Senyum Ramadan Berembun Mata

0
45

Senyum Ramadan Berembun Mata

Oleh:  Durratul Baidha

Etoser 2017 Universitas Syiah Kuala

Jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia

Namaku Durratul Baidha, aku merupakan penerima manfaat Beastudi Etos 2017 wilayah Aceh. Menjadi mahasiswa merupakan amanah dari orangtua agar kelak bisa menghadirkan keduanya di kursi paling depan saat acara wisuda. Tidak lepas dari itu amanah telah menerima manfaat dari Dompet Dhuafa juga harus dituntaskan beriringan dengan ijazah akademik dan keunggulan lainnya. Bagiku amanah adalah kepercayaan yang super, dengan amanah kita mampu menjadi sosok berlian di tengah malam dengan syarat kita benar-benar berusaha bekerja keras memeluk dan menjalankan amanah tsb.

Berbicara perihal Amanah, kali ini aku akan menceritakan kisah Ramadanku dengan ribuan amanah dibebankan di atas pundakku. Aku adalah mahasiswa yang akan menuntaskan perkuliahan semester dua dengan baik. Jadwal final yang semakin mewarrnai jadwal,sehingga ketika ada aktivitas di luar itu disampingkan sementara. Ada beberapa pesan WhatsAp masuk memberi tugas untuk jadi Instruktur Leadership Training IPPEMINDRA yang akan dilaksanakan pada 19-24 Mei lalu, menjadi pembina sekaligus pengedit teks Syarhil Quran Aceh Besar, panitia buka puasa bersama pendidikan bahasa dan sastra Indonesia pada 24 Mei,salah satu anggota pembentukan antologi orang tua writer fighter regional Aceh, sekretaris sekaligus publikasi acara Desa Produktif Aceh pada 21-30 Mei, permintaan kue lebaran dari konsumen tetap, TIM penerbit buku situs sejarah Aceh besar Fame Chapter Aceh Besar,TIM Majalah Lentera BEM Unsyiah edisi 2,dan bekerja sebagai tukang ojek KOALA (Komunitas Ojek Akhwat Syiah Kuala).

Semua kesibukkan itu dapat diatasi dengan mengedepankan ibadah kepada sang pencipta. Komunikasi dengan Allah yang mengantarkan semua kesibukan bisa diatur dengan baik. Sebagai seorang anak bungsu saya mulai merasakan kerinduan berbuka puasa di rumah, karena biasanya aku tidak pernah keluar dari zona nyaman sekeras tantangan ini. Meskipun lokasi kampung dengan kuliah sangat dekat yang bisa ditempuh hanya dalam waktu 45 menit tapi  tetap tidak bisa pulang sebab aktivitas yang padat. Meugang sebelum Ramadan aku sudah berniat menyisihkan uang untuk membeli daging untuk ibu. Tapi karena sibuknya kuliah sehingga uang yang terkumpul dari hasil ojekku hanya Rp 20.000. Kesedihan itu mulai menghantui jejak, belum bisa membawa setumpuk daging itu merupakan hal yang sangat pedih bagi hidupku saat ini. Karena aku telah mengikrarkan diri untuk bekerja sebagai tukang ojek wanita meskipun ibu akhirnya menangis setelah tahu semua itu. Ibu adalah sosok yang sangat melarang anak bungsunya bekerja karena ia menginginkan nilai akademik anaknya bagus. Ibu hanya mengizinkanku menjual kue hasil buatanku sendiri tapi tidak dengan kerja pada orang lain, ibu takut anaknya lalai dengan uang. Baginya kebutuhan anak bungsu ini bisa di atasi meskipun ayah sudah tidak bekerja lagi.

Tapi aku tetap bersikeras untuk mandiri diperantauan, Ramadan kali ini merupakan perjuangan yang luar biasa. Hari pertama dan kedua aku masih bisa menikmati daging yang di masak oleh kakakku. Hari berikutnya aku mulai berpikir harus makan apa esok sedangkan uangku  semakin menipis. Berhubung acara Leadership Training IPPEMINDRA aku pulang ke Indrapuri setiap sore selama 5 hari, paginya aku kembali ke kampus untuk mengikuti Final kuliah. Selama 5 hari itulah aku makan di lokasi training karena dipercayakan untuk menjadi instruktur lokal 3 di training tersebut. Kali ini sangat terasa menjalankan amanah dengan penuh semangat, bayangkan saja jam 6 pagi aku sudah kembali ke Banda Aceh dengan jaket yang tidak terlalu tebal sehingga aroma dingin sangat terasa menusuk tulang. Usai kuliah aku istirahat sebentar di asrama dan sorenya kembali ke training sampai magrib masih di jalan. Tidak hanya itu malamnya kuiisi training sampai menyelipkan waktu untuk bisa belajar karena esoknya juga final. Setiap masuk ruang selalu ada buku yang kupegang, saat breafing instruktur pun buku tak lepas dari mata. Mata yang semakin jula malam semakin lelah tapi tak ada kesempatan untuk tidur, jika ada hanya 2 jam saja. Kadang-kadang dua jam itu kugunakan untuk belajar agar IPK-ku bagus sehingga orang tua tidak kecewa dan pemerintah tidak sia-sia memberikan manfaat beasiswa kepadaku. Seringkali aku tertidur saat membaca sehingga buku menutupi wajah kusam yang sangat lelah itu. Sahur kadang juga tidak terjaga meskipun ratusan orang telah membanguniku, seperti itulah keadaan jika tubuhku lelah akan aktivitas.

Hari-hari berikutnya di samping kuliah dan training, aku juga harus menyempatkan waktu untuk bekerja,yaitu sebagai tukang ojek. Menjemput pelanggan di sana-sini dengan  uang yang tidak seberapa. Pernah karena aku tidak memiliki uang seribupun, kubulatkan tekad untuk mengambil penumpang dan saat itu tidak ada uang kembalian kepada penumpang sehingga secara cuma-cuma aku memberikan tumpangan gratis meski aku pulang dengan tangan kosong . jika founder Koala tahu mungkin aku akan dipecat karena tidak memiliki uang kembalikan kepada penumpang. Tapi semua kulakukan karena aku sangat membutuhkan uang agar bisa isi bensin untuk pulang ke training. Terpaksa aku berhutang kepada kawan asrama agar bisa pulang untuk menuntaskan amanah. Semakin hari di training semakin ada yang kukerjakan, seperti mengedit teks syarhil,menulis sejarah,cerpen dll. Semakin hari pula saat ku kembali ke kampus ada saja rapat yang harus ku ikuti entah itu rapat himpunan, BEM atau bahkan kegiatan Ramadhan Despro Aceh. Aku di amanahkan menjadi sekretaris Acara sehingga harus membuat surat undangan despro meski  di training. Aku juga menyempatkan waktu untuk mengabadikan moment despro karena aku merupakan pubdok acara despro tahun ini.

Saat malam terakhir tarining tidak ada waktu semenitpun untuk tidur, sehingga aku belum tuntas belajar padahal esoknya final mata kuliah bahasa daerah Aceh yang merupakan salah satu bahasa daerahku jika nilainya anjlok maka sangat malu. Pagi-pagi langsung kutancapkan gas kembali ke kampus dan mengambil daftar pertemuan akhir mahasiswa karena aku juga merupakan komisaris kelas, akan tetapi prodi tutup sehingga aku takut dimarahin dosen tapi akhirnya aku bicara baik baik dan dosen bisa memaklumi kesibukanku ini. Alhamdulillah semua soal final bisa kujawab meskipun dalam keadaan sangat mengantuk karena tidak tidur.

Berbicara tentang amanah, sebagai hamba Allah aku juga merasa Ramadanku juga harus lebih berkualitas jangan hanya mengejar dunia saja. Maka dari itu aku meluangkan waktu untuk beribadah, Salat Dhuha yang rutin,Tahajjud, Tarawih, Witir, membaca buku-buku Islami, dan tilawah dengan target 2 kali khatam. Ketika aku meluangkan waktu untuk Allah dan memberikan waktu luang untuk kebutuhan dunia Allah memberikan keringanan untuk beraktivitas dengan semangat yang luar biasa. Tetap saja di training ada program Tarawih, Tilawah, Witir, Dhuha dan Tahajjud sehingga ibadah lancar training pun terkendali. Setiap hari kuusahakan ibadahku lebih mantap meskipun aktivitas semakin padat, Istighfar, Salawat disela-sela waktu juga bernilai ibadah.

Allah adalah zat yang maha baik, selalu memberikan yang terbaik saat kehidupan kita sedang sangat sempit, dalam hal apapun terutama rezeki. Usai training, aku kembali ke asrama untuk melanjutkan peranku sebagai Etoser,  akan tetapi aku merasakan tekanan batin yang sangat luar biasa. Suatu hari aku hanya memiliki uang Rp 2000, aku berpikir dengan menu apa mengisi perut ini saat berbuka, baru teringat ada tiga butir telur di dapur asrama. Sore hari kawan-kawan sedang asik-asiknya masak menu yang sangat menggugah selera, aku hanya mencium aromanya dari lantai dua. Aku tetap tegar dengan tulisan-tulisanku, bercengkrama dengan laptob. Aku terus berfikir sambil menulis harus bagaimana jika esok tidak ada menu karena uang juga tidak ada. Tiba-tiba air mataku mengalir sekain sepersekian detik semakin deras diiringi huruf-huruf yang mengantri indah dalam laptob. Aku ingin kerja tapi minyak motor tidak ada, sedangkan ngojek harus punya minyak motor. Aku semakin menangis mengingat banyaknya kendala yang kuhadapi saat ini. Mulai dari tak ada menu untuk berbuka bahkan odol,sabun mandi,bedak dan kebutuhan lainnya juga ikut habis.

Aku merupakan pribadi yang tidak suka menyusahkan orang lain, apapun itu akan kulalui sendiri. Sesempit apapun aku hanya menceritakan kepada Allah. Jika memang sangat-sangat membutuhkan manusia aku hanya meminta hutang uang tapi tidak pernah berani meminta makanan saat berbuka, karena aku malu melihat orang makan enak sedangkan aku datang dengan tangan kosong meminta makanan mereka. Aku lalui masa-masa itu dengan segelas air putih, telor, dan pisang. Saat kutemui ibu di pasar ketika jualan, ibu dengan manisnya menanyakan “mau beli ikan apa biar dimasak?” aku tidak menyahut apa-apa. Aku Cuma membawa pulang sayur dan pisang dari lapak jualannya. Berulang kali ibu bertanya “mau ibu belikan apa untuk bukaan?” aku tetap tidak menjawab. Saat ibu bertanya “masih punya uang?” aku menjawabnya dengan senyuman “ masih kok bu, nanti disana beli ikan sendiri aja”. Aku menahan tangis beberapa jam saat bersama ibu,  melihat ia mengeluarkan dompet dan isinya hanya tujuh ribu rupiah tapi berusaha bertanya apa yang sedang kuinginkan. Aku merasa menjadi anak yang tidak bisa membahagiakannya, seharusnya aku bisa bertemu dengannya dan membawa buah tangan bukan kode untuk dibelikan sesuatu.

Ramadan yang penuh tantangan tetap kulalui diperantauan dengan air mata dan tersenyum setelahnya, syukur selalu terucap dari gemetarnya bibir ini saat menyantap makanan apa adanya tanpa orang tua. Makanan yang sesederhana meski air putih, telor dadar dan pisang sudah sangat nikmat dibandingkan orang lain yang tidak bisa makan berhari-hari. Allah selalu ada disaat hamba-Nya membutuhkan pertolongannya, dan aku juga berusaha nuntuk ngojek dan bisa berpenghasilan kembali.

Kisah ini kutulis sebagai wujud syukurku pada nikmat Allah yang memberiku ketegaran di dalam kesibukkan Ramadan. Aku hanya ingin menginspirasi orang lain bahwa betapa beruntungnya makanan mewah saat berbuka dan betapa beruntungnya orang-orang yang sibuk namun bisa meluangkan waktu untuk mempermantap ibadah kepada Allah Swt.

Komentar via Facebook
BAGIKAN