Secuil Semangat di Playen

0
210

“Mungkin semua proses dapat membuahkan progres yang menawan. Hal itu dapat dirasakan jika kita berteman dengan perjalanan”.

Perjalanan indah itu dimulai dari Girisubo, berlanjut di Tepus, Semanu dan diakhiri di Playen, tepatnya di SMA PGRI Playen. Sekolah ini kecil, namun ekspektasi saya besar, karena di tempat inilah kelak akan lahir para calon pahlawan tanpa tanda jasa. Adalah indah bisa bertemu dengan para calon yang akan berjasa bagi Indonesia di masa depan, utamanya dalam dunia pendidikan, Insya Allah.

Proses sosialisasi kami mulai bersama para Etoser Jogja. Kami mulai memperkenalkan indahnya bangku pasca SMA. Kami utarakan dengan berbagai hal lain yang tak kalah penting. Di sinilah saya menjadi relawan untuk pertama kalinya. Saya merasa bangga menjadi relawan #KuliahTakGentar.

Antusias dari siswa dan siswi yang sangat luar biasa semakin menguatkan ekspektasi saya bahwa mereka memang sudah mempersiapkan diri untuk menikmati bangku kuliah selepas lulus dari sekolah ini.

Nyatanya tak jauh berbeda dengan daerah lain di Gunung Kidul, faktor ekonomi dan orangtua masih menjadi “tanda tanya” besar yang merata di daerah ini. Akan tetapi, pandangan saya Insya Allah semua bisa diatasi dengan hadirnya kami di sini. Hingga ada seorang siswi yang begitu menginspirasi kami karena pertanyaannya yang menohok: “Kak saya pengin kuliah, namun saya masih minder. Saya bukan orang kaya dan orangtua saya belum mengizinkan saya kuliah,” ucapnya pada kami. Saya coba mendekat dan mencoba memahami siswi tersebut, saya juga mencoba menjawab pertanyaannya sesuai dengan persoalan yang dulu pernah saya alami.

Sayangnya, saya tidak mengindahkan ada kata “minder” di sana.

Betapa terharunya ketika saya sadar bahwa “minder”nya siswi tersebut adalah karena keadaan fisik yang kurang sempurna (jari tangan tidak lengkap dan jari tidak sempurna). Seketika mulut terbungkam, mata tak lagi bersahabat, perasaan tak lagi dapat dikondisikan dan badan terpaku sangat erat di depannya.

Subhanallah. Hati terketuk sangat dalam, sangat indah cita-citanya, tinggi menjulang. Walaupun keadaannya demikian, ia masih memiliki ambisi bermimpi lebih dari temannya. Keadaannya memang yang jauh lebih pelik dibandingkan persoalan yang dihadapi siswa lain, namun semangatnya, jauh lebih besar dari yang lain.

Pengalaman sangat berharga ini, saya temukan di sini. Di mana hati tergugah luar biasa dari biasanya dan akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Terima kasih telah mengajarkan berbagai hal indah beberapa hari ini, terimakasih ERTS 2018 telah menerima saya bergabung dengan kegiatan ini.

Salam,

Ali Syaifrudin, Mahasiswa APMD, Relawan ERTS Gunungkidul 2018

________________

Ali adalah lulusan SMK 1 Girisubo dengan Akutansi sebagai keahliannya. Tahun lalu, Ali juga duduk dan mendengarkan penjelasan serta motivasi dari salah satu Etoser Jogja 2014 saat ERTS 2017.

“Mbak Ulil namanya mas, saya masih ingat betul Mbak Ulil memberi saya motivasi untuk lanjut kuliah dengan semangatnya yang menggebu- gebu dan semangat itulah yang menular ke saya,” kata Ali.

Adanya Ali di rangkaian ERTS 2018 ini menjadi bukti, bahwa apa yg kita perbuat tak cuma selesai sampai agenda ini berhenti, bahkan… efeknya bisa sampai berpuluh-puluh tahun nanti, untuk kemajuan generasi muda bangsa ini.

Ali, dulu dia termotivasi, sekarang dia menginspirasi

Kita tidak tahu, mana adik kita yang ke depannya akan seperti Ali. Harapan saya, akan muncul banyak sosok seperti Ali di tahun- tahun berikutnya, agar rantai kebermanfaatan ini tidak terhenti, justru akan terus menyambung hingga generasi- generasi setelahnya.

ERTS 2018? Kuliah Tak Gentar!

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN