Pemuda dan Pemimpin

0
49

Oleh: Khairah

“Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu atau pekerja rumah tangga yang memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban dari hal yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari Muslim)

Sebuah kutipan hadits sebagai pengantar sebuah tulisan yang ingin mencoba merefleksikan seluruh kepemimpinan anak bangsa hari ini, kepemimpinan bukan tentang mencari sebuah popularitas, tapi bagaimana melaksanakan tanggungjawab untuk membangun visi besar Indonesia.

Indonesia adalah negara kepulauan yang luas dengan keanekaragamannya yang menjadikan Indonesia itu unik. Tetapi tetap satu, Bhineka Tunggal Ika yang dicengkram erat oleh Sang Garuda di angkasa menjadi pemersatu bangsa yang terdiri dari beragam kekhasan dari masing-masing daerahnya, menjadikan kita tetap satu yaitu Indonesia.

Begitupula dengan para pemudanya. Terlahir dari suku-suku yang berbeda, dan tumbuh di lingkungan yang berbeda tidak menutup kemungkinan seseorang kelak dapat mejadi pemimpin negri kita tercinta, Indonesia. Sebuah negri yang kaya dan makmur, namun masih perlu berjuang lebih keras untuk membantu Sang Garuda mampu terbang lebih tinggi diangkasa.

Berbicara tentang leader, sangat berhubungan dengan aksi gerak pemuda, jika kita merujuk pada pengertian pemuda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti adalah seorang laki-laki atau perempuan muda. Dan ketika kita menambahkan imbuhan di depannya menjadi “para pemuda”, maka yang terbesit dalam benak kita ialah para penerus bangsa.

Pemimpin yang tak pernah luput dari ingatan kita ialah sosok pemimpin peradaban manusia yang patut ditiruh yakni baginda Rasulullah Muhammad SAW. Ialah panutan yang selalu menebarkan kebaikan di muka bumi, Rasulullah adalah panutan yang wajib di contoh oleh calon pemimpin masa depan maupun pemimpin pada masa sekarang. Karena beliau adalah gambaran pemimpin yang sangat ideal. Setiap manusia fitrahnya adalah seorang khalifah dimuka bumi yang bertugas menjaga apa yang ada di muka bumi termasuk sebuah amanah menjadi seorang pemimpin. Sebelum jauh kita memimpin komunitas, organisasi, bahkan sebagai wakil rakyat di daerah-daerah maupun negara ini, negara Indonesia. Kita harus bisa memimpin diri kita sendiri.

Pemimpin sesungguhnya ialah penyambung harapan dari rakyat karena ia telah menduduki bangku pemerintahan yang sentral untuk kebijakan kemakmuran rakyat. Bukan malah sebaliknya mengambil hak rakyat. Sebagai pemuda tentunya kita masing-masing punya wadah untuk improve skill to leader. Yakni organisasi-organisasi yang ada di internal maupun eksternal kampus. Tinggal bagaimana kita mau memilih warna apa yang cocok dengan kemampuan personal.

Ketika saya pertama sekali masuk di salah satu wadah organisasi kampus, saya awalnya adalah orang yang bisa dikatakan sangat pemalu, tetapi karena saya di tempah untuk menjadi rolle model mahasiswa aktivis dakwah kampus maka keberanian di diri ini muncul, keberanian untuk mencoba keluar dari zona nyaman saya. Memimpin bukan berarti ia harus menjadi ketua di organisasi tetapi cukup dengan menebarkan kebermanfatan bagi sesamanya, seberapa penting diri kalian bermanfaat bagi orang lain maupun agama. Saya adalah mahasiswa yang dekat dengan birokrat fakultas, saya adalah penyambung prestasi mahasiswa Fkip karena saya adalah panitia inti dari setiap event bergengsi dalam bidang akademik di fakultas saya, seperti pemilihan mahasiswa berprsetsi, LKTI, PKM dan sejenis event ilmiah lainnya. Dan di dalam suatu organisasi kita belajar melayani dan mengayomi aspirasi mahasiswa yang kelak di masa depan kita adalah penyambung suara rakyat melaui kebijakan dan harta yang kita miliki. Kesibukkan di sebuah organisasi bukanlah hal yang membuang waktu secara sia-sia karena sesungguhnya kita semua sedang belajar untuk menjadi pemimpin karena diam tanpa gerak itu percuma. Apatis melihat bumi di pimpin oleh pemimpin-pemimpin yang zhalim membuat saya juga ingin menjadi seorang pemimpin, tentunya pemimpin

yang siap untuk kesejahteraan rakyatnya. Meskipun saya belum bisa menjadi sosok pemimpin pada masa sekarang untuk negara ini maka saya pastikan kelak suau saat saya akan menjadi salah satu pemimpin bangsa ini dengan berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki vision, courage, trust, loyal, simplicity, integritas serta niat yang tulus semata-mata mencari ridho Allah dalam memajukan bangsa ini, dan orang-orang ini sudah saya temukan di keluarga penerima manfaat BAKTI NUSA karena We Are Leaders

BAGIKAN

LEAVE A REPLY