Sistem Kepemimpinan yang Dirindukan

0
685

Oleh: Nabilah Amany

Manusia terbagai ke dalam kabilah-kabilah, umat, generasi, dan kaum, yang sangat jelas perbedaannya, seperti perbedaan antara manusia dengan hewan. Di antara orang merdeka dan budak, dan antara orang yang menyembah dan disembah. Tapi bukankah Allah memang menciptakan manusia dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal? (Al Hujarat : 13). Dan bukankah Allah juga telah mengutus Rasulullah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam? (Al Anbiya : 107). Bukan hanya untuk sebagian golongan.

Lihatlah perubahan dunia ini setelah diutusnya Nabi SAW. Manusia berpindah dari musim panas yang kering ke musim semi yang berbunga. Hati pun ikut bersemi dengan keuatam iman dan kasih sayang. Setiap tempat saat itu menjadi ramai oleh ortang-orang yang ikhlas, yang suka berjihad, suka berbuat kebaikan dan memeliharanya, serta selalu ingin lebih menganal Allah. Mereka yang bersedia mengorbankan jiwa dan diri mereka demi kebaikan manusia lainnya, hingga diirikan oleh para malaikat. Dunia di mana saat itu pekerjanya lebih mengutamakan kualitas di atas kuantitas, yang pemegang pemerintahan dan kekuatasaan akan menukar urusan dan merasakan tanggung jawab, berjaga pada malam hari dan mengeratkan hal-hal yang tercerai-berai. Lihatlah pula bagaimana masyarakat saat itu  dapat tertata harmonis dan taat kepada perintah peimpinnya. Dan sesungguhnya, perubahan besar nan indah itu merupakan bukti bahwa Beliau membawa angina rahmat Allah yang menentramkan bumi ini. Sungguh, betapa wajarnya ummat muslim yang merindukan perubahan itu. Memiliki sosok pemimpin yang shiddiq, tabligh, amanah, dan fathonah.

Lantas apa yang terjadi pada perdamaian di dunia saat ini? Israel dengan penduduknya yang kurang lebih hanya 4 juta jiwa mampu membombardir 9 negara muslim. Headline “Ramadhan RAID in Indonesia” masuk dalam media masaa tujuh negara kafir selama 3 hari berturu-turut. Dua ratus sepuluh juta ummat Islam di Indonesia tidak berdaya melawan pemerintahan ketika 2016 lalu ketika perda syariah dihapuskan.  Apakah ummat Islam betul-betul sudah kehilangan kekuatannya sama sekali? Apakah betul ummat Islam saat ini benar-benar sudah menjadi buih-buih di lautan yang mudah terombang-ambing? Maka lihatlah, apa yang sebetulnya salah dalam sistem kepemimpinan kita saat ini dibandingkan dengan masa kejayaan Islam di bawah kepemimpinan Rasul SAW, sahabat Rasul, tabi’in, tabi’in tabi’in, dan seterusnya.

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku ridhoi Islam sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3)

Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, telah meletakkan persoalan pemimpin dan kepemimpinan sebagai salah satu persoalan pokok dalam ajarannya mulai dari tugas seorang pemimpin, memilih seorang pemimpin, hingga akibat dari salahnya memilih pemimpin.  Sistem kepemimpinan yang diridai Allah SWT tentu  yang membawa kemaslahatan dan keselamatan manusia di dunia dan akhirat kelak.

Belajar dari keberanian Presiden Turki. Erdogan hadir memulihkan kehormatan agama dan umat Islam. Beliau adalah pemimpin Muslim satu-satunya yang tanpa segan mengatakan barang siapa yang   berpaling dari penderitaan saudaranya di Palestina, Afghanistan, Irak, Somalia dan negeri Islam lainnya, maka mereka sungguh telah berpaling dari ajaran Islam. Siapa yang menyangka bahwa statement ini lahir dari seorang pemimpin di negara yang secara konstitusional sekuler? Bukan dari negeri yang secara desain Islami seperti Arab Saudi, Mesir atau bahkan Pakistan? Persoalannya adalah, dimanakah ada suatu pemerintah yang menjadikan kondisi kemanusiaan di negara lain masuk dalam agenda kepentingan nasionalnya dan bahkan menjadi faktor utama dalam pemulihan hubungan atas bekas sekutu tradisionalnya?

Sistem kepemimpinan yang strategis tidak lain hanyalah berlandaskan Al Qur’an dan hadist, yangmana ketika dikatakan haram maka haram hukumnya. Sayyidina Umar R.A pernah berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa taat”. Kepemimpinan yang dipimpin oleh mereka yang memberi petunjuk, yang mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Allah mereka selalu menyembah, yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap diri mereka maupun bapak, ibu, dan kerabat mereka, dan mereka yang merekayang  menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

Pentingnya pemimpin dan kepemimpinan ini perlu dipahami dan dihayati oleh setiap umat Islam di negeri yang mayoritas warganya beragama Islam ini, meskipun Indonesia bukanlah negara Islam.

Komentar via Facebook
BAGIKAN