Penerapan Nilai-Nilai Islam sebagai Landasan untuk Mewujudkan Kepemimpinan yang Strategis

0
923

Oleh: Rifaldy Fajar
Universitas Negeri Yogyakarta, BA 7 Yogyakarta

Pada dasarnya, pemimpin merupakan sosok atau pemeran utama yang akan sangat menentukan perubahan, apakah itu suatu kemajuan atau bahkan kemunduran bagi suatu organisasi, insitutsi atau apa yang dipimpinnya. Tentu saja, pemimpin sangat diharapkan untuk dapat membawa organisasi atau institusi mencapai kinerja yang melebihi ekspektasi secara berkelanjutan. Pemimpin idealnya memiliki wawasan dan pandangan yang luas kedepan jauh melebihi apa yang dilihat. Karena harus begitu luas wawasan dan pandangannya sehingga diharapkan dapat melebihi apa yang diimpikan anak buahnya. Pemimpin harus punya mimpi (dream), sebab tanpa mimpi ia tidak akan memiliki bayangan masa depan seperti apa organisasi yang dipimpinnya nanti.

Karena itu, dalam menghadapi kondisi lingkungan yang tidak menentu seperti sekarang ini diperlukan sosok pemimpin yang benar-benar menjadi pemimpin, seorang pemimpin yang mampu menggunakan kewenangan yang ada padanya secara bijak, selalu mengedepankan rasio dengan tetap mempertimbangkan rasa. Tegasnya pemimpin yang strategis itu adalah seorang pemimpin yang secara kuat memperjuangkan idealisme yang ingin dicapai.

Bila dilihat secara lebih mendalam, sesungguhnya kepemimpinan strategis itu merupakan implementasi kreatif dari prinsip dan nilai-nilai Islam. Jika kita perhatikan semangat dari seorang pemimpin yang strategis, maka selamanya ia akan senantiasa mengedepankan prinsip-prinsip atau nilai-nilai kerja sama, kerja keras, cerdas dan memiliki kearifan, kreatif, inovatif, efektifisien, transpormatif, komunikatif, dan teladan. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip tersebut berasal dari perspektif Islam memiliki hujjah yang kuat untuk menjadi landasan implementatif dalam berinisiatif dan bekerja secara efektif. Apakah itu untuk perorangan, kelompok apalagi bagi seorang pemimpin. Demikian pula berlaku untuk semua jenis lembaga, apakah organisasi, perusahaan, ataupun lembaga-lembaga kemasyarakatan dan lain-lain. Nilai-nilai atau prinsip-prisip yang dikemukakan di atas bila diamati dengan cermat, maka sesungguhnya secara relatif implementasinya dapat menyebabkan suatu kepemimpinan menjadi efektif, tentunya harus disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi.

Dalam literatur-literatur manajemen banyak dibentangkan prinsip-prinsip pokok yang mendasari perilaku keseharian dari para pemimpin yang dipandang sukses dalam memanage organisasi mereka. Prinsip-prinsip itu antara lain seperti; seorang pemimpin harus cerdas, memiliki visi yang jelas, penuh inisiatif, rela berkorban, bertanggung jawab, percaya diri, tanggap, empati, inovatif, toleran, sederhana, dan seterusnya.

Di dalam Islam, prinsip-prinsip ini sangat dianjurkan untuk dimiliki setiap muslim. Sebab tanpa prinsip-prinsip tersebut, umat islam tidak bisa menjadi wakil tuhan (khalifah) untuk mengelola alam jagad ini secara baik, sekaligus tidak dapat menjadi hamba (a’bid) yang muttaqin. Kedua predikat itu (khalifah dan a’bid) tidak dapat diraih oleh seorang muslim kecuali mereka yang memiliki prinsip-prinsip tersebut. Didalam Islam Nilai/prinsipprinsip itu dapat kita temukan, baik secara tersurat maupun secara tersirat termaktub dalam ayat-ayat Alquran dan hadis. Nilai/prinsip yang termaktub dalam ayat-ayat dan hadis itu antara lain sebagai berikut:

Mengandalkan kemampuan intelektual saja bagi seorang pemimpin/manajer tidak akan cukup untuk membawa lembaga/organisasi mencapai kesuksesan. Hal ini disebabkan suatu kesuksesan yang diperoleh bukan sekedar karena manajer atau pemimpin mampu menata serta mengembangkan aspek-aspek organisasi tertentu secara rasional, seperti membuat prediksi, ramalan-ramalan, dan prakiraan-prakiraan. Namun lebih dari itu, ada aspek-aspek organisasional tertentu yang membutuhkan penanganan dengan sentuhan-sentuhan emosi, seperti memotivasi bawahan, memunculkan rasa memiliki dan rasa bertanggung jawab terhadap organisasi (sens of belonging and sens of responsibility), membuat kebijakan-kebijakan simpatik, baik terhadap anggota organisasi maupun bagi masyarakat lingkungan sebagai stakeholder. Oleh karena itu, kemampuan intelektual, kemampuan emosional, dan kemampuan spiritual secara simultan harus dimiliki seorang pemimpin, karena ketiga bentuk kemampuan/kecerdasan ini saling mendukung dan melengkapi dalam proses keberhasilan dan kesuksesan seseorang membawa organisasi mencapai tujuan.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu melakukan tugas-tugasnya secara efektif dan strategis. Pemimpin yang setiap saat me-review misinya agar selalu relevan dengan semua situasi yang dipimpinnya. Pemimpin yang mampu menyesuaikan kebutuhan organisasi dengan keinginan masyarakatnya (stakeholder). Pemimpin yang handal dalam mendayagunakan seluruh sumber daya dan mengembangkan talenta orang-orang yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara berkelanjutan.

Dalam Islam tertera nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang mendasari pola-pola kepemimpinan strategis. Kepemimpinan yang strategis ekuivalen dengan pemimpin yang dalam melaksanakan tugasnya selalu mengedepankan nilai-nilai atau prinsip-prinsip Islam. Pemimpin/manajer yang mengacu akan nilai-nilai ini, akan memiliki dua keistimewaan. Keistimewaan yang pertama, ia akan disebut sebagai khalifah dan keistimewaan yang kedua ia akan disebut a’bid. Khalifah karena ia mengadopsi prinsip-prinsip kepemimpinan, dan a’bid karena ia mengimplementasikan ajaran-ajaran ketuhanan. Semoga kita semua mampu amanah menjadi pemimpin muslim yang strategis. Aamiin

Komentar via Facebook
BAGIKAN