Strategi Kepemimpinan Mahasiswa: Polemik Aktif dan Apatis

0
709

Oleh: Anggun Nurus Sholikhah/PM BA 7 UNS

“Kepemimpinan bukan bagaimana mengatur orang lain untuk mengikuti kita, namun bagaimana, kita mengatur diri sendiri agar diikuti orang lain”- Nanang Qosim Y.

Kepemimpinan identik dengan sebuah aturan, baik aturan yang mengikat maupun tidak mengikat, aturan ini harus dibuat sedemikian rupa dan dikaji secara mendalam, karena aturan ini merupakan salah satu cara atau strategi pemimpin untuk mengatur para pengikutnya. Namun, sebelum pemimpin diikuti oleh orang lain, maka pemimpin harus menjadi dirinya sendiri, sehingga dapat diikuti oleh warganya dengan baik.

Kepemimpinan dan strategi sangat berhubungan sekali, tidak akan ada sebuah sikap kepemimpinan dan seorang pemimpin apabila tidak memiliki strategi yang tangkas dan baik untuk mengatur kehidupan warganya, tanpa strategi maka seorang pemimpin tersebut akan kehilangan arah, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Sehingga strategi kepemimpinan sangat diperlukan oleh seorang pemimpin. Artinya masing-masing insan  harus juga memilki strategi kepemimpinan yang baik, karena setiap manusia dilahirkan sebagai seorang pemimpin.

Strategi kepemimpinan merupakan suatu proses memberikan arahan dan inspirasi untuk membuat dan melaksanakan visi organisasi, misi, dan strategi untuk mencapai tujuan organisasi. Atau kemampuan seseorang untuk mengantisipasi, memimpikan, mempertahankan fleksibilitas, berpikir secara strategis, dan bekerja dengan orang lain untuk memulai perubahan yang akan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi organisasi. Strategi kepemimpinan ini dikaitkan dengan pemimpin yang baik. Pemimpin yang harus memiliki kredibilitas yang hebat, agar pemimpin mampu memberikan motivasi dan inspirasi kepada setiap orang yang dipimpinnya atau memberikan pengaruh baik ke dalam seseorang yang dipimpin dan ke luar. Harapannya agar setiap orang dalam setiap detik kehidupan mereka, selalu bangkit dengan semangat untuk perubahan yang baru. Pemimpin harus membuat setiap orang menyadari bahwa perubahan itu merupakan hal yang penting, untuk mengubah hal-hal yang lebih baik lagi dan mengevaluasi apa  kekurangan yang telah terjadi sebelumnya.

Selain itu, pemimpin juga harus peka terhadap sekitarnya, peka dan mengenali perubahan-perubahan penting sekitar, serta dapat menyatukan seluruh orang di organisasi tersebut. Pemimpin harus bisa membangkitkan semangat setiap anggotana dan harus mampu menyesuaikan diri dengan lebih cepat, serta bekerja keras untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik dari rencana yang ada. Pemimpin harus profesional dalam bertindak demi kemaslahatan umatnya. Ditambah lagi, pemimpin juga harus cerdas dalam bertindak, dan mampu secara kompetitif mengasah kemampuannya, sehingga pemimpin selalu terasah dan terlatih, harus mampu menjadi diri sendiri dan selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Pemimpin harus menggunakan pola pikir yang sederhana, jelas, tepat sasaran dan adil, agar anggota yang dipimpin tidak terjebak dalam cara berpikir yang rumit, dan mampu lebih terbuka terhadap persoalan yang dihadapinya. Pola pemikiran yang sederhana mampu mendekatkan pada solusi terbaik melalui logika dan akal sehat, yang dapat diukur kebenarannya. Dengan pemikiran yang sederhana tersebut maka tim akan lebih solid lagi dan mampu merumuskan serta menyelesaikan masalah yang terjadi atau sedang dihadapi dengan lebih behati-hati, cerdas dalam bertindak dan tetap mengutamakan nilai-nilai kebenaran yang berlaku.

Secara teoritis pemimpin harus memiliki strategi kepemimpinan yang tepat seperti diatas. Sekarang, dikaitkan dengan kepemimpinan yang terdapat di dalam kampus. Organisasi di kampus maupun di luar kampus banyak menghasilkan aktivis-aktivis kampus yang kepemimpinan serta strategi kepemimpinannya sudah tidak diragukan lagi. Banyaknya aktivis kampus dengan segudang pengalamannya membuat seorang aktivis dikenal dengan kata-kata orang sibuk di kalangan teman-teman sekampusnya. Hal ini tentu membanggakan, namun sayangnya, sebagian mahasiswa dengan julukan “Aktivis” itu kurang peka terhadap kegiatan akademik di dalam kelas dan lebih bersifat apatis, serta menggampangkan, banyak yang mengutarakan bahwa yang lebih penting adalah softskill bukan hardskill. Sedangkan kemampuan belajar di dalam kelas itu adalah kemampuan hardskill. Ada juga yang berbicara bahwa sebagai mahasiswa, IPK bukanlah hal penting, namun yang lebih penting adalah kemampuan bersosialisasi, kemampuan berkomunikasi, serta banyak relasi dan banyak pengalaman. Memang benar hal tersebut, namun Banyak mahasiswa aktivis terlalu menggampangkan tugas dari dosen, terlalu menggampangkan kerja kelompok bersama teman-teman, dan terlalu menggampangkan terhadap ujian akhir semester maupun kuis yang berlangsung di bangku perkuliahan. Hal ini sudah jauh dari harapan seorang pemimpin yang memiliki strategi kepemimpinan yang baik. Karena, sebelum aktivis memilih dirinya menjadi seorang aktivis, mahasiswa tersebut adalah mahasiswa biasa yang memiliki amanah dari kedua orang tua untuk belajar sungguh-sungguh ketika kuliah. Namun, amanah utama ini sering disalahgunakan, amanah utama yaitu kuliah sering digampangkan oleh mahasiswa aktivis, alhasil ketika di kelas si aktivis berubah menjadi seorang yang sangat apatis, bahkan teman-teman se kelasnya agak menjauh dari si mahasiswa aktivis karena mahasiswa ini sering tak mengerjakan tugas kelompok, bahkan terlalu asal-asalan dalam mengerjakan tugas kelompok. Alhasil bukanlah aktivis yang hebat melainkan menjadi seorang apatis ulung yang membebani teman-teman sekelompok dan sekelas akibat keacuhannya terhadap akademiknya.

Cuplikan fenomena yang terjadi di lingkungan kampus tersebut sudah banyak terjadi, ini sungguh tidak mencerminkan seorang pemimpin yang memiliki strategi kepemimpinan yang baik. Dari kehidupan sehari-hari tersebut tercermin bahwa aktivis kurang memiliki pemikiran yang terbuka, dan kurang amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Hal ini membuat tidak adanya kemampuan untuk memberikan pengaruh dan inspirasi kepada anggotanya yang dipimpin. Berdasarkan hal ini, menjadi seorang pemimpin harus mampu menyeimbangkan kehidupan softskill dan hardskill. Intinya mampu menyeimbangkan diri terhadap tanggung jawab utama seorang anak dan tanggung jawab menjadi seorang aktivis. Dengan begitu pengaruh dan inspirasi akan selalu dapat ditebarkan kepada anggota dan mampu memberikan perubahan yang luar biasa dalam kehidupan organisasi. Hal sederhana dan tidak muluk-muluk untuk menyeimbangkan antara organisasi dan prestasi akademik, apabila berjalan beriringan maka, semua strategi kepemimpinan akan dapat dilakukan oleh seorang pemimpin tersebut. Dan tentunya juga akan semakin membanggakan kedua orang tua.

Polemik antara aktivis dan apatis itu sepertinya sudah menjadi masalah klasik pada zaman dahulu, semoga tidak terulang kembali, karena nyatanya pada zaman sekarang, banyak aktivis yang berprestasi, bahkan semua penghargaan akademik dan non akademik diambil semua. Inilah harapan bangsa, yaitu seorang aktivis berprestasi dengan asahan kemampuan yang selalu terbaharui dan pemikiran terbuka, membuat strategi kepemimpinannya akan berjalan selaras, tepat dan tetap kompak dalam berjalan.

 

#SLT2017 #BAKTINUSA #KepemimpinanStrategis

Oeseli, Rote Ndao, 25 Agustus 2017

 

Komentar via Facebook
BAGIKAN