Reshuffle Kabinet Kerja Jokowi-JK Jilid II: Bu Sri dan Prospek Perbaikan Ekonomis Bangsa

0
193

Belum lama ini, kabinet kerja kembali direshuffle oleh Presiden Joko Widodo.

Ini merupakan kali kedua Indonesia mengalami pergantian posisi pada jajaran menteri dalam waktu 2 tahun jalannya kabinet kerja.

Tercatat empat menteri berganti posisi, yakni Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menko Kemaritiman, Bambang Brodjonegoro sebagai Kepala Bappenas, Thomas Trikasih Lembong menjadi Kepala BKPM, dan Sofyan Djalil menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang. Reshuffle kali ini cukup signifikan dengan kemunculan sembilan wajah baru, yakni Wiranto sebagai Menko Polhukam, Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, Asman Abnur sebagai Menpan dan Rebiro, Muhadjir Effendy sebagai Menteri Pendidikan, Chandra Tahar sebagai Menteri ESDM, Eko Putro Sandjoyo sebagai Menteri Desa, Pembangunan Darah Tertinggal, dan Transmigrasi, Budi Karya Sumadi sebagai Menteri Perhubungan, Airlangga Hartarto sebagai Menteri Perindustrian, dan Enggartiasto Lukita sebagai Menteri Perdagangan.

Tidak hanya kehadiran beberapa wajah baru yang menghias jajaran kabinet kerja menjadi tunas akan harapan tinggi di hati masyarakat terkait perbaikan kinerja pemerintahan, tetapi juga oleh kembalinya primadona dunia ekonomi Indonesia, yakni Sri Mulyani untuk berkiprah mengabdi di tanah air.

Masuknya Sri Mulyani ke dalam jajaran menteri kabinet kerja saat ini benar membawa angin segar di tengah carukmaruknya permasalahan ekonomi negara. Harga barang kebutuhan pokok yang terus naik, masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia, kurs rupiah yang terus melemah merupakan PR yang sudah menunggu untuk diselesaikan.

Masyarakat percaya Sri Mulyani dapat menjadi solusi akan kondisi ekonomi hari ini. Rekam jejak pencapaian dan pengalam Sri Mulyani di dunia ekonomi sudah tidak diragukan lagi. Ia rela meninggalkan karirnya sebagai direktur eksekutif bank dunia demi kembali ke tanah air. Melesat lagi kredibilitasnya oleh ketepatan dan keberaniannya dalam mengambil keputusan menjadi jaminan akan adanya perbaikan di sektor keuangan negara.

Baru genap satu bulan ia menjabat sebagai menteri ekonomi, ia maju dengan mengemukakan dua statement terkait target yang harus dicapai perekonomian negara di awal. Pertama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekonomi Indonesia harus tumbuh sekitar 5,3-5,4 persen pada semester kedua 2016 untuk memenuhi target pertumbuhan 5,2 persen yang tercantum pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016. Dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI ia mengatakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,04 persen pada semester I 2016 membuat realisasi pada semester II harus lebih tinggi. Ia berupaya untuk terus menjaga pertumbuhan ekonomi dengan berbagai cara ditengah pertumbuhan ekonomi global yang sedang lesu. Kedua, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terus meningkatkan penerimaan negara dari pajak dengan memacu jajarannya di Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan kinerja dimana ia memonitor langsung penerimaan pajak negara setiap harinya. Ia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia saat ini tidak dalam keadaan gawat, namun dalam kondisi yang positif.

Berkarakter. Keputusannya untuk kembali ke pangkuan pertiwi bukanlah perkara sederhana. Ia mengesampingkan kesempatan yang ia dapat atas prestasi dan kecerdasannya demi mengabdikan diri untuk tanahnya. Indonesia membutuhkan lebih banyak Sri Mulyani untuk dapat bangun sebagai raksasa ekonomi dunia.

 

Referensi

http://www.mediaindonesia.com/news/read/58685/catatan-kritis-reshuffle-kabinet-jilid-ii/2016-07-29#

http://www.antaranews.com/berita/575359/sri-mulyani-beri-harapan-percepatan-ekonomi

http://www.antaranews.com/berita/581717/menkeu-nyatakan-ekonomi-harus-tumbuh-53-54-persen-penuhi-apbnp-2016?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news

http://www.antaranews.com/berita/581716/menkeu-memacu-ditjen-pajak-tingkatkan-penerimaan?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN