasi dari tiap individu anggota dalam suatu komunitas atau organisasi pemberdaya. Contohnya, si pemimpin berkekspetasi anggotanya bergerak sebagai eksekutor saja, sedangkan para anggota mempunyai ekspetasi akan menjadi konseptor juga. Si pemimpin berharap bergerak dengan kecepatan 100 km/jam, disaat anggotanya ada yang hanya punya kekuatan 50 km/jam, atau bahkan tidak terlalu ingin bergerak cepat karena cuma ingin singgah sebentar saja.

Inilah mengapa, di awal proses, penting untuk menyatakan ekspetasi dari tiap orang dan menyatukan visi yang disetujui semua individu dalam oragnisasi atau komunitas pemberdaya.

  1. Memahami budaya dan bentuk organisasi

Organisasi kampus biasanya memiliki bentuk yang lebih kaku dan formal. Sedangkan komunitas Pemuda bergerak sesuai problem, sehingga biasanya menjadi lebih dinamis dan fleksibel. Didalam organisasi kampus, struktur dan fungsi yang jelas, serta komitmen organisatoris yang jelas, adalah hal positif yang harus dijaga. Namun kelemahannya, terkadang organisasi kampus kurang dalam hal inovasi dan kedinamisan. Dilain pihak, komunitas pemuda bergerak lebih dinamis, dengan ide-ide yang lebi segar dan didalamnya berkumpul orang-orang dengan satu kesamaan passion di satu bidang permasalahan tertentu saja. Namun kelemahannya, komunitas seringkali terlalu fleksibel sehingga unsur volunteer benar-benar diartikan secara harfiah, yakni komitmen yang seringkali rendah dari para volunteer dalam komunitas tersebut.

Budaya dan bentuk organisai ini terutama harus dipahami tiap orang, terutama si Pemimpin. Memerlukan sikap kepemimpinan yang baik untuk mempertahankan kebudayaan yang baik, dan mengambil kebudayaan baik bentuk organisasi yang lain, lalu menggabungkan kedua budaya organisasi tadi agar organisasi atau komunitas yang ada akan benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan awal pembentukan, yaitu berhasil memberdayakan masyarakat.

Pada akhirnya, hal-hal diatas harus dilakukan dengan sikap kepemimpinan, yakni tiap orang harus sadar bahwa tiap orang adalah pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri. Agar dalam proses pemberdayaan, masyarakat akan benar-benar menjadi objek pemberdayaan dan tidak hanya menjadi objek pembelajaran Pemuda saja.

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN