Sebuah Pelajaran Berharga dari Australia

0
408

Oleh: Madinatul Khujjah, Etoser Malang 2015

Perkenalkan nama saya Madinatul Khujjah. Saya Penerima Manfaat Beastudi Etos Malang tahun 2014. Saat ini saya sedang menempuh perkuliahan tahun keempat Jurusan Biologi, FMIPA, UB dengan fokus penelitian Bryophyta.

Alhamdulillah di semester terakhir ini saya masih diberi kesempatan untuk melihat luasnya dunia. Di tengah-tengah kehebohan tugas akhir yang menjadi momok mahasiswa, saya masih diberi kesempatan untuk mencicipi perbedaan gaya pendidikan di Negeri Kangguru melalui “Program Student Outbond 2017” yang diadakan oleh International Office Universitas Brawijaya, Malang.

International Office Universitas Brawijaya (IOUB) adalah kantor yang menangani segala hal berkaitan dengan mitra di luar Indonesia. IOUB pada 2017 ini memiliki salah satu program kerja bernama Student outbond (SO) 2017. Student outbond 2017 merupakan program yang bertujuan meningkatkan kompetensi dan wawasan internasional kepada mahasiswa melalui proses dan evaluasi pembelajaran bertaraf internasional. Program ini ditawarkan pada seluruh fakultas di Universitas Brawijaya (UB) dengan negara tujuan yang berbeda tiap fakultasnya.

SO 2017 yang ditujukan untuk mahasiswa FMIPA bertempat di Flinders University, Adelaide, South Australia. Persiapan seleksi peserta SO di FMIPA dilakukan pada Agustus dan berlangsung sangat cepat. Surat pemberitahuan dari IO diterima oleh pihak FMIPA ketika hari terakhir pengiriman nominasi mahasiswa peserta, sehingga peserta SO dari FMIPA adalah mahasiswa yang pertama kali mendaftar dengan persyaratan yang memenuhi. Adapun persyaratan dari program ini diantaranya adalah mahasiswa aktif S1/S2, IPK > 3.00, TOEFL > 500 atau IELTS > 6, surat delegasi dari dekan, proposal penelitian, passport, surat sebagai penerima beasiswa dan surat izin dari orangtua.

SO dilakukan selama 2 minggu. Peserta SO Australia kali ini terdiri dari 4 mahasiswa yakni 2 mahasiswa FMIPA dan 2 FPIK. Selama di Australia kami tinggal di homestay yang berbeda-beda, sehingga kita tidak selalu bisa pergi dengan teman-teman sesama Indonesia. Hal ini dilakukan untuk melatih kemandirian kita. Perbedaan jarak antara masing-masing homestay dan kampus juga sekaligus untuk meningkatkan kemampuan kita dalam manajemen waktu.

Kegiatan utama kita selama di Australia adalah belajar English for Academic di Intensive English Language Institute (IELI), Flinders University. IELI adalah pusat bahasa di Flinders University. IELI memiliki ratusan mahasiswa asing dari berbagai negara dengan bahasa ibu non English. Berada di lingkungan seperti ini tentu akan sangat membantu kami dalam meningkatkan kemapuan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Bagaimana tidak? Kami tidak mempunyai pilihan bahasa lain jika kami ingin berkomunikasi dengan teman-teman lain selain teman dari UB.

Intensive!! Dapat diartikan sebagai singkat, sangat serius dan penuh kekuatan serta penekanan. Selama dua minggu itu, kami mendapatkan jadwal perkuliahan yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Jadwal perkuliahan kami lebih menyerupai jadwal sekolah. Perkuliahan dimulai pukul 09:00 – 16:00 waktu setempat, dengan jeda istirahat makan siang pukul 13:00 – 14:00. Namun, pelajaran yang kami peroleh di IELI ini sedikit berbeda dengan teman-teman dari negara lainnya. Jika umumnya perkuliahan terdiri dari kelas reading and writing, listening dan speaking, maka kami hanya memperoleh kelas reading and writing, speaking dan professional project.

Professional project (PP) yang kami lakukan adalah belajar mengenai cara menulis jurnal berstandard internasional sekaligus belajar presentasi di konferensi internasional. Selama kelas ini, kami diajarkan secara tuntas cara penulisan jurnal mulai dari abstrak hingga kesimpulan. Segala aspek penulisan mulai dari urutan pembahasan, penggunaan tenses, preposisi dan pemilihan bahasa baku diperhatikan dengan detail oleh guru kami yang bernama Bonnie Cothern.

Beliau juga dengan sabar mengajarkan cara presentasi yang baik. Pada mata kuliah presentasi ini saya baru benar-benar menyadari bahwa terdapat sedikit perbedaan pemahaman antara kami mahasiswa Indonesia dengan guru warga negara asing. Kami menganggap bahwa semakin lancar presentasi kami, maka semakin besar pemahaman kami terhadap materi yang kami sampaikan. Namun, Bonnie mengatakan bahwa dalam presentasi internasional, kami harus melafalkan setiap satuan kata dengan jelas, dengan ritme yang tidak terlalu cepat serta jeda yang cukup. Hal ini dikarenakan ketika konferensi internasional, tidak semua peserta menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa ibu mereka. Selain itu, konferensi internasional umumnya memberikan waktu presentasi yang cukup singkat, sedangkan hasil penelitian yang ingin kami sampaikan tentu tidak sedikit. Oleh karenanya, kami harus benar-benar selektif dalam memilih poin-poin yang ingin disampaikan beserta cara penyampaian yang jelas sehingga dapat dipahami oleh seluruh hadirin. Meski awalnya program PP ini membuat saya merasa seperti seminar proposal yang kedua kalinya, namun saya sangat bersyukur karena tugas akhir saya dan calon jurnal saya dikoreksi langsung oleh salah satu ahlinya.

Selain perkuliahan yang full day, kami juga memiliki agenda lain diantaranya sharing bersama PPI, city tour, kunjungan lab dan mengunjungi kampus-kampus lainnya. Beberapa informasi yang dapat saya rangkum selama kegiatan diluar perkuliahan ini diantaranya adalah bahwa sangat banyak mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Australia selatan dengan berbagai beasiswa seperti Australia Awards, LPDP, dan beasiswa dari masing-masing kampus di Australia. Beberapa tempat yang kami kunjungi selama city tour adalah handorf, Glenelg beach, Adelaide botanical garden, central market, china town, museum, central library of south Australia, art gallery, port Adelaide dll. Flinders University memiliki laboratorium yang sangat banyak dengan alat-alat yang cukup jauh lebih modern. Laboratorium untuk masing-masing jurusan dan strata, berada di lantai yang berbeda-beda. Jadi misalnya, 1 lantai dengan puluhan ruangan adalah lab khusus untuk S1 Biologi. Selain itu, hampir semua peralatan lab telah tersambung dengan personal computer, sehingga semua data yang diperoleh dapat langsung diolah dan dicetak. Kami juga mendapat kesempatan untuk mengunjungi kampus lain seperti Adelaide University dan University of South Australia. Perbedaan secara garis besar antara kampus di Australia dan di Indonesia adalah disediakan dapur dengan berbagai isinya seperti kulkas, microwave, filter air dan air panas, perpustakaan dengan akses terbuka untuk seluruh orang, wifi terbuka untuk seluruh mahasiswa dari berbagai kampus di Australia Selatan, sangat banyak gazebo indoor dan outdoor, serta ratusan buku gratis yang boleh dimiliki oleh siapapun.

Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dalam waktu yang singkat ini. Tidak hanya mengenai kegiatan akademik, namun juga gaya hidup dan budaya orang Australia. Keteraturan yang dapat ditemui di setiap sudut jalan sempat membuat saya terpesona. Selama 2 minggu itu, saya diajarkan bahwa harus mengutamakan orang tua, orang hamil dll ketika akan duduk di kursi bis sekolah. Padatnya aktivitas dan kondisi Adelaide dengan seribu musim mengharuskan saya untuk ekstra dalam menjaga kesehatan dengan mensinkronkan waktu tidur dan waktu sholat serta memperhatikan pola makan yang jauh dari kebiasaan makan nasi. Saya juga diharuskan untuk belajar cara menggunakan berbagai alat transportasi, tatakrama menyebrang jalan raya, juga secara tidak langsung turut memperhatikan cara mendidik anak yang diterapkan oleh tuan rumah saya pada anak-anaknya.

Meski sangat singkat, namun banyak kesan, benyak ilmu baru yang dapat saya peroleh dari kegiatan ini. Pergilah sejauh mungkin kawan, karena semakin jauh kamu pergi maka akan semakin banyak hal baru yang kamu temui. Berjalan-jalanlah temanku, setidaknya kamu telah melihat luasnya dunia dan mempunyai bekal cerita untuk anak cucumu kelak. Jika seandainya nanti kamu tidak bisa membersamai anakmu untuk keliling dunia, setidaknya kamu telah meyakinkannya bahwa diluar sana banyak pengetahuan baru yang perlu dicicipi.
Terima kasih banyak untuk Dompet Dhuafa dan Beastudi Etos, yang selalu memberikan support dalam berbagai bentuk di setiap perjalanan saya. Terima kasih karena telah mempertemukan saya dengan banyak orang hebat, sehingga saya berani bermimpi lebih tinggi dan melangkah lebih jauh. Jadilah hebat di bidang masing-masing, sahabatku.

Komentar via Facebook
BAGIKAN