Semangat Adam Malik dalam 50 Tahun ASEAN

0
484

Sudah 50 tahun ASEAN kokoh berdiri dalam komitmen hubungan kawasan ekonomi, politik, keamanan dan budaya. Ditengah permasalahan tingginya rentang GDP antar negara anggota dan posisi negara anggota dalam penyelesaian masalah hak asasi manusia sesama anggotanya, ASEAN tetap menjadi tumpuan pasar peningkatan laju ekonomi setiap anggotanya. Dengan ditandatanganinya Deklarasi Bangkok tersebut, suatu organisasi kawasan telah berdiri untuk menggalang kerjasama antarnegara naggota dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi, mendorong perdamaian dan stabilitas wilayah serta membentuk kerja sama dalam bidang kepentingan bersama. Apa sebenarnya yang dipikirkan Adam Malik saat menandatangi Deklarasi Bangkok sebagai awal pendirian ASEAN ?

Dino Patti Djalal sebagai diolomat senior pernah menulis salah satu tantangan yang dihadapi ASEAN adalah bagaimana merakyatkan ASEAN di bumi Indonesia. Kelas menengah ASEAN yang yang jumlahnya mencapai 150 juta pada tahun 2015 diproyeksikan akan tumbuh menjadi 400 juta pada tahun 2020. Pertumbuhan ini harus bisa menarik gerbong usaha menengah kecil dan mikro. Kebanyakan masyarakat kita memang belum paham betul apa saja keuntungan yang bisa didapatkan setalah penerapan MEA. Jika seperti itu maka wajar jika Mentri Luar Negeri, Retno LP Marsudi menulis dalam harian Kompas mengenai 50 Tahun ASEAN, bahwa organisasi kawasan regional ini hanya akan terfokus pada meeting centred.

Sampai sekarang ASEAN hanya diperhitungkan sebagai organisasi kawasan yang mempunyai potensi populasi pasar yang besar. Tentu itu semua karena ada Indonesia dan Filiphina sebagai penyumbang jumlah penduduk terbesar. Penulis merasa, Adam Malik dan para pendiri ASEAN berpikir tidak hanya sampai disitu. Permasalahan HAM dalam regional dan persamaan budaya yang selalu bersinggungan juga masuk didalamnya. Satu identitas adalah tagline yang selalu dilontarkan dalam setiap pertemuan ASEAN namun egosentris kepentingan antar negara selalu mewarnai kebijakan luar negeri setiap negara. Saat terdapat WNI yang ditawan oleh perompak di kawsan laut Filiphina, hal itu memjadi permasalahan satu negara yang harus diselesaikannya sendiri. Indonesia hanya bisa berkordinasi dengan pemerintah Filiphina mengenai tindak lanjut apa yang akan mereka lakukan. Jika memang kita satu identitas, seharusnya dilakukan kolaborasi penerjunan tim dan penyusunan rencana menangkap perompak yang sering berlayar dalam kawasan laut ASEAN ini.

Pemimpin ASEAN sebagai kuasa strategis harus mempunyai komitmen bersama yang jelas untuk kedepannya. Kita bisa melihat ketika Filiphina memprotes warga negaranya yang dihukum mati karena tertangkap mengedarkan narkoba di wilayah Indonesia. Jika memang pemberantasan narkoba menjadi komitmen bersama seharusnya tak ada alasan untuk melindungi walaupun itu adalah warga negara suatu negara. Begitu pun dengan Indonesia, tentu hal ini akan membuat regulasi menjadi tajam dalam ranah kawasan. Masyarakat Ekonomi ASEAN yang menjadi produk utama pun masih meninggalkan ketertinggalan beberapa negara seperti Laos dan Kamboja yang kalah jauh dari Singapura dalam hal GDP. Sulit untuk membumi Indonesiakan ASEAN jika pemimpin negara strategis dalam kawasan ASEAN hanya merasa satu identitas ketika berkumpul dalam ASEAN meeting.Walaupun Indonesia berada pada posisi 4 negara ekportir ke negara ASEAN dengan ekonomi terbesar dalam kawasan, ada banyak sektor yang sudah bergerak karena dampak MEA yang tanpa batas. Geliat UMKM anak muda sudah menyusup dalam jaringan international untuk ikut merasakan segarnya cipratan MEA. Pemerintah Daerah harus cepat merespon geliat ini, rangkul usaha mereka dan berikan jalan tercepat untuk mencapai itu.

Informasi dari Kota Bandung, Malaysia sepakat menyiapkan dana Rp 70 M untuk membeli produk-produk UMKM terbaik Bandung dan menyiapkan 200 lebih toko “Little Bandung” di seluruh Malaysia. Toko pertama ” Little Bandung” telah dibuka di pusat perbelanjaan Kuala Lumpur bulan Juni 2016. Walikota Bandung mengajak anak muda bersiap dan bersemangat menghadapi persaingan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pemerintah Kota Bandung terus memacu pembangunan creative center di kota tersebut sebagai upaya mewadahi industri kreatif. Di samping itu, creative center ini diklaim pertama di Indonesia dan kedua di ASEAN. Kebijakan strategis seperti ini yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan ASEAN yang begitu cepat berubah. Semangat inilah ruh dari Adam Malik, untuk berkompetisi secara ekonomi dan bekerjasama dalam ketertinggalannya. Menjadikan Indonesia tidak untuk ditakuti tapi untuk dihormati, tidak untuk membawa Indonesia ke ranah ASEAN tapi membawa ASEAN masuk ke Indonesia.

Komentar via Facebook
BAGIKAN