Sepenggal kisah dari Udayana

0
184

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Namaku Suci Raihani. Aku Etoser Medan angkatan 2015. Kali ini Aku mengikuti ajang lomba bergengsi bagi mahasiswa kedokteran yaitu Temu Ilmiah Nasional (TEMILNAS ) 2018 yang diadakan di Universitas Udayana, Bali. Acara ini diikuti oleh sekitar 50 tim dari berbagai universitas di Indonesia. Sebenarnya ini kali ketiga Aku mengikuti lomba karya tulis, namun ini yang pertama dalam bidang kedokteran sendiri. Sangat bersemangat mengikuti ajang ini, selain karena ini adalah TEMILNAS 2018, juga karena acaranya bertempat di Bali.

Kami dijemput di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar pada hari Kamis, 30 Agustus 2018. Lalu kami diantar menuju tempat beristirahat di salah satu hotel dekat dengan Universitas Udayana. Beristirahat setelah itu bersiap untuk menghadiri Opening Ceremony TEMILNAS 2018.

Rangkaian acara paling menegangkan adalah ketika pemaparan karya oleh para finalis. Bukan hanya semangat berkompetisi yang ditampilkan, namun juga rasa menghargai, saling menghormati, dan melemparkan pujian bagi peserta-peserta lain menjadi salah satu hal yang terasa hangat disana. Perwakilan masing-masing universitas memiliki karya yang begitu bagus dan pemaparan yang begitu baik pula. Hati Kami sedikit ciut karenanya. Namun, inilah yang namanya semangat berkompetisi, apapun yang terjadi kami yakinkan bahwa ini adalah usaha terbaik yang kami lakukan dan harus percaya diri. Kami tampil memaparkan karya kami lalu disambut dengan pertanyaan pertanyaan serta saran membangun yang dilemparkan dewan juri kepada kami dapat kami tanggapi dan terima dengan baik. Setelah memaparkan karya, kami merasa dada kami lapang, lepas sudah beban rasanya.

Perbedaan Bali dan kota-kota besar di Indonesia lainnya adalah kultur yang berbeda. Begitu banyaknya turis disertai dengan agama Islam yang minoritas membuat Bali tidak lagi terasa seperti Indonesia, setidaknya itulah yang Aku rasakan disana. Pernah suatu ketika Kami jalan-jalan ke salah satu pantai di Bali, Aku dan temanku hendak pergi mencari masjid. Di jalan, Kami bertemu dengan dua anak laki-laki, satunya berambut hitam (mungkin orang Indonesia tapi bisa saja blasteran Indonesia dan luar negeri) dan satunya lagi berambut pirang. Ketika Kami berpapasan, anak laki-laki berambut hitam menunjukku dan berkata, “Muslim” sontak Aku terkejut, Aku tidak tahu apa maksud dan tujuannya mengatakan seperti itu, namun seumur hidup baru pertama kali hal ini terjadi.

Ditambah lagi dengan sedikitnya masjid di Bali sehingga suara Adzan sulit sekali terdengar. Selama Aku disana hanya sekali Aku mendengar suara Adzan, itupun karena Aku berada di dalam masjid menunggu waktu sholat Isya tiba. Di kampus Udayana sendiri jangankan masjid di tiap jurusan atau fakultas bahkan di tingkat universitas pun tidak ada. Aku sangat salut dengan mahasiswa muslim yang mengerjakan sholat disana. Terlepas dari sholat adalah kewajiban bagi tiap muslim, namun coba bayangkan, masyarakat muslim di kota lainnya yang begitu banyak fasilitas masjid, yang suara adzannya bersahut-sahutan pun masih banyak yang melalaikan sholatnya. Sedangkan mereka, mahasiswa muslim di Universitas Udayana, masih menyempatkan waktu mereka untuk berjalan ke masjid yang tidak dekat dari kampusnya. Masyaa Allah, indahnya cahaya iman.

Harusnya kita bersyukur, tempat-tempat yang diridhoi Allah SWT dan dinaungi para malaikat begitu banyak disekitar kita, tinggal kita yang mendekat dan mendekapnya.

Yaaa, beginilah pengalaman Aku, Suci Raihani, mengikuti TEMILNAS 2018 bertempat di Universitas Udayana, Bali. Begitu banyak kisah dan hikmah yang dapat diambil dari perjalanku kali ini. Sekian.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Komentar via Facebook