Seni Memimpin, Sebuah Seni Memengaruhi yang Kudu Kamu Ketahui

0
163

Seni Memimpin, Sebuah Seni Memengaruhi yang Kudu Kamu Ketahui

 

Seringkali kita dengar bahwa kepemimpinan merupakan “seni memengaruhi orang lain”. Kepemimpinan mudah diidentifikasikan tetapi sulit untuk didefinisikan secara persis. Beberapa ahli kepemimpinan secara prinsip setuju bahwa kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses mempengaruhi yang terjadi antara atasan dan bawahannya. Kepemimpinan telah dipelajari secara luas dalam berbagai konteks dan dasar teoritis. Dalam beberapa hal, kepemimpinan digambarkan sebagai sebuah proses, tetapi sebagian besar teori dan riset mengenai kepemimpinan fokus pada seorang figur untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Seorang pemimpin diharapkan memiliki kemampuan untuk memimpin mengarahkan “pasukan” supaya maju dalam meraih dan mewujudkan tujuan-tujuan yang diharapkan dan yang ingin dicapai bersama. Seorang pemimpin juga merupakan bagian dari anggota karyawan yang tidak bisa dipisahkan. Apa yang menjadi tanggung jawab pemimpin harus dijalankan dengan sebaik-baiknya sehingga seorang pemimpin mampu menjadikan dirinya sebagai suri tauladan dan panutan bagi orang-orang yang dipimpinnya dalam rangka meraih tujuan bersama. Kepemimpinan muncul dari aspirasi anggota organisasi (buttom up). Pemimpin dibekali dengan kekuasaan untuk mempengaruhi, mengatur atau mengarahkan anggota organisasi untuk tunduk terhadap kepemimpinan mereka, dengan kekuasaan yang dimiliki ia berusaha mempengaruhi perilaku orang lain dengan sebuah metode yang memungkinkan mereka loyal dan taat kepadanya. Selain itu, para bawahan juga berkenan untuk mematuhi segala perintahnya dengan segenap perasaan jiwa.

Para pemimpin harus berbaur dengan bawahannya terlebih jika pemimpin belum mengenal betul sifat dan karakter dari bawahannya. Pada saat apapun jika seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain, dari keterangan diatas telah diterangkan bahwa kegiatan semacam itu telah melibatkan seseorang kedalam aktivitas kepemimpinan. Jika kepemimpinan tersebut terjadi dalam sebuah organisasi tertentu, dan orang tadi perlu mengembangkan sifat dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka orang tersebut perlu memikirkan tentang stategi kepemimpinan apa yang akan dipakainya saat memimpin.

Kualitas kepemimpinan seseorang tercermin melalui visinya. Pemimpin bervisi disebut juga pemimpin yang “berpandangan ke depan”. Penulis “On Becorming A Leader” (2009), warren bennis, menyebutnya sebagai “visioner”. Tidak diragukan lagi, kepemimpinan nabi pun melekat dengan karakter sebagai “visioner” (visionary leadership).

Visioner adalah seorang/pemimpin yang memiliki pandangan jauh ke depan. Untuk mendekati dan mendapatkan apa yang kita “lihat” di depan, tidak ada cara lain kecuali maju melangkah, lalu meraihnya. Kemungkinan adanya beragam resiko diperjalanan adalah tantangannya.

Kepemimpinan strategis adalah kemampuan untuk mengantisipasi melihat kedepan, mempertahankan fleksibilitas dan memperdayakan orang lain untuk menciptakan perubahan strategi yang diperlukan. Pada hakikatnya kepemimpinan strategis itu multifungsional, melibatkan pengelolaan melalui orang-orang, mengelola seluruh organisasi/instansi dan meniru perubahan yang kelihatannya akan meningkatkan lingkungan persaingan saat ini. Karena kompleksitas dan hakikat global dari lingkungan ini, para pemimpin strategis harus belajar bagaimana caranya mempengaruhi perilaku manusia dengan efektif dalam lingkungan yang tidak pasti. Melalui kata-kata atau contoh pribadi, dan melalui kemampuannya untuk melihat masa depan, para pemimpin strategis yang efektif mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan orang-orang yang bekerja dengannya secara bermakna.

Hakikat kepemimpinan merupakan proses kegiatan untuk mempengaruhi orang lain melakukan aktifitas, maka terdapat banyak variasi pendapat tentang kegiatan fungsional yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi pengikutnya. Kepemimpinan strategis  dimana kebijakannya dapat memberikan dampak bagi orang banyak. Bukan berdasarkan struktural, namun lebih mengarah ke fungsional. Unsur terpenting kepemimpinan strategis ialah kemampuan mengembangkan modal manusia.

Demikian halnya dengan di Indonesia yang telah beberapa kali mengalami pergantian rezim. Kecenderungan serta kebijakan setiap rezim penguasa pasti berbeda. Dalam suatu teori dikatakan bahwa kekuasaan cenderung untuk korup, memang demikian adanya yang kita saksikan selama hampir 72 tahun. Hal itulah yang membawa negeri kita menjadi nomor wahid dalam urusan korupsi di samping negara-negara korup lainnya. Kita senantiasa berharap perilaku demikian tidak terjadi lagi dan terus menghantui negara yang kita cintai ini.

Indonesia dengan segenap potensinya, apabila dikelola oleh pemimpin strategik yang berhati nurani dan moral yang jujur bukan tidak mungkin akan menjadi negeri yang sejahtera dimana rakyatnya tidak dipusingkan lagi oleh melambungnya harga berbagai bahan pokok.

Coba kita tengok kebelakang, sistem politik di indonesia pada masa orba begitu statis hampir tiada riak yang menghiasinya, tak pelak lagi ketika rezim orba runtuh gonjang-ganjing berbagai isu perubahan mulai ramai seperti jamur di musim hujan. Berbagai harapan kehidupan politik yang lebih baik hingga kini masih terus diupayakan oleh beberapa pihak. Semoga diumur yang ke-72 ini Indonesia lebih raya.

Komentar via Facebook
BAGIKAN