Ramadan Rasa Las Vegas? Cuma di Medan

0
397

Ramadan Rasa Las Vegas? Cuma di Medan

Oleh : Febri Reviani

 

 

Jika menyebutkan Medan maka yang diingat adalah legenda Danau Toba yang mendunia. Terkenal dengan  keberagaman sukun dan khas dengan tarian Tor-tornya. Tak pernah kubayangkan akan menginjakkan kaki ke daerah Batak ini lagi. Jika sebelumnya kehadiranku untuk membahas bagaimana menjaga lingkungan di Indonesia dalam kegiatan Temu wicara Kenal Medan (TWKM) Mahasiswa Pencinta Alam se-Indonesia.

Kala itu dengan membawa misi yang lebih besar yaitu menyediakan lingkungan yang berkarakter untuk para generasi bangsa melalui program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Makamal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Semenjak kuliah memang aku memilih untuk merantau, jika dihitung, sudah sembilan tahun menikmati Ramadan jauh dari kampung halaman. Sedih? Pastinya, merindukan masakan Ibu tercinta dan menu-menu tradisional.

Tak terasa, waktu bergulir lebih cepat dari bayanganku, di tahun kesembilan Aku merantau untuk pertama kalinya menikmati Ramadan di wilayah yang 50% non muslim. Jika dua tahun sebelumnya Aku di tempatkan di wilayah yang mayoritas muslim dan terkenal dengn serib masjid, namun berbeda untuk tahun ini dan itu membuat aku lebih excited menanti Ramadan.

Jika sebelumnya Aku berpikir “Ah..Medan kan orangnya penuh toleransi jadi Ramadan kali ini pasti hampir sama dengan Ramadan sebelumnya”. Apa yang Aku pikirkan ternyata lebih ekstrim dari kenyataannya.

Hari puasa pertama aku dikejutkan dengan terpampangnya kepala B2 (pig) yang masih lengkap hidung, mata telinga hingga leher dan daging-dagingnya yang bergelantungan sepanjang jalan Kota Siantar. Bau asap warung yang menjual BPK (B2 panggang kecap)

Kulihat jam, ternyata baru menunjukkan pukul 10 pagi tapi perut sudah mual-mual. “Astaghfirullah” batinku. Jika ada yang menanyakan “bagaimana perasaanmu ketika melihat langsung?”  Jawabanku pastinya pengin muntah. Ternyata benar ketika kita mendengar cerita belum tentu kita merasakan takut, tapi jika kita benar-benar mengalaminya langsung maka itu akan lebih membuatmu merinding.

Kemudian disaat balik ke Kota Medan, begitu banyak warung makan yang buka tanpa ditutup tirai seperti pada daerah lainnya. Di depan kos-kosan setiap pagi ada pedagang lontong yang menjual adalah seorang muslim dan pembelinya orang-orang non muslim.

“Kok, pagi sampai siang hari seperti bukan bulan Ramadan saja ya?” Ungkapku dalam hati.

Ketika berkeliling kota untuk memesan plang sekolah pendampingan, di mall dan di warung-warung begitu kerap kali aku menemukan wanita yang berkerudung sedang asyik menikmati makanannya. Jika di daerah lain para perempuan segan untuk memakan di depan umum. Karena mereka begitu menghormati bulan Ramadan dan orang yang sedang berpuasa, di sini pengecualian.

Jika di Las Vegas semuanya bebas untuk dilihat dan melakukan hal yang mereka inginkan. Begitu pulalah di wilayah penempatanku di mana semuanya bebas dan mengedepankan Hak Asasi Manusia dari pada toleransi beragama. Tentu saja mayoritas dan minoritas maupun sama jumlahnya memengaruhi semua itu.

Begitu indahnya perbedaan yang Engkau ciptakan, namun lebih indah jika semua menjalankan perintah-MU ya Rabb. Tiga hari menjalankan ibadah puasa di sini begitu banyak kekuasaan ditunjukkan oleh Sang Pencipta, dan butuh iman kuat untuk belajar memahami serta istighfar yang banyak untuk memperkokoh diri.

Komentar via Facebook
BAGIKAN