Perjuangan Etoser di Tanah Pahlawan

0
64

Mendengar kata Surabaya, maka yang terbenak dalam pikiran kita adalah destinasi wisatanaya atau mungkin lamabang Ikan Hiu dan Buaya yang menjadi icon di kota tersebut, tapi kali ini saya datang ke Surabaya bukan untuk menikmati wisata, tetapi tujuan lain yakni mengikuti lomba debat hukum dan konstitusi yang dilaksanakan di Universita surabaya, yang kita kenal dengan istilah Ubaya Law Fair, dalam kegiatan tersebut saya sebagai delegasi Universitas Hasanuddin yang ditunjuk langsung oleh Dekan Fakultas Hukum melalui Lembaga Debat Hukum dan Konstitusi (LEDHAK) Universitas hasanuddin untuk mengikuti lomba tersebut, kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 9-11 November 2018 di Universitas Surabaya.
Kegiatan Ubaya Law Fair 2018 mengangkat tema “Konstelasi Hukum dalam Mewujudkan Indonesia Berlandasakan Pancasila”. Dalam kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai Universitas diseluruh Indonesia. Universitas Hasanuddin sendiri membawa delegasi empat orang yang terdiri dari tiga pemain debat dan satu orang bertindak sebagai official. Kami berangkat pada hari jumat 9 November 2018 pada pukul 06.30 wita. Jauh hari sebelum kami berangkat, banyak hal yang sudah kami siapkan mulai dari perlengkapan lomba sampai pada kegiatan rutinitas yang tak kalah melelahkan yaitu mengkaji mosi debat. Dari sekian banyak pekerjaan yang melelahkan mengkaji mosi itulah yang paling melelahkan, betapa tidak kami setiap hari kaji mosi yang dimulai pada pukul 20.00 sampai pada pukul 03.00 dan itu rutin kami laksanakan, kadang-kadang karna kelelahan kami pun tertidur disana sampai pagi. Mungkin saya sedikit berbeda dari yang lain karna disubuh hari saya harus bangung cepat dan balik ke Asrama etos untuk mengikuti kegiatan rutin pembinaan subuh setelah sholat subuh. Dengan persiapan yang sudah dianggap matang tersebut kami akhirnya berangkat ke kota Pahlawan begitulah sebutan kota Surabaya, konon Peringatan hari pahlawan 10 November yang baru-baru ini kita peringati tidak lepas dari peranan kota tersebut dengan Pahlawan gagah berani bernama Bung Tomo.
Setelah tiba disana saya merasakan betapa bersyukurnya saya bisa bertemu dengan debeter-debeter terbaik negeri ini, melihat berbagai macam warna almamater dan logat bahasa yang masing-masing memiliki keunikan, menunjukkan betapa beragamnya bangsa ini. Terlepas dari itu semua yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana membawa pulang gelar juara. Karna semenjak saya lulus SMA nyaris tak pernah mengikuti lomba debat lagi. Dan ini adalah yang pertama sejak saya kuliah di Universitas Hasanuddin. Apalagi saya dipertemukan oleh sebuah lembaga yang menurut saya adalah cocok untuk menambah wawasan dan kemampuan saya yaitu Lembaga Debat Hukum dan Konstitusi Universitas Hasanuddin. Walapun ini adalah UKM Universitas tapi nyatanya pengurus dan semua anggotanya dari Fakultas Hukum.
Keesokan harinya, tepatnya pada hari sabtu lomba debat dimulai seluruh peserta mulai berdebat dengan argumentasi terbaiknya, tujuannya untuk meyakinkan dewan juri. Saat main pertama kami menang denagn skor 2-1 dan pada permainan kedua kami juga menang dengan skor telat 3-0 tetapi saat penentuan semi final kami harus takluk dengan skor 2-1. Kami sedikit kecewa apalagi dengan selisi dua poin sungguh sangat menyakitkan. tapi kami terus mendapatkan arahan dan nasehat dari orang-orang disekitar kami. Akhirnya kami bisa melupakan kekalahan tersebut. Kami berharap akan mendapatkan kesempatan emas itu lagi dan meraih hasil yang terbaik.

Komentar via Facebook
BAGIKAN